Press "Enter" to skip to content

Wall Of Fades Bandung: Rangkaian Tur dalam Meluaskan Filosofi Jeans

Pernahkah kamu melamun sebentar ketika mau lemparin celana jeans ke mesin cuci sampai-sampai bisa nyempetin buat sebats dulu? Takutnya kamu mau mikir dulu, aku jawab duluan aja ya. Aku pernah. Waktu itu tiba-tiba kepikiran, “ada nggak yah perkumpulan orang-orang yang rela berlama-lama bahas denim dari mulai kenapa jaitannya kuat atau kenapa kalau dipakai main futsal kerasa nggak nyaman?” Itu aku mikirnya agak lama, tapi akhirnya mah dimasukin aja karena harus cepet-cepet nyuci.

Kebetulan banget, helatan ekshibisi jeans tahunan bertajuk Wall Of Fades lagi digelar di Bandung, tepatnya di KeepKeep Musik, Jalan Kiputih No. 1A. Eh, kok Bandung?

Beneran. Wall Of Fades kali ini menyajikan sesuatu yang beda. Dari yang biasanya setahun sekali di Ibu Kota, di tahun 2019, helatan dengan taglineThe Biggest Denim Exhibition in Indonesia’ ini menggelar tur tiga kota; Yogyakarta (yang lebih dulu diadakan di tanggal 27-29 September 2019), Bandung, dan tentu saja Jakarta. Sebuah langkah positif dari kawan-kawan INDIGO (Indonesia Denim Group) dan media komunitas jeans darahkubiru, yang terus bergerak menyebarkan filosofi denim dan jeans ke khalayak ramai.

Mengangkat tema ‘A Raw Canvas‘, Wall Of Fades Bandung yang juga berkolaborasi bersama DCODE Indonesia dilaksanakan selama dua hari, yakni 16-17 November 2019. Ekshibisi padat muatan ini melibatkan banyak jenama lokal, ada Sagara Bootmaker, NBDN, Hijack sandals, PMP, Oldblue Co, Bluesville, unkl347, Portee Goods, Pattent Goods, LTHRKRFT, Blue Muscle Union, Blue States Denim, Humblezing, Blue Chamber, dan Lowo Goods. Kemarin, sih, aku muter-muter tandain jaket dan celana inceran, tapi saku belakang berkata lain. Nggak apa-apa soalnya banyak store yang baru aku tau dan seenggaknya jadi tau harus ngehubungin ke mana kalau mau beli. Ya, ini mah ‘kalau’…

Selain itu, Wall Of Fades Bandung juga menggaet komunitas regional seperti Ulin Bike, BBQ Ride, Jumat Blarrr, dan Piston Garage yang sempat rolling keliling Bandung sebelum ke venue. Kurang lebih denim enthusiast disuguhi ragam konten sharing berupa community hub, talkshow, dan workshop. Dan memang pada antusias juga, sih, soalnya kali pertama diadain di Bandung, yang mana di sini fashion terbilang beragam dan berkembang. Mulai dari Tamim, Trunojoyo, Pasjum, sampai Yogya Kepatihan, market-nya ada dan dikonsumsi berbagai kalangan.

Banyak di antara pengunjung yang datang berkelompok. Apakah mereka itu rombongan Museum Geologi yang tersesat? Jangan suudzon dong, ah! Ada yang bertransaksi, ada juga yang sekadar mengamati. Aku, sih, sendirian aja. Pakai setelan biru-biru. Da suganteh kudu dresscode biru huhuhu. Sing penting senang, terlebih Wall Of Fades berhasil memboyong kawanan Barakatak Musik ke kota ini, bergabung bersama musisi lokal Sir Dandy, Krowbar Sang iblis Leksikon, plus El-Karmoya untuk menghangatkan akhir pekan.

Akhirnya Wall Of Fades Bandung rampung, dan Grand Indonesia, Jakarta menjadi pemberhentian selanjutnya, 13-15 Desember 2019 nanti. Udah cukup, sih, buat aku mah. Dapet banget ilmunya. Kalau besok-besok ada temen kampus yang nanya perbedaan antara pre-washed dan distress, aku udah bisa jawab.