Press "Enter" to skip to content

Ugal-ugalan di “Konser Alam Raja”

Kalau ngomongin hujan teh emang rudet, tapi kalau ngutruk nanti disangka nggak bersyukur. Ya, sakumaha my lord aja deh. Hehe. Apalagi kalau misalnya hujan teh datengnya pas weekend, kayaknya murka duniawi langsung mencuat. Jelas, soalnya weekend kan nggak hanya dipake untuk semlehoy santai, tapi juga untuk refreshing pikiran dengan jalan-jalan keluar rumah. Contohnya, ke warung deket masjid.

Well, sama halnya kayak di Minggu malam (13/12) kemarin, hujannya turun deras banget, tapi kayaknya bakal beda ceritanya sama yang saya omongin, soalnya hari itu ada gelaran dari Liga Musik Nasional yang ke-8 dengan tajuk Konser Alam Raja yang bertempat di Auditorium IFI Jl. Purnawarman, Bandung. As always. Eh, kalem bosque, ini bukan konser Alam ‘Mbah Dukun’ atau Raja-nya Ian Kasela, tapi konser ini diisi sama dua band berbahaya yang berbeda genre, Rajasinga dan Navicula. Mantap bosfren! Yaudah deh, saya putuskan untuk letsgow kesana. Hehe.

Acaranya dimulai jam 7 malam, sob. Setelah saya huhujanan menerjang cipratan dari mobil yang nggak tau malu, akhirnya saya tiba di venue tepat pada waktunya. Cie, on time. Eh, kirain acaranya udah bakal mulai, ternyata ngaret euy. Yaudah, nggak apa-apa, lah, sekalian ngisi kekosongan waktu dengan ngarenghap, jalan-jalan liatin booth merchandise yang disedian, sambil kenalan sama kecengan baru, tapi boong. Hehe. Setengah jam berlalu, akhirnya acara dimulai, guys!

Konser Alam Raja langsung dihajar sama gegedung grindcore asal Bandung, Rajasinga. Segan wak! Walaupun udah ada di sekitar venue, tetep aja saya masuknya mah telat. Hahaha. Sebats dulu euy, biar enjoy. Setelah ngantri untuk dapet gelang sebagai tanda masuk, saya langsung masuk venue. Wih, hareudang, lho. Tanpa basa-basi, trio grindcore ini langsung menggerinda telinga penonton dengan tembang-tembang kedemenan baik dari album Pandora (2007) hingga RajagnaruK (2011) seperti Tujah, Balada Sumanto Part I, Invasi Rock N Roll Garasi, Killed by Rajasinga, Kokang Batang, Good Shit 4 Good Friends, Soundtrack Balap, Anak Haram Ibukota, Dilarang Berbisa, 99% THC 1% Skill, dan masih banyak lagi.

"Hajar lagi nih bim? Yoi, Morrg!"
“Hajar lagi nih bim? Yoi, Morrg!”

Nggak hanya itu, Rajasinga juga ngebawain beberapa materi anyarnya, salah satunya Stoned Magrib yang baru dirilis Jumat kemarin. Lalu mereka juga nge-cover lagu Lawan dari gegedug hardcore Bandung, yaitu Jeruji dengan versi mereka sendiri. Huhu mantap! Cuma itu doang? Nggak juragan. Di lagu Rajagnaruk, Rajasinga mengajak Andre Tiranda (Siksa Kubur) untuk unjuk gigi dengan mengisi lengkingan melodi gahar nan muruluk. Alhasil, duet maut pun terjadi disana. Pokoknya mah suasana di sana teh panas, ganas, dan beringas. Aksi-aksi seperti body surfing, moshing, bahkan sing a long ‘pecah’ di antara penonton, berbanding terbalik sama suasana di kota santrinya Anang dan Krisdayanti. Iya atuh jelas.

Setelah Rajasinga beres, Navicula nggak langsung main, mereka harus siap-siap dulu. Kayaknya mah olahraga heula. Teu ketang. Kata mang Amenkcoy sebagai moderator dari acara, kita dikasih waktu 15 menit untuk nunggu sebelum Navicula naik ke panggung. Yaudah lah, saya dan penonton lainnya keluar venue dulu untuk sekedar beli minum dulu sekalian sebats (lagi). Hehe. 15 menit berlalu, penonton diajakin masuk karena Navicula udah siap untuk pentas.

Well, makin malam, makin rame. Iya, lah, selain mau nonton Rajasinga, banyak juga orang-orang yang baru nonton Navicula pertama kali, termasuk saya. Namun, seketika saya bingung, “kok gitarisnya bule, sih? Dankie kemana?” lebay, yah. Hahaha. Ternyata Dankie berhalangan hadir dan digantiin sama si bule yang punya nama Edward Endrus. Hehe. Walaupun Dankie berhalangan hadir, tapi penonton tetep menikmati aksi panggung dari mereka.

Lah, ada apa tuh diatas? Hey, angkat tangan semuanya. Itung mundur dari 1000.
Lah, ada apa tuh diatas? Hey, angkat tangan semuanya. Itung mundur dari 1000.

Tanpa tedeng aling, Navicula langsung ugal-ugalan dengan membawakan banyak lagu, di mana lagunya itu identik dengan kritisnya barudak Navicula terhadap politik dan hukum. Mantap jiwa, Bli! Hehehe. Bubur Kayu, Orangutan, Mafia Hukum, dan Metropolutan yang berhasil dibawakan dengan sadis. Selain itu, Navicula juga ngasih kamu waktu untuk tarik nafas dengan selingan akustik pada lagu Di Rimba yang dibawain oleh Gede Robi sang vokalis secara personal. Alhasil, riuhnya penonton seketika tenggelam bersama petikan gitar yang syahdu.

Kayaknya, sih, Navicula juga nggak mau kalah sama Rajasinga. Mereka juga mengajak seorang penulis bule yang lagi nulis mengenai skena musik indie Indonesia, Joe Jasson untuk duet. Wuhuuu mantap. Walaupun keliatan udah berumur, tapi jiwa mah tetep muda siah dia teh. Mereka juga sempet nge-cover lagu milik Pearl Jam yang bertajuk Alive. Hehehe berasa balik lagi ke jaman 90-an gitu deh.

Seperti biasanya, di akhir acara, penonton mengumandangkan “wi wa wo wi wa wo”. Yaudah deh, karena Navicula baik hati, mereka bersedia menutup acara Konser Alam Raja dengan lagu Televishit. Huhuhu seneng. Sebenarnya, sih, saya agak sedikit kecewa, karena lagu kedemanan saya Days of War Nights of Love dan Tomcat nggak dibawain, tapi yaudah, lah, nggak apa-apa. Segitu juga uyuhan. Hehehe. Makasih, ya, Bli.

Segitu aja ah ceritanya, udah banyak teuing. Nyesel ya nggak dateng? Mangga mamam. Bakal nyesel saminggueun atau seumur hidup, lah. Hahahaha. Sampai jumpa di gelaran Liga Musik Nasional berikutnya, ya. Daaah~

Foto : Fadli Mulyadi

Be First to Comment

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *