Press "Enter" to skip to content

“Trivia Club Conference at Street Stage”, Diskusi Historis tentang Ekspresi lewat Seni

House The House selama ini terkenal dengan salah satu misinya yaitu untuk mengaktivasi ruang publik. Setelah berhasil menggelar Keuken dan Musca, kali ini HTH menggelar Street Stage 2016 dalam rangka mencoba mengaktivasi ruang publik melalui bidang seni dan desain. Nih, baca liputan selengkapnya di sini.

Nah, di Street Stage itu selain ada pameran karya, live painting, dan instalasi audio visual, digelar juga Trivia Club. Salah satu agenda rutin yang berbentuk sebuah diskusi menarik tentang berbagai topik yang sedang hangat diperbincangkan. Pada dua hari pertama gelaran Street Stage, yaitu Sabtu (7/5) dan Minggu (8/5), digelar juga Trivia Club dengan bejibun narasumber.

Pada hari pertamanya, digelar dua sesi diskusi, yang pertama adalah diskusi mengenai Hubungan Kota dengan Estetika dan Gaya Visual yang diisi oleh Amenkcoy, Yudhi (The Yellow Dino), Suiko (street artist Jepang), dan Katun (street artist Malaysia). Keempat narasumber bercerita tentang bagaimana proses berkarya mereka, hal-hal yang mempengaruhi karya mereka, bahkan pengalaman-pengalaman lucu yang mereka alami ketika bombing pada suatu tempat.

IMG_3567

Setelah rehat sejenak, sesi kedua kemudian dimulai. Pada kali ini, hal yang akan dibahas adalah mengenai Dinamika Multimedia dalam Praktik Berkesenian. Kali ini yang berkesempatan menjadi narasumber adalah Tromarama, Adi Panuntun dari Sembilan Matahari, dan Fluxcup. Iya, Fluxcup yang coklat itu. Coklat. Siany*ng, coklat~ Mereka berbicara soal pengaruh teknologi sebagai media berkarya. Mulai dari Tromarama dengan stopmotion-nya, Sembilan Matahari yang terkenal dengan video mapping, dan Fluxcup yang dengan-seenaknya-tapi-lucu men-dubbing video yang sedang viral untuk merayakan kebanalan media.

Nggak seperti sesi pertama, kali ini ada beberapa penonton yang mengajukan pertanyaan, sehingga diskusi berjalan lebih menarik. Satu hal menarik adalah ketika Adi Panuntun mengungkapkan salah satu alasan di balik kegiatan “membakar” Gedung Sate yang ternyata berhubungan dengan faktor pemicu kebebasan berekspresi.

“Daripada kita bikin spanduk (demo) di depan Gedung Sate dan nggak didenger, yaudah weh Gedung Sate-na dibakar sakalian,” ujar founder Sembilan Matahari itu menceritakan tentang proyek Blending The Boundaries.

IMG_3633

Setelah saya ikut dua sesi Trivia Club tersebut, pengetahuan saya jadi bertambah soal bagaimana struggle-nya para street artist ketika mau gambar di suatu tempat, dan juga bagaimana kita harus pandai beradaptasi dan berinovasi ketika akan berkarya. Karena mengutip perkataan Adi Panuntun, “adapt and innovate, or die”.

Terima kasih HTH karena udah bikin acara diskusi dengan tema menarik, ditunggu pisan Trivia Club edisi selanjutnya!

Foto: Ayub S. Kahfi

Comments are closed.