Press "Enter" to skip to content

“The Nekrophone Traces” Bukan Sekadar Pameran Belaka

Kalau nggak salah, sekitar di tahun 2006 lah, saya masih sempet liat Aa-aa pake kaos Homicide di daerah Palaguna. Hih, ngora. Dari situ jadi nyari tahu soal Homicide, sampai akhirnya mendapat kabar bahwa mereka bubar di tahun 2007. Sad. Jadi, setelah sekian lama bubar dan sempat “hidup” dengan beberapa kali merilis ulang album serta merchandise, kini s.14 kembali berusaha kembali menghidupkan semangat Homicide lewat pameran retrospektif, The Nekrophone Traces: Arsip, Manuskrip dan Dokumentasi Homicide.

Menurut siaran pers, di pameran kali ini, s.14 atas kurasi Aminudin TH Siregar, berusaha menampilkan kronik perjalanan Homicide sebagai grup hiphop asal Kota Bandung yang kental dengan lirik-lirik kritis tentang perubahan sosial, kejahatan dan penindasan terhadap kemanusiaan, anti kapitalisme, dan sorotan-sorotan yang tajam akan bahaya neoliberalisme dalam ekonomi global hari ini. Jangan mikir berat-berat dulu, warga kreatif. Tenang aja, semua akan dikemas dengan santai kok.

Dilihat dari peta musik, posisi Homicide memang memperkaya khazanah “musik alternatif” Indonesia khususnya mereka yang menyimpang dari musik arus utama (mainstream). Dewasa ini komitmen seorang musisi atau grup musik untuk mendorong terjadinya perubahan sosial semakin langka. Satu di antaranya adalah Homicide. Meskipun sudah lama bubar, tapi s.14 artspace and library menilai bahwa riwayat dan reputasi Homicide layak dikaji sebagai sumber penelitian dalam ranah kebudayaan di tanah air. Edan kitu.

Tapi memang, sih, kalau dibandingin sama musik-musik mainstream, lirik-lirik Homicide nggak hanya agitatif, tapi juga dikenal memiliki kekuatan diskursif sehingga memerlukan kecermatan tersendiri bagi para penggemarnya untuk bereaksi atau sekadar mengerti. Ngerti? Saya juga nyoba buka KBBI lagi. Hampura.

Untuk mengiringi dan melengkapi cara kita memahami pameran ini, s.14 bakalan menggelar diskusi dengan tema Musik dan Perubahan Sosial dengan nara sumber-nya adalah Homicide (Ucok, Aszi, Iwan), Taufiqrahman, Lingga Agung dan Indra Hikmawan a.k.a Papap. Dengan memperlihatkan koleksi poster, foto, video musik, manuskrip lirik, CD, kaos, vynil, dan cinderamata, pameran ini mengajak kita melihat kembali cuplikan kontinuitas dan diskontinuitas sejarah grup ini di dalam peta perkembangan musik Kota Bandung.

Ini pameran bukan pameran biasa, nggak cuma ngobrol-ngobrol aja atuh, ternyata bakal juga digelar sebuah workshop untuk pelajar bersama Ucok Homicide dan Jay – seorang beatmaker-nya Eyefeelsix, untuk memberikan pengenalan dasar mengonstruksi musik hiphop dengan metoda sampling. Tuh, sok atuh, kapan lagi belajar langsung dari gegedug Hiphop Bandung. Heu.

Dalam rangkaian ini pula, tim s.14 akan memberikan pengenalan dasar musik hiphop melalui gerak, kreasi dan terakhir, akan ada pemutaran film sejarah musik hiphop yang diseleksi sendiri oleh Ucok Homicide.

Kegiatan pameran ini berlangsung dari 31 Mei sampai 30 Juni 2016. Buat kamu yang memang tiada kegiatan, bisa banget mampir ke s.14, selain bisa tahu ini-itu soal Homicide dan skena musik Hiphop di Bandung, lumayan lah itung-itung sambil ngabuburit. Tapi, ta’jil-nya bawa sendiri, omat!

__________________________________

Facebook: Ruang Depan

Twitter: @sosiologi14

Instagram: instagram.com/sosiologi14

Website: s14artspacelibrary.com

Comments are closed.