Press "Enter" to skip to content

The Martian (2015): “Penebusan Dosa” Ridley Scott (Part 2)

Udah baca bagian pertama dari ulasan The Martian? Baca dulu Part 1-nya di sini.

The Martian versi layar lebar merupakan adaptasi dari novel karya Andy Weir pada tahun 2011. Andy Weir yang memiliki latar belakang ilmu komputer menulis buku ini sejak 2009. Demi penulisan buku ini, ia melakukan segala riset yang berhubungan dengan astronomi, cara kerja orbit, dan sejarah penerbangan luar angkasa berawak. Buku ini juga masuk ke dalam daftar New York Times Best Seller pada 2014.

Pada dasarnya, The Martian menceritakan alur yang “lumayan” standar, nggak ada twist, cliffhanger, atau konsep teka-teki level Nolan. Efek digital yang ditampilkan pun nggak berlebihan, karena nampaknya memang bukan itu yang ingin ditonjolkan sang sutradara. Lalu apa yang membuat film ini begitu dicintai banyak pihak, termasuk NASA?

Selama bertahun-tahun, sudah banyak sutradara yang berusaha membuat otak kita berputar ratusan derajat ketika menonton film luar angkasa. Ketika film lain menitik beratkan inti cerita pada misteri alam semesta, Ridley Scott mengambil langkah yang lebih ringan. Ia hanya perlu mengomposisikan drama, humor, dan ketegangan dalam takaran yang pas untuk merebut hati moviegoers.

Matt Damon memerankan astronaut Amerika bernama Mark Watney yang, sialnya, harus tertinggal di Planet Mars sendirian, akibat ekspedisi yang berubah menjadi bencana. Ketika kru lain berhasil lolos dan sedang dalam perjalanan pulang ke Bumi, dan NASA mengumumkan kepada seluruh dunia bahwa ia telah tewas, mereka mendapatkan kabar bahwa Mark ternyata masih hidup.

Menurut perhitungan Mark, ia harus bertahan hidup kurang lebih empat tahun di Mars sebelum proyek ekspedisi selanjutnya mendarat. Untungnya, dalam usaha bertahan hidup di Mars, Mark yang merupakan seorang ahli botani berhasil menemukan cara bercocok tanam di planet merah tersebut.

Di Bumi, NASA yang dengan segala teknologinya bisa berkomunikasi dengan Mark, memutuskan untuk mengirim bantuan suplai makanan dengan roket canggih tanpa pilot. Namun, di tengah semua proses itu kesialan kembali terjadi. Hingga pada akhirnya, kemungkinan Mark bisa selamat pun kembali diperhitungkan, bahkan menipis.

Selayaknya film fiksi-ilmiah, The Martian juga menyisipkan berbagai teori pintar nan seru. Tapi lebih dari itu, Ridley Scott berusaha memperlihatkan bagaimana positivisme seorang manusia, walaupun ia sedang terdampar di planet lain. Alih-alih menjadi film untuk “kutu buku” yang sesak dengan teori, The Martian lebih cocok menjadi film motivasi-heroik.

Mungkin sebagian pihak menganggap ini bukan film terbaik Ridley Scott, atau bukan film fiksi-ilmiah yang akurat, karena memang bukan itu poinnya. The Martian memperlihatkan bahwa kisah luar angkasa nggak melulu perihal ruang hampa udara, anti gravitasi, atau lubang hitam yang bisa menghubungkan manusia dengan dunia empat dimensi. Kisah luar angkasa juga bisa berisi drama dan humor yang “mengasyikkan” untuk ditonton selama 2 jam 20 menit.

Dari penjabaran data dan resensi di atas, sepertinya boleh jika saya menahbiskan The Martian sebagai “penebusan dosa” yang sepadan bagi Ridley Scott. Bisa jadi lewat The Martian kita bisa melihat ia kembali bersaing di Academy Award tahun depan. Sekadar info, tahun depan ia juga akan kembali merilis film fiksi-ilmiah berjudul Alien: Paradise Lost (sekuel Promotheus).

Nah, bagi warga kreatif yang sedang gamang memilih antara The Martian, The Walk dan Pan, kami rekomendasikan film ini terlebih dahulu. Selamat menonton!

 

Sutradara: Ridley Scott

Pemeran: Matt Damon, Jeff Daniels, Jessica Chastain, Michael Peña

Durasi: 2 Jam 22 Menit

Distributor: 20th Century Fox

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *