Press "Enter" to skip to content

The Interview (2014): “Bringing North Korea Into a Melting Pot of Popular Culture”

Oke, untuk kali ini, judul review-nya sengaja saya kasih Bahasa Inggris. Kenapa ? Karena sulit sekali menerjemahkan judul itu ke Bahasa Indonesia. Feel nya nggak dapet, euy. Kalau yang udah pernah belajar tentang ilmu budaya, pasti pernah denger lah istilah melting pot, sebuah frasa yang menggambarkan bagaimana budaya-budaya imigran di Amerika Serikat bercampur, berbaur menjadi satu di dalam sebuah melting pot yang membentuk Budaya Amerika Serikat. Ingat, budaya Amerika Serikat sendiri itu nggak ada, karena orang aslinya adalah suku Indian, jadi, apa yang kita lihat tentang Amerika, McDonalds, fesyen, film, dan lain-lain, adalah percampuran yang terjadi secara progresif di dalam kehidupan orang Amerika.

Oke, segitu aja cuap-cuap tentang teori budayanya. Udah usang sih, tapi yah, yang saya ambil penggambarannya aja kok. Dalam film ini, melting pot yang muncul adalah berasal dari budaya populer. Lord of the Ring, Katy Perry, Eminem, Night Talkshow, aksen Inggris orang Asia yang terdengar bodoh,  daaaann masih banyak lagi. Mungkin agak sedikit mengingatkan kita dengan film Scary Movie lawas. Nah, ketika unsur-unsur yang sudah disebut tadi, ditambah Stock Character ala Ivan the Fool dan Youngest Son, (coba cari di wikipedia geura), dimasuki oleh gundukan tanah besar bernama Korea Utara. Kebayang nggak? Tanah,  dimasukin ke air mendidih, ngabelekbek, terus jadi enyoy-enyoy gitu. Nah, kurang lebih kayak gitu lah film ini teh. Air mendidihnya budaya populer, tanahnya si Korea Utara.

Ceritanya sendiri tentang seorang bintang acara bincang-bincang malam (ala-ala the Tonight Show With Jimmy Fallon gitu), David Skylark (James Franco), serta produsernya Aaron Rapoport (Seth Rogen) yang berencana untuk mewawancara Kim Jong Un (Randall Park) sebagai bintang tamu mereka. Loh, kok bisa? Ternyata, Kim Jong Un adalah penggemar berat acara Skylark Tonight, dan setelah mereka iseng mencoba untuk melobi Kim Jong Un untuk menjadi bintang tamu istimewa, ternyata Kim Jong Un mau! Dengan syarat pertanyaan-pertanyaan yang diajukan adalah apa yang Kim Jong Un dan timnya buat. Ternyata rencana ini tercium oleh CIA Ini membuat Skylark serta Rapoport sendiri dititipi oleh CIA untuk membunuh Kim Jong Un, karena mereka dapat dengan mudah berada di dalam satu ruangan, close and personal dengannya. Alasannya sederhana dan Amerika banget: Kim Jong Un terlalu berbahaya untuk memiliki senjata nuklir yang bisa membom Amerika dari jauh. Terdengar seperti film mata-mata biasa ya? Oh tidak.

Yang membuat film ini menarik adalah, bagaimana Skylark dihadapkan dengan sosok Kim Jong Un serta Korea Utara yang sama sekali berbeda dengan sosok-sosok yang selalu ia dengar dari media. Ia memiliki keraguan untuk membunuh Kim Jong Un, karena baginya, Kim Jong Un tidak pantas untuk dibunuh. Lantas, bagaimana? Yah, tugas saya adalah untuk me-review, bukan spoiler, maka dari itu, silahkan saksikan filmnya sendiri okeh!

Nah, yang seru dan bisa disoroti di sini adalah, sosok Skylark yang digambarkan sebagai seorang Yankee yang sok tahu, yang merasa bahwa media itu semuanya salah, dan hanya ia yang bisa melihat realitas. Ini adalah gambaran dari masyarakat yang sekarang seringkali percaya dengan info non-mainstream yang mereka anggap benar. Ambil contoh misalnya info-info anonim yang nggak jelas. Banyak kan tuh, yang percaya, terus ngerasa jadi intel?

Lalu, ada juga sosok Kim Jong Un yang digambarkan ‘dekat’ dengan budaya-budaya populer ‘barat’ –ugh, sebenarnya saya tidak mau menggunakan konsep ‘barat’-‘timur’, tapi ya sudahlah- yang memang ada benarnya. Digambarkan ia suka bermain basket, ini berkaitan dengan kunjungan Dennis Rodman ke Korea Utara untuk ‘menghibur’ Kim Jong Un dengan kemampuan basketnya. Ya, Kim Jong Un adalah penggemar basket, meski ia dan para personil negaranya selalu menjelek-jelekan Amerika. Sosok Kim Jong Un ini adalah sosok yang seringkali dicoba dikuak oleh media-media Amerika, namun, karena ketertutupannya Korea Utara, masih sulit untuk membongkarnya secara blak-blakan.

Korea Utara juga di sini digambarkan sebagai negara yang sangat bertopeng. Ketika ada orang asing datang, maka negara itu diset sedemikian rupa agar terlihat hanya yang indah-indahnya saja, padahal data statistik (yang sebenarnya saya juga nggak tahu ini sumbernya dari mana) menyatakan bahwa di Korea Utara masih banyak warganya yang kelaparan. Mungkin kalau kamu-kamu rajin ngecek video-videonya VICE di youtube, bisa lihat petualangannya Shane Smith di Korea Utara, mirip-mirip gitu lah!

Poin terakhir yang paling penting, yang membuat film ini menjadi sangat-sangat kontroversial adalah, bumbu politik. Tentu saja. Melting Pot yang dibumbui racikan politik tentunya akan berasa politik juga. Tapi kalau mau diingat, saya pernah baca tentang definisi budaya populer sebagai budaya berideologi. Cocok lah yah?  Begitulah film ini. Kalau kamu orang Korea Utara dan menganggap Kim Jong Un sebagai Tuhan, maka ketika menonton ini kamu akan dibilang gila, atau mungkin kamu dibilang ateis lah, nggak percaya Tuhan. Kalau kamu orang Korea Utara, kamu pejabat, punya kepentingan, maka ketika menonton ini, kamu akan berpikir bahwa film ini sangatlah berbahaya, karena film ini dapat membuka pemikiran orang-orang Korea Utara yang selama ini akses terhadap informasinya sangat-sangat dibatasi.

Secara keseluruhan ini adalah film yang sangat menarik, dihiasi humor-humor yang renyah, jorok, sadis, sangat-sangat mengingatkan saya pada franchise Scary Movie yang dulu sempat meramaikan jagat perfilman dunia. Namun di sisi lain, film ini juga membawa pesan politik yang cukup berat. Mungkin memang penting orang Korea Utara tahu kondisi mereka yang sebenarnya. Mungkin. Tapi, mengutip om-om dari the Beatles “Living is easy with eyes closed, misunderstanding all you see…” mungkin manusia bisa lebih bahagia ketika mereka buta akan dirinya sendiri? Atau, “katakanlah kenyataan walaupun itu pahit?” Entahlah, dua-duanya terdengar keren.

________________________________________________________________

Sutradara : Seth Rogen, Evan Goldberg

Penulis : Seth Rogen, Evan Goldberg, Dan Sterling

Durasi : 112 Menit

Genre : Komedi

Pemeran : Seth Rogen, James Franco, Lizzy Caplan, Randall Park

Be First to Comment

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *