Press "Enter" to skip to content

The Fox and The Thieves: Meluapkan Kemarahan dalam Kesantunan

Malam itu, Jumat (16/1), aku berjalan menuju basecamp salah satu band yang sedang banyak diperbincangkan saat ini di wilayah Bandung Raya. Takut diculik, nih, soalnya kan mereka lelaki semua. Hmm. Tapi nggak demikian, karena aku mah ini lagi mau interview The Fox and The Thieves. Mereka anaknya asik pisan, jadi tenang aja nggak galak da, dan nggak akan nyulik, beneran. Disambut dengan tawa dan sembari menunggu yang lainnya kumpul, kami ngobrol-ngobrol hal yang lain-lain dulu, untunglah udah ce’es.

Band ini berawal dari sebuah pertemanan, para personilnya berkuliah di salah satu kampus swasta di Bandung, dengan intensnya kebersamaan dan kesamaan visi dalam membangun sebuah band, maka terbentuklah The Fox and The Thieves. Band ini terdiri dari 6 personil, yaitu Agus (vokal), Krishna (gitar), Bonky (gitar), Al (bass), Aldo (synth) dan Adri (drum).

Di akhir tahun 2014, mereka udah manggung di mana-mana. Dua single mereka yang berjudul Foxes dan Manipulators March sukses membawa band ini merasuki alam bawah sadar para pendengar dari berbagai kalangan. Infonya juga, nih, mereka akan segera mengeluarkan EP. Kapan? Santai, baca sampai beres.

Nah, untuk tau lebih jelas lagi obrolannya, simak interview singkat selama 26 menit 46 detik bersama The Fox and The Thieves (TFTT).

suasana interview di rumah rubah
Suasana interview di rumah rubah.

Udah siap ya semua?

TFTT : Iya siaapp!

Begini ya, diriku merasa bingung dengan nama band kalian, The Fox and The Thieves, rubah dan pencuri, kenapa dikasih nama begitu?

Krishna: Sebenernya bukan pencuri, sih, tapi maling.

Adri: Lebih nggak sopan, sih.

Hmmmm, yang mencetuskan namanya siapa?

TFTT: Agus!

Agus: Bukan, bukan.. Semua.

Jadi, awal munculnya nama ini karena apa? Dan filosofinya sendiri apa?

Adri: Intinya mah biar punya nama band aja dulu, sih.

Krishna: Itu, sih, yang paling bener. Kalau filosofinya sendiri, rubah itu kan punya sifat pencuri, bersembunyi, sedangkan manusia pun sama. Jadi, ini adalah dua hal yang sama namun dengan sudut pandang yang berbeda.

Agus: Binatang itu kan melambangkan keburukan, sedangkan manusia itu melambangkan kebaikan, nah itu, tuh, melambangkan keseimbangan gitu, nggak akan ada baik kalau nggak ada buruk.

Pandangan media tentang musik kalian kan udah mulai bermunculan, nih. Ada yang bilang musiknya nyaman, ada juga yang bilang sopan tapi menggebu, tanggapan kalian gimana?

Krishna: Kita emang sopan, kalau dipake nyaman.

Adri: Kayak kolor, lah, kalau dipake nyaman.

Krishna: Kalau dilepas menggebu hahahaha.

Adri: Mungkin yang media tangkap emang gitu kali, soalnya kita nggak mencoba untuk seperti itu.

Krishna: Ya, kita apa adanya, lah.

dfs
Waktu manggung di bawah fly over.

Referensi musik kalian ini dari mana aja sih dan seberapa besar pengaruhnya untuk musik kalian? soalnya kalo di denger-denger teh berasa nano-nano gitu, coba dijelaskan yah.

Agus: Untuk referensi musik, kami semua dari telinga yang berbeda. Namun, Black Sabbath & Led Zeepelin jadi playlist yang paling sering kami diskusikan. Musik kami sendiri muncul bukan suatu rencana untuk berlari ke arah mereka, melainkan semua ini hasil dari kebebasan bersama dalam berkarya. Intinya, kami mencoba menuangkan sebebas mungkin dan seindah mungkin inspirasi bawah sadar kami yang kemudian disatukan menjadi identitas band ini.

Bonky: Aku pribadi, sih, The Datsuns, Four Year Strong, Black Sabbath, ACDC, Priestess dan masih banyak lagi. Pengaruhnya besar banget, bukan cuma sound sama aransemen dari band-band itu aja yang jadi referensi, tapi gimana ngebangun satu lagu sama dengan ngebangun keintiman dalam band ini. Anjee..

Krishna: Kalau musik paling kuat dari Black Sabbath, Led Zeppelin, Graveyard, Thin Lizzy. Nah, jadi referensi yang berbeda dari setiap personil itu yang bikin aransemen band ini jadi campur aduk. Bisa dibilang, referensi yang berbeda itu jadi ciri khas kita.

Al: Kalau urang reference musik dari Led Zeppelin, The Beatles, Black Sabbath, sama komposisi musik dari Tielman Brothers. Pengaruh mereka besar banget, mereka termasuk pencetus adanya genre musik di dunia.

Krishna: Background musik masing-masing juga beda. Bonky awalnya post hardcore, urang dari punk melodic, Al dari The Beatles, Aldo dari power pop, Adri dari militer, dan Agus dari kebon kopi.

Denger-denger, nih, katanya mau ngeluarin EP, kapan, sih? Kasih bocoran kali sama kita-kita!

Agus: Hmmmm .. kapan-kapan hehehe.

Adri: Target, sih, Februari, tapi dengan segala kekurangan yang ada dan kendala..

Krishna: Jadi, awalnya tuh kan mau Januari, proses rekaman juga udah mulai dari November. Tapi kan selain ngeluarin EP ini kita juga kan mengeluarkan artworks juga untuk tiap single yang ada di EP, pengerjaannya jadi nggak bisa terburu-buru.

Mini album ini akan bercerita tentang apa aja, sih?

Agus: Tentang masalah yang kita lihat di sekitar kita yang nggak bisa disampaikan melalui orasi. Contohnya, Foxes itu untuk kerabat-kerabat kami, satu tanda bagaimana kami dan kalian ingin benar-benar menjadi satu. Kemudian kita juga menuangkan kemarahan di Manipulator March, kemarahan ini sebenarnya lebih ditujukan kepada kami sendiri. Karena sampai saat ini, saya khususnya belum bisa meneruskan sesuatu yang benar-benar besar atas apa yang negeri ini telah ciptakan, revolusi. Saya terjebak dalam manipulasi media, manipulasi sejarah, manipulasi dunia, manipulasi Indonesia, bahkan mungkin agama. Saya terjebak dalam kesombongan merasa mengetahui apa yang sedang terjadi, dan selalu terjebak. Kemarahan ini adalah kemarahan orang-orang yang tak tau apa-apa, karena marah itu bodoh maka memang kami ini adalah bodoh.

Bonky: Ada juga salah satu lagu kita yang judulnya Out of Blood (single The Fox and The Thieves yang belum dirilis, RED), lagu ini ditujukan untuk saudara kita Alm. Baher, tapi lebih memperlihatkan perjuangan dalam kesekaratan badan atau bumi yang sudah mulai remuk redam.

Agus: Selain itu, lagu yang lainnya adalah Deep Space Alligator (single The Fox and The Thieves yang belum dirilis, RED). Coba ketika nanti atau saat ini kamu dan orang lain mendengarkannya ada ayunan riff dan tabuhan drum yg akan mengiring kepada ‘menikmati’. Kami ingin sadar ketika kami menikmati sesuatu, bahwa ada peristiwa penting yang harus kami pelajari selain hanya ‘menikmati’ sesuatu itu.

Sepertinya lagu-lagu yang ada di EP ini patut ditunggu ya, amarah akan segala macam manipulasi, kesekaratan bumi! Wuh makin penasaran nih, ditambah lagi setiap beli EP-nya ntar dapet artworks, semacam nilai plus ya, kan nggak banyak juga band yang kayak begini.

Krishna: Soalnya kita nggak mau orang dapet mini album kita tapi cuma dengerin lagunya aja. Sekaligus juga untuk mengurangi pembajakan ya, kan tiap beli selalu dapet lebih.

Adri: Selain di EP, kita juga selalu membagikan artworks setiap tampil. Kami mengusahakan ini menjadi signature The Fox and The Thieves. Pokoknya kalau kita manggung,tuh, ada yang ditinggalin untuk penonton.

Agus: EP ini kami harap jadi hiburan yang bisa menyampaikan semangat kami, sebenarnya saya tidak ingin kami terburu-buru hanya untuk memenuhi kepuasaan, apapun! Karena saya ingin setidaknya karya kami menjadi buah yang matang di pohonnya. Walaupun tidak menjadi buah yang terbaik diantara pohon yang lain.

Juara euy! Berarti, emang bener-bener patut diwaspadai nih pergerakan kalian, bisa merajalela ke mana-mana kayaknya. Hmmmmm.

Krishna: Jangan waspadai kita, bersatulah menjadi comrade! Hahaha.

Bonky: Jangan diwaspadai, lah, kita, tapi lebih diayomi aja hahaha.

Aldo: Hahaha jangan diwaspadai, da kita semua sama.

Agus: Semestinya tidak ada yang perlu waspada terhadap kami, jika kewaspadaan kalian muncul karena merasa tersaingi. Bodoh! Apa tujuan hidupmu, sementara asing terus mendirikan antek-antek di sini.

sd
Mengikuti open casting GGS bersama.

Hmm, okesip. Kalian semua, kan, kuliah di jurusan Desain Komunikasi Visual, ilmu DKV-nya diterapkan nggak ke band ini?

Adri: Branding, sih.

Krishna: Karena di kuliah kita belajar branding, jadi kita ngerti penggunaannya.

Agus: Tapi yang diterapkan juga bukan yang dibuat-buat, tetap apa adanya. Hanya aja kita membuatnya lebih berpola, lebih teratur dan terarah. Kayak alasan kita nyimpen artworks itu juga kan salah satu dari branding, gimana orang bisa ngeliat kita apa adanya nggak hanya dari musiknya aja.

Pertanyaan terakhir nih, ya, dan semuanya mesti jawab. Berapa lama sih TFTT ini bakal ada dan apakah sampai di titik ini kalian sudah puas dengan pencapaian ini?

Adri: 1 tahun 7 bulan 2 minggu 40 hari hahahaa. Hmm.. Selama yang bisa kita jalani aja.

Al: Pengennya, sih, lama. Kalaupun nanti ada vakum gitu, tiap personilnya harus tetap berkarya. Kekompakan setiap personil juga menentukan bandnya itu sendiri.

Krishna: Sampai kita nggak bisa berkarya lagi. Kalau soal kepuasan, ya puas sih, tapi di balik kepuasan itu kita punya tanggung jawab buat terus berkarya dan menghadirkan musik kepada para pendengar.

Agus: Selama.. Lama lama lamanya, sih. Kepuasan ya, kita juga bingung, sih. Kalau puas untuk progress, sih, ada. Soalnya dari dulu ngeband nih arahnya mau ke mana, sih. Semenjak single pertama, kita baru ngerasain ada timbal balik. Kayak ada orang yang suka nanya, mana lagu lainnya, nih. Itu jadi motivasi untuk kita.

Aldo: Lama kayak artis-artis luar, lah, sampai dikenang dan sampai ditungguin lagi sama pendengar untuk bisa tampil lagi.

 

Nah, gitu deh. Sekian interview ROI! dengan The Fox and The Thieves. Kita doain aja ya biar EP-nya cepet keluar dan band ini emang patut diwaspadai. Hati-hati aja kalau denger musiknya, suka enak gitu, dan artworks-nya pun patut diacungi jempol pisan. Wajib banget untuk ditungguin oleh para Comrades kalau kata aku mah.

____________________________________________

The Fox and The Thieves

Email : thievfox@gmail.com

Twitter : @THIEVFOX

Soundcloud : soundcloud.com/the-fox-the-thieves

Instagram : instagram.com/thievfox

Foto : dok. The Fox and The Thieves

Be First to Comment

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *