Press "Enter" to skip to content

Merasa Unik di Hari Terakhir Pameran “And Then”

Pengen banget merealisasikan “I Love Monday” tuh, biar sanubari terasa lebih hidup. Tsah. Makanya Senin (16/11) kemarin, sepulang kuliah yang mulai menyesakan dada, aku dateng di hari terakhir pameran And Then-nya Mari Takemoto seorang seniman asal Tokyo, Jepang. Buat yang kemarin gak kesana, pameran And Then ini diselenggarakan di Ruang Gerilya, Jalan Raden Patah No. 12 Bandung warga kreatif!

Pameran ini mempunyai tema mengenai hubungan diri dengan ruang dan tempatnya. Syedap. Berlangsung dari tanggal 6-16 November 2015 kemarin. Pada tanggal tersebut pengunjung bisa dateng untuk melihat-lihat keramaian yang ada, eh, pameran yang ada, dari jam 13.00-20.00 wib. Warga kreatif kemarin ke sana kan? Mari Takemoto sendiri, telah tinggal di Bandung selama satu bulan sejak 6 Oktober 2015 dan memulai proses berkarya melalui persinggungannya dengan hiruk-pikuk kota Bandung. Sing betah nya neng Mari~

Pameran And Then menampilkan konfigurasi antara karya dan obyek keseharian di dalam ruang pameran. Mari Takemoto menyediakan estetik bagi para pengunjung pameran yang bisa mengamati adanya undur-unsur kecil yang secara halus ditata oleh sang seniman. Makanya aku sempet heran pas liat pamerannya, soalnya benda-benda yang dipamerkan unik, seperti dari batako, simbol waktu yang terbuat dari macem-macem termasuk obat nyamuk, dan ada juga tirai yang keliatan seperti pintu di Kyoto. Ternyata emang akunya aja yang kurang artsy jadi nggak paham. Hehe. Pas udah nanya-nanya, ternyata arti dari setiap benda yang dipamerkan bermakna dalem dan pastinya seni banget. Yaiyalah, kan pameran seni.

????????????????????????????????????
Aku nggak ngerti itu teh apa, tapi unik. Unch

Di hari terakhir pamerannya ini, Mari Takemoto mengadakan artist talk alias diskusi seputar karyanya gitu. Jam 4 sore lebih dikit acara dimulai, awalnya Takemoto menjelaskan karya-karyanya menggunakan bahasa jepang yang dibantu oleh interpreter tentang arti dari setiap karya yang dipamerkan, ide dari setiap karya dan menjelaskan pula inspirasi yang ia dapatkan selama tinggal di Indonesia.

Selama di Indonesia, Takemoto terinspirasi dari tokek, saklar, genteng berkarat, buah-buahan di mall dan masih banyak lainnya yang mungkin buat penduduk Indonesia sendiri hal tersebut adalah hal yang biasa. Emang kerennya anak seni. Tapi, Takemoto malah takjub akan hal-hal tersebut dan merasa culture shock karena emang kebudayaan Indonesia sama Jepang berbeda. Takemoto berpikir seluruh kota itu adalah kolase atau dalam bahasa jepang kirei yang berarti indah.

????????????????????????????????????
Rame sekali, aku merasa kecil.

Nah, setelah menjelaskan semua karya dan inspirasinya, lanjut ke sesi tanya-jawab. Artist talk pun jadi rame karena pengunjung yang datang, aku selidiki, sih, kebanyakan anak seni. Eh, ternyata bener aja, ada dari anak seni ITB dan dari beberapa negara gitu deh. Aku lupa. Hehe. Diskusi per-seni-an pun di mulai, memebahas perbedaan pendapat, culture masing-masing negara. Ah, pokoknya seru deh. Aku jadi merasa perlu belajar seni, neh, warga kreatif, berkat pameran ini. Semoga pameran semacam And Then ini bakalan ada di tahun-tahun berikutnya, ya!

 

Foto oleh : Raka Ubaidillah F

Be First to Comment

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *