Press "Enter" to skip to content

TEDx Bandung Membuka Wawasan untuk MEA dalam “Borderless Wisdom”

Hello guys! How are you today? Cie, gaya gitu pakai bahasa Inggris. Eh tapi da sekarang mah yah, harus bisa atuh ngomong pake bahasa Inggris teh, apalagi sekarang udah masuk MEA alias Masyarakat Ekonomi ASEAN tea geuning. Harus bisa atuh, biar nggak kalah saing. Nah, selain belajar bahasa Inggris kita juga harus buka wawasan biar apa? Biar pinter dong.

Nah, buat menginspirasi warga Bandung untuk menghadapi MEA ini, TEDx Bandung ngadain acara lagi yang temanya tuh Borderless Wisdom. Setelah terakhir ngadain acara kayak gini empat tahun yang lalu, hari Minggu (18/5) lalu di GSG Balai Kota, Jl. Wastukencana, TEDx Bandung akhirnya bikin conference lagi. Pas aku dateng teh rame pisan, katanya mah kurang lebih ada 170 orang yang dateng. Nah, di acara kali ini ada 8 orang pembicara dari latar belakang profesi yang beda-beda, yaitu Bapak Haris Hendra Gunawandari, Dina Dellyana, Sweta Kartika, Dwi Indra Purnomo, Kafin Sulthan Reviera, Sulaiman Said, Arya Pugala Kitti, dan Masamu Kamaga.

Pembicara yang pertama yaitu Bapak Haris Hendra Gunawandari, beliau teh profesor matematika. Bapak Haris bilang kalau dia percaya bahwa kunci dari sebuah bangsa yang maju itu adalah pendidikan, karena kemampuan pikiran manusia itu sebenernya nggak terbatas. Ih, aku setuju pisan. Abis itu ada teteh Dina Dellyana. Warga kreatif pasti hapal sama teteh yang satu ini, iya kan? Itu, lho, teh Dina personil HMGNC. Ternyata doi orangnya disiplin pisan, lho, aku sampai kagum sama dia. Udah mah main band, ngajar, kuliah, terus punya bisnis sendiri dan masih sempet ngurus keluarga. Multitasking banget. Kata teh Dina, kita itu harus ngehargain waktu, biar efektif setiap menjalani hari. Iya teh, siap, aku mau nurut biar bisa sukses kayak teteh juga ah.

DSC00988

 

Terus ada juga Sweta Kartika. Pasti di antara warga kreatif banyak ya yang tau komik Grey dan Jingga yang suka lewat di news feed Facebook. Nah, Sweta Kartika tuh komikusnya. Kang Sweta, yang juga lulusan FSRD ITB ini selalu masukin unsur budaya lokal ke setiap karyanya, katanya, biar sekalian mengedukasi generasi muda biar tau sama budaya lokal. Makanya dia kolaborasi sama komikus-komikus Indonesia lain dan bikin Nusantaranger, semacam Power Ranger dengan kearifan lokal gitu lah. Generasi 90an mah hapal banget kan sama ranger-rangeran yang ada di TV kan ya, kalau nggak jam 3 sore, ya di Minggu pagi tea, motivasi aku bangun pagi pas liburan hehehe.

Setelah itu dilanjut sama Kang Dwi Indra Purnomo yang ngejelasin tentang design thinking. Intinya design thinking ini ngejelasin bahwa kita tuh jangan males buat ngeliat suatu hal secara mendalam, karena nanti bakalan nemu pola yang bisa bikin rencana kita tuh sukses. Contoh gampangnya, nih, Kang Dwi pengen bikin tempat pelatihan untuk anak muda, tapi gimana ya caranya? Kata Kang Dwi, mau ngumpulin anak muda mah gampang, pasang aja wi-fi, nanti juga ngumpul sendiri. Hihi, bodor oge, tapi emang iya, sih, sekarang mah atuh internet teh asupan sehari-hari pisan, kalau nggak ada internet, ngga bisa buka website ROI. Abis itu acara dilanjut sama coffee break.

Abis itu, pembicara selanjutnya adalah Kafin Sulthan Reviera, seorang musisi jazz yang bisa nyanyi juga. Kafin ini hebat banget, dia tuh umur 11 tahun tapi bahan pelajarannya udah sama dengan anak kelas 1 SMA. Kok bisa gitu? Ternyata, Kafin homeschooling. Menurut Kafin, dia milih homeschooling karena menurut dia itu cara belajar efektif yang bisa bikin dia semakin ngembangin passion-nya dia di dunia musik. Hebat ih, umur 11 tahun udah bisa ngomongin passion, aku aja udah umur segini masih bangun siang. Huhu.

Selanjutnya ada Sulaiman Said, yang seorang designer. Kamengski deh biar gampangnya mah, yang desainnya tuh nyeleneh gitu. Pada kesempatan ini, Kang Sulaiman berbagi pandangan tentang pemahaman arti seni yang bisa bikin orang ketawa, makanya dia bikin-bikin meme dan desain yang lucu sampai akhirnya bisa muncul komunitasnya sendiri. Inspirator selanjutnya ada Kang Arya Pugala Kitti, orchestra conductor. Meskipun beliau kuliah di Jurusan Kimia, tapi bisa, lho, jadi ketua ITB Student Orchestra. Kalau kata beliau mah, kalau udah suka dan mau belajar, pasti bisa sukses. Contohnya beliau aja bisa jadi seperti sekarang walaupun mulai main musiknya nggak dari kecil dan nggak sekolah musik juga.

DSC00996

 

Inspirator terakhir ada Kang Masamu Kamaga. Lho, kok orang Jepang? Iya, Kang Kamaga orang Jepang asli. Nama aku Haruka, tapi Jepang KW heuheu. Tapi Kang Kamaga ngomongnya udah fasih pakai bahasa Indonesia, bisa ngomong bahasa Sunda juga sedikit-sedikit. Kang Kamaga itu jatuh cinta banget sama Bandung, sekarang dia tinggal dan ngajar bahasa Jepang di universitas swasta di Bandung. Meskipun dia udah pergi ke banyak kota dan negara, tapi dia mah pengennya tinggal di Bandung aja karena nyaman ceunah. Di kesempatan ini, dia cerita kalau di Bandung itu dia ngeliat kota dan anak mudanya punya banyak potensi, makanya dia suka bingung kalau ada anak muda Bandung yang bilang kalau di Bandung itu nggak ada apa-apa. Nah, kata Kang Kamaga, anak muda Bandung harus bisa menggali potensi yang ada, biar Bandung semakin maju!

TEDx kali ini bahasannya menarik pisan, pulang-pulang jadi pengen mengevaluasi diri. Uhuk. Abisnya inspirator-inspirator yang diundang di TEDx Bandung sangat menginspirasi. Seneng banget bisa dateng pokoknya mah. Oh iya, kata Kang Alfi selaku penyelenggara acara, rencananya akhir tahun ini mau diadain lagi dengan persiapan yang lebih baik. Asik. Ditunggu deh!

Comments are closed.