Press "Enter" to skip to content

Surat Cinta yang Tak Pernah Dibaca Olehnya, Sedih..

Pernah nggak kamu “surat-surat cintaan” sama temen, gebetan, atau pacar? Saya, sih, pernah. Walaupun udah jaman SMS (apalagi sekarang ada LINE, Whatsapp, Kakao, dll.), tapi tetep aja, “surat-surat cintaan” lebih seru. Lebih greget gitu, lah. Nah, kemaren, saya lagi beberes tumpukan kertas di meja tulis. Biasalah mahasiswa, potokopian kuliah pabalatak di mana-mana. Terus nggak sengaja, nemuin begitu aja ada surat nyempil. Surat apa? Pas diliat, wah, surat cinta, buat gebetan jaman semester 5 ! (sekarang udah semester 3 tapi program pascasarjana, hampura). Kebayang udah berapa lama itu surat mengendap. Karena nggak pernah kekirim, jadi ya udah, lah, saya tanya-tanya aja, da dibuang sayang, lumayan buat rubrik Wawancarrr!

 

Hey, lama nggak ngeliat kamu, apa kabar?

Surat Cinta: Persis, tahunan sudah lamanya diriku berada di tumpukan itu. Bagaikan jerami di dalam jerami.

Hah? Apa maksudnya “jerami dalam jerami”?

Surat Cinta: Seperti itulah. Kertas di dalam tumpukan kertas.

Errhhh.. saya manggil apa enaknya, nih?

Surat Cinta: Panggil saja Rangga.

Kudu pisan euy Rangga?

Rangga: Tentunya. Bukankah dirimu yang membuatku seperti ini? Seperti Rangga.

Oke.. Jadi gimana rasanya, Ngga, terpendam di tumpukan kertas?

R: Seperti itulah. Tak enak rasanya. Bagai memendam gas yang tak mampu dikeluarkan. Sesak rasanya dada ini.

Haa.. Eh bentar, kenaa ya saya nggak jadi ngasihin kamu ke si dia waktu itu?

R: Daku tak tahu.

Oh iya, saya gempeur, jadi takut mau ngasih.

R: Itulah. Karena rasa takutmu itu aku harus lama terpendam di dalam kertas. Rasanya bagaikan hujan yang tertahan. Langit mendung, hujan tak kunjung datang.

Iya ya, nggak enak . Asa geus mendung tapi nggak ujan-ujan, jadi ragu, mau pergi apa nggak. Gitu, kan?

R: Persis. Seperti itulah. Begitulah kisah cinta yang dipendam, tak berima. Membuat kita sulit melupakan yang lama.

Maksudnya??

R: Jikalau dirimu sudah berani menyatakan cinta, kamu berikan diriku padanya, mungkin sekarang kamu menjadi miliknya, dan dia menjadi milikmu. Atau mungkin, jika ia berkata tidak, kamu sekarang sedang dengan yang lain. Jika seperti sekarang,  dirimu yang heran. Tak jelas mau ke mana. Kamu belum bisa melupakannya, dirinya menghilang entah ke mana.

Heu.

R: Karena itulah jangan memendam rasa. Ujarkanlah kepadanya, sampaikanlah perasaanmu padanya, niscaya ia akan membalasnya baik atau tidak.

Kalau gagal, kan nggak enak..

R: Mana yang lebih baik? Mencoba lalu gagal, atau tidak mencoba sama sekali, lalu gagal?

Nyoba terus gagal, sih.

R: Kau tahu jawabannya.

Tapi tetep aja, takut ditolak.

R: Ditolak itu enak. Kamu mendapatkan jawaban, mendapatkan kejelasan. Nasibmu jelas. Maju, atau mundur. Jika dirimu tergantung, matilah kamu. Maju salah, mundur apalagi.

Ah, bener, sih. Jadi kamu selama ini mikirin itu?

R: Iya.

Rasanya sama kayak memendam cinta?

R: Benar sekali. Tidak enak rasanya. Lebih baik daku dibakar saja, atau dirobek, atau kau simpan dengan baik. Jauh lebih baik daripada berkubang di tumpukan kertas yang tidak jelas.

Oh okeh. Ya udah, abis ini saya bakar boleh?

R: Silahkan. Lebih baik merelakan diriku ditelan api, daripada diriku harus meratapi, ditumpuki kertas lain yang tidak punya makna.

Okelah

R: Oh iya. Bagaimana kabarmu dan dirinya ? Masih tidak ada kejelasan ?

KTHXBY *breekkk* (disobek)

 

Begitulah akhir kisah dari Wawancarrr ini. Untuk pertama kalinya, narasumber dibunuh oleh pewawancarr. Cik atuhnya nanya teh jangan yang sensitip. Jadi weh emosi. Punten pisan, Ngga!

 

______________________________________________

Foto : Ada Apa dengan Cinta? (2002)

Be First to Comment

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *