Press "Enter" to skip to content

Suguhan Akrab nan Syahdu dari Nadafiksi di Showcase “Teorema”

Samlekum, warga kreatif! Udah mulai masuk akhir bulan ih, biasanya dompet teh udah mulai tebel, tapinya teh tebel sama recehan jeung bon-bon tea. Kasian lah. Tapi nggak apa-apa, da Bandung mah nggak akan kekurangan sumber hiburan mulai dari yang berbayar sampai gratisan juga pasti ada. Nah, pas banget nih finansial lagi berkabung, eh taunya ada kabar kalau malem Jum’at (25/2) kemaren di Omuniuum lagi ada acara showcase Teorema dari Nadafiksi, yang pastinya free entry dong. Sedap, hamdallah.

Ah, aku mah mau husnudzon aja kalau warga kreatif udah pada kenal sama salah satu duo folk akustik Nadafiksi. Yaudah deh, kenalan dikit, beranggotakan Dwi Kartika Yuddhaswara atau yang biasa dipanggil kak Yuddha (vokal/gitar akustik) dan teh Ida Ayu Made Paramita Saraswati (vokal). Nah, kalau Teorema sendiri adalah judul album mereka yang katanya, sih, dikerjakan selama sekitar 2 tahun dan diproduseri oleh Tesla Manaf. Mending dibaca aja beritanya di sini, soalnya disitu juga dibahas sekilas kok tentang isinya. Kalau nggak tungguin review dari si kami. Weits, spoiler lah.

Sekitar jam 7-an aku nyampe di venue, dan langsung aja aku naik ke lantai 2 dan cari tempat. Untung banget aku langsung duduk, sekejap kemudian naik juga teh Ida, kak Yuddha, juga pemain flute, Bani, ke “panggung” bersahaja dengan backdrop rak-rak buku. Ternyata ada satu lagi orang yang naik bareng mereka, yaitu kang Idhar Resmadi yang bakal jadi pemandu bincang-bincang tentang album Teorema ini.

3s
Pengen ngeprint backdrop begini aja kalo bikin acara ah nanti.

Talkshow berjalan dengan akrab dan nyaman, kayak lagi ngobrol sama sohib gitulah. Di sini mereka bahas tentang albumnya, mulai dari kenapa namanya demikian, alasan membuat dengan format “album konsep”, juga membahas pembagian lagu-lagu mereka yang terdiri dari Fantasi, Indrawi dan Ilahi. Selain itu, ditilik juga beberapa lagu, seperti Boenga Anggrek yang ternyata lagu jadoel gitu. Karena nggak culang-cileung, aku baru ngeh di ujung sana ada si kang produser, Tesla Manaf, yang akhirnya bercerita sedikit tentang proses pengerjaan album tersebut, dan juga menegaskan kalo versi live dan recording akan terasa kentara bedanya. Selama setengah jam, diskusi intim ini sukses bikin aku pengen beli albumnya. Tapi nanti deh yah, awal bulan aja. Huhu.

Yang ditunggu-tunggu alias penampilan dari Nadafiksi akhirnya dimulai dong. Kali ini mereka ditemani lagi oleh kecapi, nggak cuma flute dan cello. Nggak kaget, sih, soalnya tadi di diskusi juga dibahas kalau mereka sekarang ini banyak mencampur unsur-unsur musik lain gitu, salah satunya etnik. Dibuka oleh lagu Burung yang manis dan Menari di Udara yang syahdu. Oh iya, yang bikin aku suka nonton Nadafiksi tuh kalo kak Yuddha udah ngajak ngobrol penonton, lucu aja kayak ngobrol ke anak kecil alias abongkena guru SD hihi.

Lanjut lagi, nih, akhirnya bawain lagu favorit aku, Bunga Matahari, yang nggak tau kenapa selalu bikin hati adem tapi cirambay gitulah, apalagi bagian reff-nya, duh… jadi sendu gini. Lagu selanjutnya, ada Seketika yang baru banget aku dengerin, ini juga nikmat buat ngahuleng memikirkan hirup yang surem ini, makin sendu lah hati neng ini. Huhu. Tapi ketawa lagi, soalnya kak Yuddha sama teh Ida teh malah berantem kecil gitu gara-gara urutan setlist. Emang intim banget deh showcase peluncuran albumnya.

6s
Anggota Geng Folk Sabandungeun 1: Kang Dimas dari Mr. Sonjaya

Ini, nih, bagian yang paling seru, di sini Nadafiksi ngajak temen-temen mereka untuk ngebantu membawain lagu mereka. Bukan sekadar featuring-an biasa alias di lagu yang berjudul Misteri Minggu Depan, mereka ngajak Dimas (Mr. Sonjaya) dan Dolly (Teman Sebangku) dan, di lagu Pulang, giliran Sarita (Teman Sebangku) yang naik. Ini mah semacam super-band geng folk sabandungeun lah. Dahsyat. Sayang, lagu Pulang tadi beneran nyuruh pulang cigana mah, alias sedih ternyata lagu terakhir pisan.

Sip, nuhun pisan ini mah Nadafiksi buat suguhan di malam Jumat-nya, yang penting hati adem daripada jadi horor gitu kan, yah. Selamat buat album Teorema-nya yang akhirnya cus juga! Semoga semakin mengudara dan merajai langit folk di Bandung bahkan se-Indonesia lah. Lebay, sih, tapi aminin aja atuh plis. Luv. Wassalam!

 

 

 

 

Be First to Comment

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *