Press "Enter" to skip to content

“Sound of Game’Land”, Ketika Konser menjadi Sumber Nutrisi

Setelah kemarin membahas panjang lebar tentang pelestarian identitas musik tradisional, nah, sekarang ingin mengulas sedikit tentang keseruannya, nih. Yes, this is Sound Of Game’land. Upaya pelestarian musik tradisional yang dihelat oleh Departemen Pendidikan Seni Musik 2013 Universitas Pendidikan Indonesia akhirnya berhasil digelar. Beberapa musisi yang main juga menyebutnya sebagai “gong” pembuka untuk temen-temen khususnya di Bandung buat tetep terus berupaya melestarikan apa yang seharusnya dilestarikan, kapan dan bagaimanapun caranya. Semisal, Game’land ini yang mengedukasikan konsepnya kepada khalayak banyak. Weh, selamat dulu dong.

Hari Sabtu (7/1) itu di Sabuga, saya dateng sekitar jam setengah 5 sore. Kepagian, sih, emang. Daripada kesiangan, entar disetrap. Sorry. Karena acara baru mulai sekitar jam 7 kurang dikit. Udah banyak standstand makanan dan komunitas yang hadir. Tentunya dengan membawa keceriaan di sore hari itu. Set dah, lu kata Ceriwis. Yooo Wis.

Penampilan dibuka oleh penampilan apik dan ciamik dari Ensemble Kyai Fatahillah, sang juru penyampai nada-nada pentatonis ala tradisional Sunda dan Bali malam itu. Mereka tampil sebagai salam pembuka dan perkenalan untuk semua penonton yang hadir di Game’land. Sempat berkolaborasi dengan penari-penari gemulai dari Pendidikan Seni Tari Universitas Pendidikan Indonesia di pit penonton area VVIP, yang menurut saya agak mubadzir, sih, untuk menempatkan pit di area VVIP, karena terlalu besar dan memakan lahan yang lumayan kurang nyaman untuk pembeli tiket yang lain. Alhasil, banyak penonton reguler yang sampai akhir acara pun lebih memlilih duduk ketimbang harus nonton di bagian “pinggir” panggung. Tapi saya, sih, setia diem depan panggung, walaupun tu’ur sudah ngaderegdeg.


Setelah penampilan perkenalan dari Ensemble Kyai Fatahillah, kini giliran Rizky “Kimo” Ramadhan dan Kallula sebagai Kimokal yang naik panggung. Riuh penonton nggak bisa dihindarkan waktu mereka bawain lagu-lagu mereka kayak Embrace, Under Your Spell, Take Control Without Controlling dan lain-lain yang diiringi langsung sama Kyai Fatahillah. Nyesel kalau nggak nonton yang ini, sih. Kallula bilang, “Kita sangat berterima kasih banget bisa main di sini, karena kita satu-satunya band electro yang dipilih buat kolaborasi sama nada-nada tradisional ini.” Manis.

Selanjutnya penonton dibuat penasaran sehabis penampilan Kimokal yang bisa dibilang “nggak biasa”, Barry Likumahuwa pun didaulat jadi penampil berikutnya. Eits, hampir lupa. Di sela-sela pemanggilan semua artis, ada sesuatu yang iconic dan kayaknya nggak akan bisa dilupain sama penonton yang dateng malem itu. Yes, Mang Ayi. Dia adalah sosok misterius dengan kecapinya dan pantun-pantun nu hese ditebak yang dihadirkan sebagai Master of Ceremony yang pikaserieun. Doi emang lejen, cuy.

Karya instrumental yang pertama dibawain sama Barry and the gang. Seperti biasa, selalu memukau lah si ieu mah. Bikin ngahuleng. Ditambah lagi dua pemain kendang manis yang bikin penampilannya semakin aw. Tapi, aw-nya nggak karin. Sorry. Set yang sudah sering kita dengar, rasanya lebih apik dari biasanya sewaktu ada sentuhan tradisional. Rada kumaha gitu. Bukan berlebihan ih, kamu mah nggak dateng da, jadi weh. Generasi Synergi, Montalvo Sounds, Rumah Kita (Godbless), dibawakan dengan sedikit jamming ala-ala. Dan terakhir ditutup dengan Unity.

Setelah itu, yang ditunggu-tunggu sama saya dari awal, nih, Stars and Rabbit! Ya penasaran aja. Gaya mba Elda yang sedemikian rupa (hehe) digabungkan dengan unsur-unsur tradisi yang penuh nada-nada kejutannya. Kan kebayang, ya? Bayangin geura. Udah?  Catch Me, The House, dan Man Upon the Hill pun jadi nomor mereka untuk berkolaborasi dengan gamelan Bali yang dimainkan Ensemble Kyai Fatahillah. Satu, sih, takjub aja liat semua komponen dan energi yang ada di panggung. Ya tata panggung, lighting, pemain, player (sama ya?), semua lah. Rasanya teh, gitu tah. Belum lagi, ditambah kolaborasi sama Mang Ayi juga. Ish, makin-makin lah.

Dan ditutup dengan penampilan dr. Tompi dan kawan-kawan yang nggak ikut kolaborasi langsung sama gamelan dari Ensemble Kyai Fatahillah. Entah kenapa. Padahal, ya, yang saya tahu banyak juga, sih, yang penasaran sama kolaborasi antara Tompi dan tim gamelannya. “Sama aja kayak nonton di TV” kata temen saya yang saya tanya pendapatnya perihal penampilannya malam itu. Hanya di lagu ke-3 atau lagu ke-4 (saya lupa tepatnya), dr. Tompi sempat kolaborasi sama teh Rita Tila, sinden yang suaranya itu lho… euh, aduhai lah pokoknya. Menyayat guys.

Ya, terlepas dari kekurangannya, Game’land ini sukses membawa konser makro jadi bernutrisi di Bandung yang katanya terkesan hanya mengedepankan “gengsi” dan gitu-gitu aja. Semoga di tahun-tahun berikutnya, konser dari Seni Musik Universitas Pendidikan Indonesia ini makin disempurnakan lah, ya. Salut. Salam ke Mang Ayi!

Comments are closed.