Press "Enter" to skip to content

“Sonicfair 2016”, Gelaran Paket Lengkap yang (Agak) Meriah

Kalau Bandung dibilang sebagai “gudangnya” musik underground, kira-kira jama’ah warga kreatif pada setuju nggak? Ya, mungkin, sebutan itu bisa aja disematkan, sih, jika dilihat dari makin menjamurnya musisi-musisi “bawah tanah” di Bandung. Oh tentu, ini bukan mau ngebahas jamur yang bikin nge-fly. Tenang. Dengan banyaknya musisi atau band baru, tentu panggung yang dibutuhkan juga semakin banyak. Ya, itu mah supply and demands tea geuning. Eh, bener kitu nya? Hampura, saya mah enjoyneer.

Untungnya, di Bandung teh antusiasmenya edan wae, jadi weh, si acara-acara underground teh terus diberdayakan. Termasuk hajatan Sonicfair 2016 yang hari Minggu (28/8) lalu dihelat di Disjas Baros, Cimahi. Gelaran kali kedua Sonicfair di Cimahi ini memang cukup dinanti-nanti, pasalnya event ini kembali diisi oleh band dari luar negeri, yang di mana kita tahu, ketika mendengar sesuatu yang berbau luar negeri, biasanya suka disambut dengan (sedikit) euforia.

Terbukti dengan semakin padatnya para jama’ah Al-Metaliah yang datang ke Sonicfair kemarin, jadi terasa penuh sesak, rada hese leumpang, tapi tetap senang karena bisa mantengin band kesukaan kamu dengan harga tiket yang asik bener. Kalau dilihat dari line-up band juga, saya rasa, sih, Sonicfair ini bener-bener gelaran yang lengkap dan fair alias adil.

Gelaran yang dibuka dengan nomor-nomor anyar seperti Arjasara, Stroke, Hegemony Of God, dan Bloody Underwear ini, nggak hanya menjual band-band yang sudah sering didengar. Dengan mengajak nama-nama baru tentu adalah sebuah langkah baik, karena festival bisa menjadi etalase untuk musisi baru. Jadi, selain penonton diberi penyegaran, imbasnya si musisi baru pun bisa makin “terjual”. Pokoknya mah si kami salut, mang!

2-2-1024x576

Serbuan massa yang fanatis dari Billfold dan Rosemary ikut kembali memanaskan panggung Sonicfair sore itu, setelah sebelumnya para jama’ah Al-Metaliah bermandi air hujan barengan unit-unit semacam Tcukimay, Beside, Xtab, Humiliation, Kaluman, dan Revenge The Fate. Meski sempat ada perubahan rundown yang membuat Fleshgod Apocalypse tampil lebih cepat, hal tersebut nggak terlalu menurunkan antusiasme penonton di dalam pit. Saya pun berhasil dibuat kekeprokan sorangan, memang mantap betul!

Tapi, ya, gitu, ada dari beberapa penonton yang mengeluh karena kelewatan aksi dari unit extreme metal asal Italia ini. Akibat perubahan rundown yang memang mendadak dan nggak di-update lewat medsos Sonicfair. Ya, alhasil aya nu lapur. Sabar nya, csku.

Sebetulnya suasana ramai udah terasa dari mulai area luar Disjas Baros, penonton yang membludak akhirnya memaksa mereka yang datang pakai kendaraan pribadi, kudu nyimpen kendaraannya di luar area Disjas. Kalau yang pakai angkot? Ya, angkotnya terus jalan lagi. Nah, mengenai padatnya pengunjung sempat diungkapkan oleh Hilman yang bertindak sebagai koor-lap. “Kalau dibanding gelaran tahun kemarin, ya, penonton tahun ini ada lah mungkin dua kali lipatnya. Komo harga tiket terjangkau, terus aya Suicide Silence jeung Fleshgod Apocalypse. Saha nu teu kabita?” kata Hilman. Mantap euy, pantesan weh pasedek-sedek. Dua kali lipat, sob.

Panggung Sonicfair kembali meliar dengan komando dari Seringai dan Jasad. Selain keseruan, beberapa kejutan malah ikut hadir di malam itu, yang cukup menarik perhatian adalah munculnya Putra (eks drummer Killing Me Inside) yang hadir di balik set drum Burgerkill. Harus diakui, aksi Putra malam itu cukup stingak, csku. Tah, ieu yeuh anu menarik diikuti, kira-kira ke depannya siapa yang bakal menetap di kursi set drum milik Burgerkill? Sok, tebak-tebak buah manggis dulu.

Beres melepas rindu dengan Burgerkill, tiba saatnya panggung Sonicfair digebrak oleh Suicide Silence! Eits, tapi ternyata nggak secepat itu, warga kreatif. Proses check-sound dan ini-itu yang cukup memakan waktu, akhirnya membuat grup asal Amerika ini hanya memainkan 4 lagu saja. Penonton yang kepalang kesal bahkan jojorowokan pakai bahasa Sunda, tapi, da moal ngartoseun atuh. Selain itu, karena waktu penggunaan venue yang terbatas, akhirnya penampilan Turtles. Jr dan The S.I.G.I.T pun terpaksa dibatalkan. Kecewakah penonton? Mungkin iya.

5-2-1024x576

Ya, memang, kalau hanya dilihat dari sisi antusiasme, tentu acara ini sangat meriah. Sayangnya, hal itu nggak diikuti dengan kapasitas venue yang memadai, rasanya Disjas masih sedikit kurang “memanjakan” animo penonton yang hadir kemarin. “Sebetulnya pemilihan venue ini (Disjas) ada alasannya, selain faktor keamanan, nggak dibuat di tempat lain tuh, karena mengurus izin di tempat milik sipil lebih riweuh dibanding di sini. Bukan berarti mau tunduk sama beliau-beliau, tapi ya, berusaha realistis dulu lah sebelum ke idealis,” beber Hilman yang juga menjadi vokalis unit grindcore Stroke.

Selain kapasitas venue, lahan parkir, dan ini-itu lainnya, salah satu yang juga cukup disayangkan, sih, yaitu adanya fasilitas peribadatan yang malah beralih jadi tempat ngaso dan nggak sedikit yang buang sampah sembarangan. Bukan cuma sekadar menghormati tempat ibadah dan bikin nyaman doang, tapi, dengan berlaku santun, penonton pun bisa ikut membangun kesan baik penyelenggara kepada si mpunya tempat. Biar sama-sama enaque.

Bukan berarti nggak mau bersyukur, betapa nikmatnya disodori tiket seharga Rp35.000, lalu disuguhi band-band lokal kenamaan dan band-band internasional, terus kamu masih kukulutus? Ah, bisa jadi, kamu termasuk golongan jama’ah Al-Metaliah yang kufur nikmat. Hehe. Pokokna mah nya, semoga di gelaran selanjutnya Sonicfair bisa semakin mantap dan tetap menjadi festival alternatif yang terus diperhitungkan! Karena tagline gelaran tahun ini adalah #SemangatBajaKami, jadi, tetep semangat mang!

 

Foto: Alfi Prakoso

Comments are closed.