Press "Enter" to skip to content

“Slavery”, Secuil Interpretasi Warna Kelam dari Fox Fort

Setelah sebelumnya merilis single pertama dengan tajuk The Antonym pada 2015 silam, di sisa-sisa September ceria ini, Fox Fort kembali hadir dengan single keduanya yang berjudul Slavery. Sedikit berbeda dengan single pertamanya, (katanya) Slavery sekarang lebih kental dengan unsur grunge dan lebih banyak menambah ramuan nada-nada minor pada sektor instrumen serta diikuti dengan lirik yang bernuansa kelam.

Di single keduanya ini, band asal Bandung yang beranggotakan Arga (vokal/gitar), Anyu (drum/percussion), Valdy (vokal latar/gitar), Lukman (bass), dan Bayu (gitar) ini berusaha menghadirkan unek-unek tentang perbudakan modern. Unek-unek mah kayak Uya Kuya atuh? Eh, teu ketang. Heureuy.

Tapi, kalau dipikir-pikir, tema ini teh deket banget sama kehidupan kita sehari-hari, contoh konkretnya mah, ya, mereka yang geram karena terpaksa bekerja diluar passion-nya, upah yang tidak sepadan dengan effort kerja, apalagi ketemu bos yang piaraleun. Pokoknya mah, di bawah tekanan tapi bakat ku butuh tea ningan.

Kabarnya, track yang berdurasi 4 menit 6 detik ini dirilis sekaligus menjadi teaser untuk debut EP mereka yang bertajuk World EP yang rencananya bakal segera dirilis di bulan akhir-akhir tahun ini. Oh, tentu, selagi warga kreatif nunggu EP-nya muncul, ternyata single Slavery sudah bisa kamu pantengin melalui layanan streaming semacam Spotify, iTunes, dan Soundcloud. Mantap betul.

Lalu, seperti apakah perspektif yang berusaha dihadirkan Fox Fort itu? Apakah kamu bakal nyeletuk “Wadaw, ieu mah aku banget!”. Coba, deh, warga kreatif tekan tombol play yang ada di bawah ini.

                                                                                

Twitter : @Foxfortmusic

Instagram : instagram.com/Foxfortmusic

Soundcloud: soundcloud.com/foxfort

Comments are closed.