Press "Enter" to skip to content

Sir Pasir, Sahabat Kaum Pekerja yang Kurang Dihargai di Indonesia

Sore itu, saya sedang santap senja dengan menu khas tanah kelahiran saya; sebatang rokok. Rintik hujan sisa siang tadi membuat kulineran ini terasa manis. Sayangnya, orang-orang di sekitar tampak sibuk. Nggak ada yang bisa saya tawari tembakau filter ini. Apa boleh buat? Hidup harus tetap berlanjut.

Tiba-tiba saja ada yang memanggil dari arah bawah. Nggak mungkin dong kalau suara itu dari seekor semut. Tapi, suara itu cukup jelas. “Jang,” katanya. Mana menjelang maghrib pula, bulu kuduk nggak berdiri mungkin karena kemarin baru cukur di Rizki Barbershop.

Taunya suara itu dari seonggok tanah bangunan yang sedang menggunung entah tujuannya apa. Sembari menyebut nama Tuhan, saya mengingat-ingat ada hal penting apa di hari itu. Apakah ini karena sedang bertepatan dengan Hari Pekerja Nasional yang diperingati setiap tanggal 20 Februari?! Entahlah, tapi diawali bismillah, saya buka sore itu dengan keberanian. Nggak lupa saya rekam menggunakan iPod Touch gen 4. Lawas.


Tadi kamu yah yang manggil-manggil?

Tanah: Iya.

Laa ilaaha illallaaahhhh!!!

Tanah: Nyalira wae?

I… Iya… Naha tiasa nyarios???

Tanah: Segalanya akan bersaksi di akhirat nanti.

Bbbener. Tapi kan nanti.

Tanah: Siap-siap atuh dari sekarang.

Okeh… Ada keperluan apa ini benda mati sok-sokan ngomong?

Tanah: Nggak apa-apa. Ngajak ngobrol aja. Lagi nyari bahan buat rubrik wawancarrr juga kan?

Hahahahaha iya ih tau aja! Kepikiran kemarin teh aduh Hari Pekerja Nasional ngobrol sama siapa ya, yang dianggap sosok gitu. Eh, taunya ada kamu. Pasir atau Tanah, sih, kamu teh?

Tanah: Emang jelema ayeuna teh teu boga sopan santun sigana teh nya.

Aya nu salah???????

Tanah: Saya sudah hidup berjuta tahun yang lalu. Adakah sedikit rasa hormat?

Ya Allah, bener oge. Harus manggil apa atuh?

Tanah: Sir.

Gagah betul.

Tanah: Nama saya Sir Pasir. Panggil saya Sir, tanpa menyinggung Tanah.

Siappp. Gow yah start dari sekarang manggilnya Sir. Jadi kumaha ieu teh?

Sir Pasir: Kamu lagi ngelamun apa?

Hahahaha ditanya. Lagi mau ngobrolin Hari Pekerja, Sir. Pengen lebih menghargai hari ini sebagai penghormatan paling tinggi bagi kaum pekerja.

Sir Pasir: Seyogianya begitu.

Nah, tapi, udah ada May Day kan sebetulnya.

Sir Pasir: May Day, peringatan tanggal 1 Mei setiap tahunnya, adalah Hari Buruh Nasional. Lupa ya? Tapi walaupun begitu ya sama aja untuk kaum pekerja, hanya saja pemaknaannya sedikit berbeda.

Astaga, bener juga.

Sir Pasir: Hari Pekerja Nasional itu peringatan yang berbeda, dan diperingati khusus setiap tanggal 20 Februari sejak tahun 1991, dengan acuan berupa surat Keputusan Presiden No. 9 Tahun 1991, ditandatangani langsung oleh mendiang Soeharto.

Hahahaha aing bisa apal nu kieu ti seonggok taneuh lah!

Sir Pasir: Teu sopan deui wae.

Sorry, Sir!

Sir Pasir: Jadi, sebetulnya hal-hal yang patut diperjuangkan kaum pekerja tuh bisa disampaikan tepat di tanggal ini. Cuma memang, di Indonesia kita lebih ingatnya Hari Buruh, karena selain waktunya berdekatan, poin-poin perjuangannya dirasa terwakili.

Oke, oke. Kayak pasir dan tanah ya? Serupa tapi nggak sama.

Sir Pasir: Iya, sebetulnya penyebutan istilah ‘buruh’ dan ‘pekerja’ kalau mengacu ke UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, dianggap sama. Di sana penyebutan profesi ini dicantumkan dengan garis miring: buruh/pekerja.

Tapi, boleh motong sebentar?

Sir Pasir: Silakan.

Jadi, kamu itu siapa? Kenapa segala tau?

Sir Pasir: Aduh lupa bilang. Saya adalah Pasir. Saya adalah elemen penting bumi. Elemen yang selama dunia ini ada, akan bermanfaat bagi manusia. Saya adalah bagian dari Tanah secara struktur, maupun dari pengklasifikasian teksturnya. Makanya saya hadir di sini untuk kebutuhan bangunan rumah.

Sama aja meureun, tanah juga bisa.

Sir Pasir: Kalau kamu menanam jagung, pakai tanah atau pakai pasir?

Pakai uteuk dong~

Sir Pasir: Tingali siah di akherat ku aing teunggeul!

Hahahaha, sorry, Sir! Terusin atuh ceritanya.

Sir Pasir: Nah, saya adalah pasir yang didatangkan langsung dari Inggris. Makanya saya pengen dikenal dan dipanggil Sir.

Tapi, nggak semua ‘Sir’ lahir dan besar di luar Indonesia kali.

Sir Pasir: Kata siapa?

Contohnya Sir Iyai.

Sir Pasir: Kenapa nggak pakai Sir Dandy aja buat permisalannya? Kenapa harus band reggae?!

Enya oge hahahaha.

Sir Pasir: Saya mah beda, Sir beneran.

Oke. Saya pakai asas kepercayaan terhadap benda mati aja lah, santai.

Sir Pasir: Orang-orang kayak kamu ini, nih, yang secara sadar ataupun nggak sadar kurang menghargai kehadiran saya.

Asa ribet kieu, naon deui boss?!

Sir Pasir: Saya ngerasa di sini pasir hanya menjadi sebentuk struktur fisik yang seenaknya bisa dilecehkan.

Tapi, ini kan sudah tepat, dipakai untuk bangunan?

Sir Pasir: Beberapa kali saya harus merelakan bagian tubuh saya ditaiin kucing. Dan manusia pada nggak sadar karena kemudian si kucing menimbun tai tersebut.

Hahahahahahahahaha.

Sir Pasir: Padahal saya peruntukannya buat bangunan, bukan pasir khusus boker kucing!!!

Ayo marah!

Sir Pasir: Belum lagi suka dipandang sinis sama pekerja kantoran yang ruangan kerjanya lagi dibangun. Saya dianggap mengganggu estetika katanya. Atau kadang anak-anak kecil main ke sini main-main seolah saya playdoh dan secara nggak sadar membawa beberapa butir lewat kuku tangan.

Abisin marahnya!

Sir Pasir: Ada lagi! Kadang juga saya kesel nggak diperlakukan baik sama pekerja. Asal gelar aja di lahan yang ada, nggak dialasin atau digimanain gitu biar nyaman. Kadang proses mobilisasi bahan dari toko material ke lokasi pembangunan bisa membuang beberapa persen tubuh saya. Berceceran. Belinya segimana, eh yang nyampe segimana.

Namanya juga kebocoran. Ada perhitungannya kan. Air bersih dari PDAM juga udah ada perkiraannya di mana angka kebocoran sekitar 20%.

Sir Pasir: Seenggaknya lah! Huh!

Tapi, kan pas proses kuriak juga beberapa dari kamu harus tersingkir karena diayak tea. Ada yang ukurannya terlalu besar kayak kerikil. Kan itu nggak kepake.

Sir Pasir: Makanya! Jangan ditambah dengan kebocoran saat perjalanan dong!

Iya… nanti dibilangin ke mandor. Tapi, bodor yah, bagian tubuh kamu ada yang bisa ngambang di air.

Sir Pasir: Itu Apung temen saya! Beda!

Hahahahahahahaha!

Sir Pasir: Walaupun begitu, kami itu punya manfaat masing-masing. Nggak ada yang sia-sia. Kalian semua butuh kami.

Omong-omong, seberapa deket, sih, hubungan kamu sama pekerja?

Sir Pasir: Geus kieu yeuh. *gestur menyantolkan dua telunjuk*

Naha bisa membentuk tangan?!?!?!

Sir Pasir: Rahasia pabrik.

Ngagetin wae ih sia.

Sir Pasir: Hubungan kami sangat dekat, apalagi si Bapa itu. Secara struktural mungkin beliau paling bawah stratanya. Tapi, dari sejak toko sampai saya ada di sini dan pada akhirnya harus membatu menjadi tembok, beliau terus mengiringi. Sebenar-benarnya sosok pekerja adalah beliau, di semua proses ada dan terlibat langsung.

Risih nggak kalau selama pengerjaan tukang-tukang ini nyetel lagu dangdut atau pop sunda?

Sir Pasir: Harus ikhlas, sih. Saya paham ini Indonesia, beda dengan negara asal saya di mana pekerjanya memutar lagu heavy-rock melalui vinyl.

Pasti clean ya sound-nya. Kayak di KeepKeep.

Sir Pasir: Nah iya. Beruntung banget kawan-kawan saya yang membatu di sana.

Balik lagi ke soal Hari Pekerja, sepenglihatan kamu, apa, sih, yang harus diperbaiki?

Sir Pasir: Banyak ya, terutama soal apresiasi. Jangan ngomongin materi dulu lah, soal menghargai kaum pekerja aja rasanya masih jauh. Tukang-tukang yang seringnya disebut kuli bangunan ini kayak diperlakukan sebagai tukang aja gitu. Diburu-buru pekerjaannya tanpa dimengerti bahwa pekerjaan fisik tuh berisiko.

Omnibus Law ngikutin?

Sir Pasir: Di skena ini mah belum nyampe obrolannya. Mungkin ya yang mereka perjuangkan di sini sebatas gimana caranya bulan depan bisa makan, atau bisa pulang kampung ketemu keluarga, sambil menjalani prosesnya dengan bahagia. Keringat mereka di sini harus terbayar.

Terbayar, kan? Otot-ototnya gede gitu.

Sir Pasir: Balsemna oge nyegak kamamana.

Hahahahahahaha.

Sir Pasir: Apa boleh buat?

Rencana kapan, nih, kamu digarap?

Sir Pasir: Kayaknya dua hari lagi. Udah bosen juga di sini, si Semen bacot banget mentang-mentang strukturnya lebih halus, anjing! Untung dibantuin sama batu bata karena ya memang kami harus membangun relasi baik untuk hubungan jangka panjang. Nanti begitu rekat, jangan harap si Semen bisa semena-mena.

Marah terus! Sok, ada pesan terakhir nggak?

Sir Pasir: Segalanya berawal dari tanah, dan akan kembali lagi ke tanah.

Katanya tadi mau dipanggil Pasir aja.

Sir Pasir: Oh benerrr!


Akhirnya adzan maghrib berkumandang. Obrolan terhenti begitu saja karena pamali kan ya? Hari Pekerja Nasional kali ini teramat berkesan bagi saya bisa berbincang dengan pasir, yang mana sangat erat hubungannya dengan pekerja lapangan, maupun pekerjaan manusia dalam perannya sebagai gedung-gedung tinggi. Pasir adalah sebenar-benarnya elemen fundamental dalam peranan kokoh pekerja Indonesia bagi pembangunan bangsa.

Besok hari Jumat, saya masih harus ngantor. Nggak apa-apa, saya harus bisa menjalaninya secara ikhlas seperti Sir Pasir. Selamat Hari Pekerja Nasional, kaum pekerja!