Press "Enter" to skip to content

Sin City : a Dame to Kill For (2014), Film Monokrom yang Membosankan..

Satu. Marv (Mickey Rourke) terbangun di sebuah jalan tol dengan kondisi sudah dikelilingi mayat. Ketika ia terbangun, ia hilang ingatan dan mencoba mengingat kembali jalan yang sudah ia lalui dari Kadie pada Sabtu malam. Ternyata, pada malam itu ia melihat seorang gelandangan yang dibakar hidup-hidup. Ia menolongnya dan membunuh para pembakarnya.

Dua. Johnny (Joseph Gordon Levitt), seorang pejudi yang sombong memenangkan jackpot di mesin slot di Kadie. Ia lalu mengundang Marcie (Julia Garner) si pelayan untuk bermain poker melawan seorang senator tersohor, Roark. Ia menang, namun harus menanggung akibat dari kesombongannya…

Tiga. Detektif swasta, Dwight McCarthy (Josh Brolin), dikontak oleh mantan kekasihnya, Ava Lord (Eva Green) dan memintanya untuk bertemu di Kadie’s. Ava meminta maaf karena ia meninggalkannya untuk menikahi Damian Lord (Marton Csokas) yang kaya laya. Namun, supir Ava yang kuat, Manute (Powers Boothe), membawanya pulang ke rumah. Dwight mencoba mendekati rumah Ava, namun ia ketahuan dan dipukuli oleh Manute dan para bodyguard-nya. Ia kembali ke rumah, Ava sudah menunggunya di kasur dan merayunya kembali. Ava bercerita bahwa Damian menyiksanya, dan mengancam akan membunuhnya. Manute kembali membawa Ava dan menghajar Dwight yang mengajak Marv untuk membantunya menyelamatkan Ava. Damian menolak tuduhan itu, namun Dwight memulkulinya hingga tewas, sedangkan Marv mencungkil matadari Manute. Namun Dwight sadar, itu adalah jebakan Ava yang kemudian menembaknya. Marv menyelamatkan Dwight dan membawanya ke kota lama di mana ia menemukan cinta lamanya, Gail (Rosario Dawson), yang membantunya menyusun rencana untuk membalas dendam terhadap Ava.

Kiranya, begitulah potongan sinopsis-sinopsis dari film ini. Terdengar hebring ? Mungkin. Tapi setelah ditonton, jujur, saya rasa, film ini sangat biasa saja. Art-nya asik, sih. Asik banget. Monokrom, dengan sedikt polesan-polesan warna untuk beberapa benda seperti rambut, mata, dan darah. Tapi ya, itu saja tidak cukup untuk menyelamatkan film ini dari nilai 6 yang saya beri. Mengapa ? Karena dengan efek yang keren, dan deretan artis yang mentereng; Mickey Rourke, Joseph Gordon Levitt, Josh Brolin, dan nama-nama besar lainnya, seharusnya film ini bisa memberi lebih.

Tapi entah kenapa, nama-nama yang saling memuncratkan darah satu sama lain ini tetap aja nggak bisa ngasih kesan yang mendalam. Agak sulit diungkapkan dengan kata-kata, tetapi film ini benar-benar biasa saja. Padahal, film ini memiliki semua aspek untuk menjadi sebuah film yang luar biasa, namun entah kenapa, ketika menonton ini saya ingin cepat-cepat selesai saja. Mungkin satu kata yang bisa menggambarkannya adalah: membosankan. Kesadisan-kesadisan yang repetitif dan tidak turut membantu membentuk jalan cerita sepertinya adalah alasan utamanya. Apa mungkin ini karena produsernya yang terlalu berjibun, hingga proses kreatif menjadi padat dan menyebalkan? Entahlah. Sangat disayangkan, karena pada akhirnya, sekeren-kerennya efek film, kalau ceritanya nggak mendukung, jadinya biasa saja. Nilai 6 untuk film karya Robert Rodriguez dan Frank Miller ini.

____________________________________________________________________________

Sutradara: Robert Rodriguez, Frank Miller

Penulis: Frank Miller

Produser: Robert Rodriguez, Aaron Kaufman, Stephen L’Heureux, Sergei Bespalov, Alexander Rodnyansky,Mark Manuel

Pemeran: Jessica Alba, Eva Green, Mickey Rourke, Joseph Gordon Levitt

Durasi: 102 menit

 

Be First to Comment

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *