Press "Enter" to skip to content

“Sequence”, Media Berdiri Selaku Bahasa

Aku mah masih punya alasan huhujanan keluar rumah, alasannya untuk datang ke NuArt Sculpture Park. Soalnya ada pameran Sequence: Media Baru-Lama. Merupakan pameran karya yang bertemakan media dari sejumlah perupa kontemporer lokal yang bisa kamu kunjungi sejak Selasa (1/12) sampai Senin (14/12) nanti.

Kita pasti familiar pisan sama istilah media, hal itu bikin aku penasaran sama sinonim dari kata media di KBBI yang ada di internet, yang menjadi panduan tulisan di sini. Heu. Katanya, media bisa diartiin sebagai alat; sarana; yang terletak diantara dua pihak; perantara.

Kalau dihubungkan sama pengalamanku berkeliling di pameran Sequence, setuju deh sama statement dari sang kurator, Asikin Hasan, bahwa karya-karya yang disajikan menempatkan media selaku bahasa untuk menyampaikan yang terkatakan dan tak terkatakan dalam budaya dan realitas di Indonesia. Semua itu disampaikan dengan berbagai “perantara” seperti instalasi video, fotografi, scanography, karya lukis, dan karya patung. Dikemas simpel nan manis kayak buah mangga matang di pohon.

Eggology - Krisna Murti (2013).
Eggology – Krisna Murti (2013).

Karya-karya dari sejumlah perupa kontemporer yang terlibat dalam pameran ini masuk ke kategori SU lah, kalau buat siaran tv, soalnya mudah dimengerti sama penikmat lokal. Karena itu tadi, pesan yang dihantarkan mengenai budaya dan realitas di Indonesia. Hal tersebut bikin aku baca caption karya yang panjang-panjang sampai beres. Walaupun tetep aja bukan pesan tertulis, penggunaan majas perbandingan dan penegasan bisa ditemuin kalau kamu pernah mengikuti mata pelajaran bahasa Indonesia di sekolah. Pasti ada, sih.

Tata ruang pameran Sequence dibagi jadi dua area, untuk karya instalasi video menggunakan ruang gelap sementara karya lainnya menggunakan ruang penuh cahaya. Perlakuan yang berbeda ini diterapkan demi sampainya fungsi karya sebagai “media.” Mantap! Favorit aku mah karya Krisna Murti sama Tromarama, instalasinya enakeun. Hehe.

1958 - Desrat Fianda (2015).
1958 – Desrat Fianda (2015).

Disaranin banget buat nyempetin datang ke sini, sebelum jam 5 sore, ya, karena jam segitu pamerannya udah tutup. Sama jangan lupa bawa payung, bawa jas hujan, hati-hati masuk angin! Semua saran tersebut merupakan pengingat atas kejadian nyata.

Be First to Comment

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *