Press "Enter" to skip to content

Senyap (2014): Hantu Bisu dari Masa Lalu

“Nama saya Adi, saya Warga Negara Indonesia, bekerja sebagai pedagang kacamata, kakak saya dibunuh karena dituduh PKI”. Kurang lebih, begitu kiranya kata-kata yang yang bisa saya bayangkan keluar dari mulutnya apabila suatu hari saya bertemu dengan Mas Adi Rukun. Adi Rukun adalah seorang Indonesia seperti saya, warga Indonesia biasa. Bedanya, keluarganya memiliki masa lalu yang dicap kelam. Kakaknya dituduh terlibat dengan PKI, atau seenggaknya begitulah, karena nggak jelas apa yang sebenarnya menimpa kakaknya, hanya satu yang jelas, terang, dan pasti: Kakak Adi, Ramli, tewas dibunuh dengan sadis.

Alasannya? Ia dituduh terlibat dengan PKI, terlibat seperti apa, nggak jelas, pembunuhnya membunuh Ramli hanya dengan modal ‘daftar orang yang terlibat dengan PKI’. Nggak jelas pula apa daftar itu, siapa yang membuat, bagaimana dibuatnya. Yang pasti, (mungkin hampir) semua dari daftar itu tewas mengenaskan, dibantai di Sungai Ular, Deli Serdang, Sumatera Utara, Indonesia.

Kasus G30-S PKI (yang sudah direvisi menjadi G30-S, tapi saya rasa isinya masih sama-sama saja), adalah suatu kasus kontroversial yang sampai saat ini masih diselimuti misteri. Namun, tabir misteri tersebut sudah mulai terbuka dengan berbagai macam penelitian sosial, maupun liputan-liputan khusus, termasuk oleh film ini dan film pendahulunya, Jagal.

Kali ini, dalam film Senyap, sutradara asal Amerika Serikat, Joshua Oppenheimer mencoba mengambil sudut lain dari pembantian “misterius” yang terjadi pada pertengahan dekade 60-an di Indonesia. Jika Jagal mengambil sudut pandang para pembunuh –atau pembantai-, maka Senyap mengambil sudut pandang dari para korban dan penyintas (survivor).

Diceritakan bagaimana Adi Rukun bertualang di Deli Serdang, mencoba mencari keadilan atas kematian kakaknya. Nggak diceritakan apa yang melatarbelakangi Adi Rukun mencari keadilan yang dalam proses pencariannya bisa dikatakan ‘sangat beresiko’ karena ia harus menghadapi mereka-mereka yang masih memiliki kuasa di masa ini.

Namun, dalam film ini diceritakan bahwa orang tua Adi nyaris kehilangan akal –gila- ketika mereka harus kehilangan Ramli, anak pertamanya dengan cara yang sangat brutal. Nggak perlu saya ceritakan secara detil, tapi yang pasti, kematian Ramli mengandung unsur darah, organ tubuh yang berceceran, dan bagian tubuh yang terlepas semasa hidup. Adi, menggunakan profesinya sebagai pedagang kacamata keliling sebagai samaran untuk berkeliling dari desa ke desa, sembari bertanya ke orang-orang yang terlibat dalam pembunuh kakaknya.

Dalam perjalanannya ini, Adi menemukan berbagai macam tipe pembunuh (yang terlibat dalam pembunuhan) kakaknya. Ada mereka yang mengakui kesalahannya dan meminta maaf, ada yang masih tetap bangga dengan apa yang mereka perbuat, ada yang berusaha menutup-nutupi dengan emosi, ada juga yang menganggap bahwa itu adalah hal yang benar karena itu merupakan tindakan bela negara.

Adegan yang paling luar biasa dari film ini adalah ketika Adi menanyakan apa saja yang sebenarnya terjadi di masa itu, lalu para pembunuh itu dengan bangganya menceritakan prestasi mereka yang didukung oleh –mengutip dari subtitle yang dibuat oleh tim film Senyap- pemerintah diktator di masa itu, di akhir pembicaraan tentang kebanggaan itu, Adi mengucapkan sebuah kalimat sederhana, namun efeknya dapat dilihat menancap dalam di hati para pembunuh: “Abang saya korban dari pembantaian itu”.

Tepat setelah Adi mengucapkan kata-kata tersebut, raut wajah para pembunuh ini berubah. Ada yang marah, ada yang bengong, ada yang langsung menghardik, semua adalah reaksi ketika seseorang dikejutkan oleh masa lampau mereka. Mereka bagaikan didatangi hantu yang telah lama membisu, dari masa lalu yang ingin mereka usir segera pada saat itu juga. Namun ada juga yang meminta maaf (lewat anggota keluarganya), mungkin ia ingin menghapus hantu itu selamanya.

Selain menemui para pembunuh, Adi juga menyempatkan diri menemui Kemat, seorang penyintas dari kasus pembantaian PKI yang merupakan rekan dari Ramli, kakaknya. Melalui sosok Kemat, Adi juga mempelajari apa yang sebenarnya terjadi pada masa itu. Sebuah pengetahuan sejarah yang ia turunkan kepada anaknya yang masih SMP, di mana di sekolahnya ia diajarkan bahwa PKI adalah kaum yang sangat kejam, biadab, tak bertuhan di tanah Ketuhanan Yang Maha Esa, yang sepertinya menjadi alasan yang sangat tepat untuk dihilangkan hak hidupnya. Menyeramkan sekali, bisa kehilangan hak hidup di tanah yang konon bertuhan.

Namun, itulah yang ingin dikedepankan oleh Joshua Oppenheimer. Ia memang bukan orang Indonesia, namun, co-produser mereka –para anonymous- adalah orang Indonesia.  Mereka nggak mau Bangsa Indonesia ini melupakan sejarah. Kelam atau tidak, sejarah tetaplah sejarah. Semestinya ia mengandung fakta, dan fakta tidak semestinya ditutupi atau didistorsi. Sejarah ada sebagai pembelajaran dari masa lalu demi masa depan. Akan sangat bodoh apabila suatu bangsa mengulang kesalahan yang sama karena fakta di masa lalu yang semestinya menjadi pelajaran, nggak bisa dipelajari karena ia ditutupi.

Film ini berhasil membuka celah bagi generasi muda untuk mencoba mempelajari sejarah negaranya secara lebih objektif. Mungkin banyak yang bilang film ini adalah film yang bisa memicu kebangkitan komunisme di Indonesia. Bagi saya, nggak. Karena nggak ada satupun nilai-nilai komunisme yang dibela atau ditunjukkan di dalam film ini. Nilai yang muncul dalam film ini adalah nilai keadilan, dan kemanusiaan. Rasa iba ketika melihat orang tua Adi dan Ramli yang menjalani masa tuanya dengan sangat menderita –karena masih dibayangi oleh kematian Ramli-, adalah sebuah rasa sakit di dalam hati, nggak semestinya orang tua yang baik hati seperti mereka (coba tonton filmnya, nanti akan mengerti) kehilangan anaknya dengan cara yang sangat nggak manusiawi.

Penggalian fakta yang luar biasa, keberanian Adi, selipan humor gelap –sangat gelap-, teknik wawancara yang berani, membuat saya memberikan nilai 9 dari 10 untuk film ini. Selamat Josh dan kawan-kawan, you deserve it.

Be First to Comment

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *