Press "Enter" to skip to content

Seni Kontemporer Indonesia ala “BaCAA#4”

Sabtu (25/09) malam kemarin, merupakan malam penganugerahan sekaligus pembukaan pameran The Bandung Contemporary Art Award (BaCAA)#4 di Lawangwangi Creative Space. Sekilas mengenai BaCAA, nih, acara ini merupakan penganugerahan seni yang bertujuan merangsang perkembangan seni rupa kontemporer di Indonesia, sekaligus sebagai upaya untuk meningkatkan partisipasi para peraih anugerah seni ini dalam kancah seni rupa Internasional. Gimana nggak, nama-nama dalam tim sukses penganugerahan ini memiliki latar belakang profesional yang di antaranya ada Carla Bianpoen, Edouard Mornaud, Michael Janssen, Wiyu Wahono dan favoritku, Asmujo Jono Irianto. Kelima gegedug tersebut berperan sebagai juri dari penganugerahan BaCAA#4.

22
Wedehh.

Dari ratusan partisipan, malam itu dihadirkan 15 finalis yang keliatannya mah deg-degan ketika masing-masing namanya dipanggil untuk pembacaan award. Hasil pembacaan award, ada Nurrachmat Widyasena dan Faisal Habibi sebagai finalis dengan kategori special mention, dan tiga orang dengan ranking setara – Asmujo sampai beberapa kali bilang, bahwa nggak ada ranking satu, dua, tiga ya! – yang dianugerahkan kepada Harits Rasyid P dan Muhammad Vilhamy yang masing-masing mendapatkan uang tunai 50 juta rupiah. Lalu anugerah satu lagi buat Aliansyah Chaniago yang memenangkan kesempatan untuk ikut dalam program residensi di la Rochelle, Perancis dan sekaligus pameran tunggal di sana! Woy! Sorak-sorai pembacaan award bikin aku melek, bahwa ini, lho, mereka memperjuangkan apa yang mereka mau. Tau-tau jadi senyum-senyum sendiri gitu. Hehe.

4
Suasana pameran saat malam pembukaan

Usai pembacaan award, acara dilanjut dengan pembukaan pameran BaCAA#4 yang berisi karya-karya 15 finalis. Sesegera itu juga aku masuk untuk liat-liat, penasaran kayak gimana, sih, seni kontemporer di Indonesia, tuh. Karya-karya yang ditampilkan mengusung berbagai macam pesan yang disajikan para partisipan, melalui parodi, realisme sosial, ragam media seni, fotografi, kepekaan indera, sejarah, dan berbagai perspektif lain yang diolah menjadi “purpose” dari masing-masing karya untuk kita nikmati hingga tanggal 23 Oktober di Lawangwangi Art Space. Eh tapi diliat aja, ya, jangan pegang.

3
Peresmian pameran diakhiri oleh penampilan dari HMGNC.

Malam pembukaan dibikin manis dengan performance musik oleh The Fox and The Thieves, Heals, dan Homogenic serta dibarengi video mapping dari Wayang Cyber yang berkolaborasi dengan Rekam Rupa. Sembari nonton, penikmat acara disuguhi snack dan minuman oleh aa yang baik hati keliling-keliling mencari orang-orang yang ketemu mata dengannya dan do’i berasumsi “pasti lapereun. Penutup malam yang manis buat aku, sih. Selamat menyempatkan diri untuk datang dan buktiin kalau aku salah. Da nggak akan, soalnya aku liat.

Be First to Comment

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *