Press "Enter" to skip to content

Semangat Kolektifan di Pentas Perdana “Saritilawah”

Menurut buku islami yang pernah saya baca, ada lima golongan orang-orang yang merugi. Oke, bisa kalian cari tau juga di buku atau google. Tapi saya pengen nambahin lagi satu golongan orang yang merugi; tertipu untuk datang ke acara berbau islami. Minggu (22/2) kemarin, mungkin beberapa orang muslim terkecoh, lantas datang ke acara pementasan Saritilawah, di Green Cafe, Jalan Diponegoro No. 26. Saya juga terkecoh, karena acaranya jauh dari nuansa islami.

Tapi ternyata ini merupakan kejutan, dan beruntung pisan bisa dateng. Saritilawah adalah sebuah acara pementasan gembira, hasil kolaborasi Cucukrowo Mekgejin dan Lekka Footwear, yang tergabung dalam Skate n’ Leisure Club. Dalam gelaran perdananya ini, Saritilawah mengajak Shorthand Phonetics, Wreck, Woodcabin dan The Kuda. Udah? Belum. Mereka berhasil merayu band surf rock slengean Muchos Libre untuk kembali manggung setelah berpura-pura bubar selama 6 bulan. Ah, nuhun Gusti! Oh iya, menurut desas-desusnya, asalnya Vague dan Wethepeople! direncanakan tampil. Sayangnya batal, dengan alasan yang rahasia, serahasia resep racikan bumbu Sasa.

Dengan membayar sodakoh sebesar Rp20 ribu, kamu udah dapet seperangkat gambar tempel, voucher minuman gratis tanpa kadar alkohol, serta download code demo lagu terbaru dari Muchos Libre. Mantap. Setelah saya unduh, ternyata demo lagunya ada dua. Rugi banget kamu nggak dapet code-nya. Rasain. Dimulai dari jam 6 sore, venue seluas kamar Kevin Aprillio menjadi lahan untuk bergerak bebas tanpa dimarahi polisi. Shorthand Phonetics membuka Saritilawah dengan bebunyian yang bukan pop punk, karena Ash ngajakin drummer Mooseo dan bassist The Kuda. Menarik, gigs yang penuh keakraban.

Menyambut kembalinya Muchos Libre.
Menyambut kembalinya Muchos Libre.

Yang lebih menariknya, sebelum setiap band tampil, Dally Anbar selaku MC membacakan sebuah petunjuk penampil pentas Saritilawah layaknya pembacaan puisi gemas. Begitu juga sebelum Wreck tampil. Meskipun udah tampil edan dengan membawakan lagu macem Tanpatuan, We Drift Like Daendelions serta beberapa lagu baru, belum banyak penonton yang berani maju buat moshing. Kayaknya masih takut ada polisi yang nangkep. Jujur, ini adalah gigs pertama nonton langsung Wreck. Dan jadi percaya apa kata orang-orang, kalau si Firman main drumnya rapih. Adeuh.

Wreck beres, tapi belum bagi bassnya si Ipul, karena harus dipinjem sama Muchos Libre yang dapet giliran tampil selanjutnya. Ada yang aneh di reuniannya Muchos Libre ini, karena bassist dan drummer mereka berubah menjadi cewek. Taunya bukan, mereka personilnya Gorilla Trampoline yang ikut bantuin karena Hilman Hakimimasa dan Adie Emo berhalangan hadir. Membawakan lagu-lagu di EP Viva La Libre (2013) dan beberapa lagu iseng-tapi-racun, penonton benar-benar menguasai stage. Liar, meskipun nggak minum Anggur Merah pakai es batu. Bagongtempur kembali melakukan gimmick makan rokok yang menyala, Korongmentah tiduran di lantai sambil buligir lagi, sementara Iky Kunjay menjadi yang paling pangling karena jadi gendutan. Comeback yang bikin semua orang senang!

Woodcabin yang nyeureud.
Woodcabin yang nyeureud.

Habis dihajar musik yang bikin haus, penonton dikasih napas dulu dengan teriakan penuh semangat JKT48 dari Woodcabin. Ini juga saya baru nonton langsung pertama kali, dan agak salut sama Woodcabin karena mengajak teman-teman kampus penyuka daleman Haruka Nakagawa. Loba pisan barudakna. Musik emo skramz yang dibawakan dengan ketidaksantunan bertolak belakang dengan wajah mereka yang terlihat seperti anak baik pengejar gelar cum laude. Eh enya, Woodcabin juga bawain lagu Footsteps milik Vague.

The Kuda menjadi senjata penutup Saritilawah edisi perdana sekaligus pemuas kamu-kamu yang suka naik kuda di Cilaki. Trek-trek singkat yang keras dan bersemangat nggak diimbangi dengan pembawaan Adipati yang nyanyi tanpa banyak gerak. Sementara penonton rusuh menikmati sajian musik punk rock bersahaja. Lupa bawain lagu apa saking singkatnya nggak sempet menerka. Yang pasti, mereka membawakan materi baru yang nantinya bakal dirilis split bareng Total Jerks. Segar! Korongmentah juga ikut nyanyi bareng The Kuda membawakan apalah itu, dua lagu penuh lengkingan suara ajaib.

Semua memburu Adipati.
Semua memburu Adipati.

Keren gini, pementasan penuh keringat tapi beresnya sebelum jam 12 malam. Efektif sekali Saritilawah menyuguhkan kegembiraan. Dari pentas ini jelas terlihat bahwa Saritilawah mencoba membangkitkan semangat gigs kolektif yang makin sini makin hilang ditelan gigs bersponsor macem-macem. Dukung ah! Nuhun sekali untuk penyegaran ini. Ditunggu pentas edisi kedua dengan line-up yang lebih bernuansa islami.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *