Press "Enter" to skip to content

Sekuat Baja, Selalu Ada untuk Warga, Akulah Portal Komplek

Setelah beberapa minggu kemaren selalu mewawancarai figur-figur super penting dan eksis seperti kemeja Pak Jokowi, sarung tangan Bli Made, sampai Son Goku di Cihampelas, kali ini saya kebagian mewawancarai figur ‘biasa’. Siapakah dia? Dia adalah sang penjaga malam. The Nightwatchman. Dia adalah sang pelindung. Dia adalah sosok yang selalu ada, terjaga, menjaga para warga dalam lelap. Dia bukan Batman. Jangankan Batman, manusia saja bukan. Tapi tubuhnya kuat. Sekuat baja. Lebih kuat dari gatot kaca. Siapakah dia? Dia adalah Portal Komplek, saudara-saudara. Portal komplek! Yuk Atuh, simak wawancarrnya.

Punten, selamat malam Pak, Apa kabar?

Portal Komplek: Wah, sehat jang, ujang bagaimana?

Sehat atuh Pak, alhamdulillah. Matak kuat begadang begini. Punten Pak, nama bapak siapa ya? Butuh buat wawancara di Roi Zine nih Pak.

Portal Komplek: Waduh, wawancara apa yah?

Yah, gitu lah Pak, tanya-tanya isu keamanan pasca Pak Joko jadi presiden.

Portal Komplek: Oh gitu.. Waah.. kenapa tanya sama saya? Da saya mah warga biasa. Kenapa nggak sama tongkat Kapolri gitu?

Wah atuh Pak, susah ke tongkat Kapolri mah, lagian kalau untuk memahami isu, baiknya dimulai dari akar rumput Pak, dari warga biasa.

Portal Komplek: Oooh, ya udah atuh, boleh lah demi ngabantuan si ujang mah. Kenalin Jang, nama saya Bejo.

Oke Mas Bejo, saya panggil mas saja?

Bejo (B): iya boleh lah, terserah ujang aja.

*Mas Bejo lalu memberi saya kopi hitam dan kacang rebus, sumbangan dari satpam katanya

Waduh Mas, nggak usah repot-repot atuh, mestinya mah saya yang ngasih konsumsi…

B: Owalah, ndak papa to Mas.

*Lah, mendadak medok, kalau diajakin boso jowo saya nggak ngerti nih

Oke atuh Mas, jadi gimana belakangan ini Mas? Aman di daerah sini?

B: Yah, dibilang aman sih nggak aman-aman banget. Kemaren ada yang kecurian tutup got masa.

Eeeh, kok bisa, Mas lihat?

B: Iya, tukang rongsok gitu. Main lepasin aja itu tutup got.

Waduh, kenapa nggak teriak atuh?

B: Matamu! Wong aku ora iso bicara, mau tereak gemana to?

Oh iya yah, terus gimana lagi?

B: Ya udahlah, kabur dia.

Malah nggak aman yah.. Berarti, kalau begitu, masih banyak orang yang butuh duit atuh yah?

B: Ya iyalah, duit mah mau sampai kapan juga orang pasti butuh dong.

Ya, nggak, maksud saya, ini kan Pak Joko udah jadi presiden, katanya mau mensejahterakan rakyat.

B: Wadoh, setaun aja belum mas, mikir dong, masa iya setaun bisa beres itu masalah segitu numpuk?

Iya, sih.

B: kalau kritik pake mikir dong. Kebijakan dari atas tuh ndak langsung menyentuh orang bawah, loh.

TUH ! TUH ! Mas Bejo yang ngomong sendiri, ini nih Mas, alesan saya pilih mas daripada wawancara tongkat Kapolri.

B: Nah kan ngerti tuh sampeyan juga.

Yang ngerti mah saya Mas, bukan kaki saya.

B: Eh iya, maaf, sampeyan itu kamu, Boso Jowo.

Wah punten Mas, kurang ngerti Bahasa Jawa euy.

B: Oh gitu. Ya sok, coba pertanyaan lain apa?

Hmm, menurut Mas, supaya angka kriminalitas menurun, bahkan sampai habis baiknya gimana?

B: Begini. Angka kriminalitas itu nggak akan pernah habis. Apapun yang terjadi, sampai kapanpun, kecuali negara ini jadi negara komunis, bakal ada terus kaum-kaum ‘kelas bawah’. Biasanya mereka-mereka inilah, selain bangsat-bangsat koruptor dari ‘kelas atas’ yang bakal melakukan tindakan di luar hukum.

Wow. Luar biasa.

B: Iya. Tapi mereka mah kasihan. Mereka begitu kebanyakan karena terpaksa. Kalau nggak terpaksa mah yah pasti mereka juga mau kerja bener. Tapi yah ada juga yang begitu karena males. Males juga mungkin bukan salah mereka, tapi salah asuhan. Yang bangsat itu yang udah kelas atas tapi masih melanggar hukum. Itu bedebah. Mereka juga yang ambil hak-hak kelas bawah ini.

Oh gitu yah Mas? Jadi menurut Mas, supaya angka kriminalitas menurun gimana nih? Kayaknya belum terjawab?

B: tentunya rakyat harus dibikin sejahtera. Selain sejahtera juga harus dibikin mikir. Sejahtera yang benar, sesuai standar itu bagaimana? Ukuran sejahtera itu beda-beda loh. Ada yang bilang sekeluarga punya mobil 4 itu sejahtera. Tapi ada juga yang bilang selama punya rumah permanen, punya tabungan, punya asuransi kesehatan dan pendidikan, serta bisa memenuhi sandang dan pangan, itu sudah sejahtera.

Wow, saya nggak kepikiran sampai sana loh. Saya kira standar sejahtera itu ya bisa membeli apapun yang kita pengen…

B: Salah tuh. Sejahtera itu bisa memenuhi apapun yang kita BUTUHKAN.

Ingin dan butuh yah?

B: Iya, selama kamu bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari kamu, berarti kamu sudah sejahtera. Jangan maksa minta lebih kalau memang belum bisa. Harus bisa merasa cukup. Cukup loh, bukan puas. Beda. Ketika kamu merasa cukup, kamu akan selalu merasa bersyukur, serta bekerja lebih keras. Tapi, kalau berasa puas, kamu akan berhenti di situ begitu saja.

Wah, mata saya benar-benar terbuka nih Mas Bejo. Kok bisa mikir sampai segitu mas Bejo?

B: Ini rumah sebelah kan dosen ekonomi, saya suka ngintip liatin slide-nya.

Owalahhhh, pantesan!

B: Ada lagi yang mau ditanyakan mas?

Wah, apa yah? Hmm, mas optimis nggak sama pemerintah sekarang?

B: Wah, saya ndak mau jawab ah mas, nanti dikira partisan.

Wahahaha, Oke deh Mas kalau begitu, makasih yah waktunya, kacang rebusnya. Enak euy, nanti kapan kapan ngobrol lagi yah!

B: Siaplah! da saya mah di sini terus da, kalem!

 

 

 

foto: Agam Genta

 

Be First to Comment

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *