Press "Enter" to skip to content

Sejarah Tionghoa di Pameran “Things Happen When We Remember”

FX Harsono bikin pameran tunggal di Selasar Sunaryo Art Space, tepatnya di Ruang Sayap dan Ruang B. Seniman besar Indonesia ini memang kalau bikin pameran selalu bertema sosial dan bahkan mengkritik pemerintah. Kali ini beliau mengangkat tema tentang Tionghoa, kenapa? Karena ini menarik dan belum ada yang mengangkat kasus ini ke sejarah nasional.

Langsung aja deh aku meluncur kesana, Kamis (11/9). Nah, disana langsung disambut sama Light in The Suitcase dengan media steel suitcase dan neon tube yang dibentuk dan membuat suatu kalimat. Kalau ditelaah, sih, gini katanya: “setia dan berjuang dalam menjual harapan tak lupa sesulit apapun kita harus tetap berbudi”. Penuh dengan makna banget kan. Di Ruang Sayap ini hanya ada 2 karya aja, satu lagi adalah Bone Cemetery Monument yang berisikan sekitar 202 nama-nama dan foto korban pemberontakan Tionghoa di Indonesia.

Mirip koper di acara super deal.
Mirip koper di acara super deal.

Setelah dapet intro pameran ini, aku langsung diboyong ke Ruang B, masih lanjutan dari Ruang Sayap itu tadi kok. Disini lebih mendetail banget, dari awal kita masuk ada video narasi Pak Harsono tentang pameran ini dan yang paling menarik adalah perahu yang dihiasi neon tube lagi, bertuliskan “Bercita-cita Besar Tak Lupa Moral”. Tuh, quotes lagi. Nama karyanya aja The Light of Journey. Uh!

Yak! Puncak dari pameran ini adalah karya Pak Harsono terhadap sejarah Tionghoa dalam suatu video FX Harsono: “Berziarah ke Sejarah”. Dalam video tersebut Pak Harsono menggosokkan pastel merah pada lembaran kain putih yang panjang, kain tersebut ditempelkan pada batu-batu nisan Tionghoa, yang disinyalir adalah kuburan massal korban pembantaian pada tahun 1940-an dari 5 kota yang beliau temui. Rinciannya yaitu Blitar 191 orang, Jogya 26, Tulungagung 73, Kediri 310, dan Nganjuk sekitar 780 orang. Dari video ini lengkap diceritakan sejarah Tionghoa, dengan durasi sekitar 14 menit. Katanya, sih, 5 kuburan massal ini belum semuanya terkuak, jadi bisa lebih dari 5 kuburan massal. Sadis.

The Light of Journey, keren gitu.
The Light of Journey, keren gitu.

Setelah mengamati video dan kain yang terjuntai bebas di dinding, aku disuruh duduk di salah satu dari 3 bangku kayu yang menghadap pada sebuah video lagi yaitu FX Harsono: Writing In The Rain. Aku bingung, ini keren, tapi apaan. Bisa dilihat dalam video Pak Harsono menuliskan namanya sendiri di kanvas kaca yang nantinya akan diguyur hujan, dan setelah hujan itu hilang ini menandakan kalau namanya itu hanya pengingat masa kecilnya saja.

satu lagi dari pameran ini adalah tumpukan 26000 abjad yang sengaja dibikin pabalatak di samping perahu yang berisikan lilin elektrik, karya ini dinamakan The Past of The Past / Migration. Ditambah lagi dengan kursi yang menghadap ke perahu dengan kipas cina diatasnya, keren, awzeuuumm, penuh etnis banget apalagi ukiran yang terdapat pada bantalan kursi dibawahnya. unique! aku bingung, ini keren, tapi apaan, yaudah nanya lagi atuh.

nama-nama korban pembantaian Tionghoa
Nama-nama korban pembantaian Tionghoa.

Duhhh bener-bener deh pameran yang satu ini emang bermain sambil belajar banget, dari sense of art-nya udah bikin aku bilang awzeum ditambah hasil observasi dan metoda riset yang pak Harsono proses menjadi karya seni yang khas. Ini bener-bener patut didukung untuk menjunjung tinggi nilai sejarah yang orang-orang belum tau ini apa dan bagaimana.

Pengen dapet juga atmosfer sejarahnya? Datang aja langsung ke Selasar Sunaryo Art Space di Jalan Bukit Pakar Timur no. 100, tepatnya di Ruang Sayap dan Ruang B. Tenang, pamerannya masih lama, kok, sampai tanggal 28 September, jadi siapin diri dulu dengan baca-baca sejarah Tionghoa di Indonesia. Biar disana kamu bisa langsung klop dengan mahakarya Pak Harsono.

Be First to Comment

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *