Press "Enter" to skip to content

“Seja Niskala”, Karya Monumental dari Perjalanan 12 Tahun Shock After Rest

Musik lokal selalu menawarkan geliat yang menarik. Pergerakannya dinamis dan layak disimak baik-baik. Di scene instrumental postrock-shoegaze, Shock After Rest asal Bandung baru saja menyita perhatian dengan apa yang telah mereka kerjakan selama ini. Sebuah mini album hasil kerja kolaborasi bertajuk Seja Niskala rampung dan sudah mengudara di platform musik digital. Senang rasanya melihat mereka kembali mencuat ke permukaan.

Seja Niskala merupakan buah dari proses kolaboratif Shock After Rest dan RooftopSound Records, label rekaman asal Jakarta. Sebuah rekonstruksi dari materi-materi rentang tahun 2017-2019 dengan menyisipkan sebuah nomor remix. Bagi mereka, rilisan ini adalah buah kesadaran, kecenderungan, hingga kepercayaan ide-ide berkepanjangan. Bebunyian tanpa berusaha mendobrak katalis pakem musik yang mereka cerna selama ini, seakan dibiarkan utuh dengan normanya.

Nomor-nomor terdahulu seperti Jakarta dan Not To Be Another kini resmi masuk ke dalam diskografi. Karya berikutnya selepas album Impossible Memories (2008). Kelompok musik yang kini berformasi Sesep Hirman (noise/gitar), Abdi Gunawan (harmonic/gitar), Iman (bass), dan Cuncun Suryadi (drum) ini turut menghadirkan nama-nama musisi yang rasanya tepat dihadirkan dalam part maupun komposisi musik. Ajie Gergaji (The Milo), Etza Meisyara, Intan Cessilia, dan Aghi Narottama (Ape On The Roof/Lain/The Miskins). Segan.

Annoramix mendapat kehormatan dengan merepresentasikan versi lain dari Not To Be Another. Dua nama lainnya, Ai Kang Rui dan Chao Yong Chen, turut berperan penting dalam proses pengerjaannya. Sementara pada bagian eksekutif produser dipercayakan kepada Ronal Surapradja dan Alfi Sharfi. Album yang terasa sangat monumental dalam perjalanan musik mereka selama 12 tahun ini.

Mari rayakan musik mereka dengan saksama. Sebuah album yang layak dinikmati dengan penghayatan sedalam-dalamnya.

Instagram: instagram.com/shockafterrest_official