Press "Enter" to skip to content

Schindler’s List (1993): Sebuah Kegetiran yang Harus Diceritakan

Kalau timeline sejarah itu berwarna, saya yakin periode Perang Dunia ke-2 akan diwarnai tinta hitam dan putih. Setiap kisah dari periode ini begitu kelam. Lebih dari 60 juta jiwa menjadi korban periode kelam ini, itu berarti 3% dari jumlah populasi dunia saat itu berkurang. Itu yang menjadi motivasi Steven Spielberg bertutur tentang kelamnya masa itu lewat seorang tokoh bernama Oskar Schindler.

Oskar Schindler (Liam Neeson) adalah seorang Jerman simpatisan Nazi yang mencoba peruntungannya menjadi seorang Industrialist memanfaatkan situasi kelam pada Perang Dunia ke-2. Oskar ingin membangun sebuah pabrik wajan dan panci dengan para Yahudi tawanan Nazi sebagai buruh kerjanya. Oskar mengerti bahwa usahanya tersebut akan menemui banyak tantangan dari pihak militer Nazi. Untuk itu, sebelum memulai membangun industrinya itu, Oskar ‘PDKT’ dulu, nih, dengan para pejabat tinggi Nazi. Dia menggelar berbagai macam pesta, jamuan makan malam dan segala hadiah untuk memuaskan pejabat tinggi Nazi ini. Semuanya dilakukan untuk memuluskan jalan Oskar membangun Industri dan mempunyai backing-an pejabat tinggi. Sahik kan bapak ini?

Selain itu, Oskar berpikir bahwa dia harus mempunyai seorang akuntan handal untuk mengatur manajemen pabriknya. Di situlah pertemuan Oskar dengan Itzhak Stern (Ben Kingsley), seorang akuntan Yahudi dengan kemampuan mumpuni. Saat itulah Oskar memulai bisnisnya dengan Itzhak sebagai orang kepercayaannya. Kejayaan Oskar mengelola pabriknya kemudian menemui masalah lain ketika dia harus bertemu dengan Amon Goeth (Ralph Fiennes).

Amon ini seorang petinggi Nazi dengan umur yang relatif muda, ambisius, nggak kenal ampun dan bengis. Amon memperlakukan Yahudi seperti kotoran yang nggak ada artinya. Dia nggak sungkan menembak 10 orang Yahudi untuk sarapan paginya. Di sinilah Oskar harus dengan cerdik mengalahkan Amon untuk melindungi Yahudi buruh pabriknya tanpa dicap sebagai pengkhianat.

Yang ini cover-nya berwarna.
Yang ini cover-nya rada berwarna.

Yang menjadikan film ini begitu menarik adalah karakter Oskar Schindler yang sangat unik. Dia cerdik, ekonomis dan humanis pada saat yang bersamaan. Oskar cerdik sekali ‘membeli hati’ baik para pejabat Nazi dengan jamuan pesta dan para buruh Yahudi dengan sifat-sifat humanisnya. Oskar memperlakukan Yahudi buruhnya sebagai ‘manusia’ seutuhnya, dengan demikian Yahudi-Yahudi ini menjadi setia pada Oskar.

Penggambaran karakter Oskar ini kontradiktif dengan tuturan Spielberg tentang perlakuan keji Nazi terhadap para Yahudi. Kita disuguhi bagaimana Nazi menyiksa, merampas harta, mempekerjakan Yahudi dengan keji. Kita juga akan melihat bagaimana keinginan hidup Yahudi yang teramat tinggi dengan cara mempertahankan diri dari yang pintar sampai cara yang nggak masuk akal sekalipun.

Steven Spielberg memborong 7 penghargaan Academy Awards tahun 1994 untuk pencapaiannya dari film ini. Penuturan Spielberg tentang sifat humanis Oskar Schindler dan kekejian Nazi ini adalah sebuah pertarungan klasik yang abadi. Sebuah pertarungan hitam dan putih. Tetapi, latar belakang Oskar Schindler sebagai simpatisan Nazi adalah sebuah catatan yang menarik. Latar belakang tersebut menjadi sebuah area abu-abu yang menjembatani hitam dan putih. Schindler’s List adalah sebuah kegetiran yang harus diceritakan.

 

Sutradara : Steven Spielberg

Penulis Naskah : Thomas Keneally

Durasi : 195 Menit

Genre : Biography, Drama, History

Actor : Liam Neeson, Ben Kingsley, Ralph Fiennes

Be First to Comment

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *