Press "Enter" to skip to content

Sabtu Bersama Bapak (2016): Komitmen Seorang Ayah

Indeks Prestasi Keren: 8/10

Di antara semua film Indonesia yang keluar tahun ini, aku paling kepo sama satu film ini. Judulnya Sabtu Bersama Bapak. Aku penasaran karena ceritanya diangkat dari bukunya Adhitya Mulya yang best seller dengan judul yang sama. Terus, ya, emang anaknya suka aja sama film tentang keluarga gitu. Hehe. Pas mau nonton aku ngajakin temen-temen aku, tapi ceunah mah nontonnya enakan sendiri, da baper… Ya udah weh. Pergi aja aku teh ke bioskop sendirian.

Sabtu Bersama Bapak ternyata bukan cerita tentang liburan bersama bapak naik delman ke kota setiap weekend, tapi ceritanya tentang Pak Gunawan (Abimana Aryasatya) yang ternyata mengidap kanker dan divonis hanya bisa hidup untuk waktu yang nggak lama. Karena saat itu anak-anaknya masih kecil, dia nggak mau hanya sekadar diingat sebagai ayah yang pernah ada, tapi mau diingat sebagai ayah yang masih bisa membimbing anaknya meskipun dia udah nggak ada. Maka dari itu, Pak Gunawan berkomitmen bakal terus nasihatin anaknya sampai anaknya nikah nanti.

Dengan cara apa? Dengan cara bikin video. Kalau jaman sekarang mah, bikin vlog meureun ya. Tapi ini mah vlog-nya bukan tentang diputusin pacar atau pengen belajar beatbox. Isi video-videonya tuh tentang si pak Gunawan yang ngasih nasihat buat anak-anaknya yang saat itu masih kecil. Video-video yang dibuat Pak Gunawan kemudian dititipkan ke istrinya, Bu Itje (Ira Wibowo). Pak Gunawan minta sama Bu Itje untuk ngasih liat video-video yang dia bikin ke anak-anaknya setiap hari Sabtu. Makanya kenapa judulnya Sabtu Bersama Bapak.

Anak-anak Pak Gunawan, Satya (Arifin Putra) dan Cakra (Deva Mahendra) kemudian tumbuh besar dengan nasihat-nasihat yang diberikan ayahnya lewat video-video itu. Nasihat ayahnya mereka jadiin patokan hidup. Sampai akhirnya keduanya dewasa dan sukses, Satya udah berkeluarga dan Cakra udah jadi bos di perusahaan besar. Meskipun udah hidup nyaman, ternyata beberapa nasihat sang Bapak yang diambil mentah-mentah dan dijadikan patokan hidup oleh kedua anaknya malah jadi pemicu konflik di kehidupan dewasa mereka, terutama Satya yang udah berkeluarga dengan Risa (Acha Septriasa).

Pemain-pemain yang dipilih oleh Monty Tiwa, sang sutradara, buat aku mah pilihan yang tepat sekali. Abimana bener-bener karismatik sebagai sosok Bapak, sampai kayaknya kata-kata yang nggak penting, kalau dia yang ngomong mah bisa jadi petuah, dan Ira Wibowo juga cocok banget meranin Ibu yang pembawaannya lembut, Deva Mahendra juga bisa banget bawain peran Cakra yang fun. Adegan favorit aku mah pas… Eh udah ah, bisi jadi spoiler.

Terus, meskipun filmnya bikin baper, tetep ada humornya kok. Jadi nggak terus-terusan sedih, bisa ketawa juga kita. Nah, cuman menurut aku mah, dari segi cerita, asa kurang nyeritain hubungan Cakra dengan Bapaknya, euy. Padahal mungkin kalau diceritain, porsi cerita bakalan jadi lebih seimbang antara Satya dan Cakra. Terus ada beberapa adegan yang tone-nya kurang enak aja di aku. Heu. Dasar, makhluk visual.

Karena aku nggak baca bukunya, aku nggak punya ekspektasi apa-apa sama film ini. Tapi bener kata temen aku, film ini cukup bikin baper, sih, karena abis nonton teh rasanya kangen gitu sama ibu sama bapak aku. Huhu. Ada beberapa adegan yang bikin mata aku keringetan alias ehm, ceurik, tapi sedikit, sih. Hehehe.

Ada beberapa hal yang bisa diambil dari film ini kalau menurut aku. Pertama, udah pasti ini mah, sayangi ortu kalian. Apalagi yang masih ada, harus bersyukur kalau dicerewetin secara live teh. Kedua, ada kalanya kita nggak bisa ambil mentah-mentah suatu nasihat, harus dipikirin juga apa efeknya ke orang-orang di sekitar kita. Terus yang terakhir, nih, bikin rencana buat masa depan itu harus, tapi nggak boleh lupa juga sama masa sekarang. Kalau kalian abis nonton mah pasti bersyukur masih bisa denger ortu cerewet di rumah teh. Beneran.

Comments are closed.