Press "Enter" to skip to content

“Rurouni Kenshin: The Legends End”, Akhir dari Kahupiran Seorang Samurai

Chapter terakhir Rurouni Kenshin: The Legends End akhirnya dirilis oleh salah satu bioskop Indonesia di bulan ini. Film yang menjadi lanjutan sekaligus penutup cerita Kyoto Inferno ini mendapat antusias yang sama besarnya dari kalangan otaku. Kalau pada Kyoto Inferno penonton disuguhi background story dari Makoto Shishio, The Legends End bertumpu pada pertarungan epik terakhir antara Shishio dan Kenshin.

Kenshin terdampar di sebuah pantai setelah gagal menyelamatkan Kaoru yang diculik Shishio. Kenshin yang luka parah kemudian ditemukan oleh gurunya Hiko Seijuro. Kenshin akhirnya sadarkan diri dan langsung meminta Hiko untuk mengajarinya jurus terakhir dari teknik Hiten Mitsurugi, untuk bekalnya melawan Shishio. Sementara itu, Shishio mulai menyebarkan terornya ke pelosok Tokyo.

Singkat cerita, Kenshin yang sudah berlatih keras untuk melawan Shishio harus bertarung dulu melawan dendam kesumat Aoshi, sebelum akhirnya menjadi kambing hitam pemerintah dan akhirnya berhadapan dengan Shishio untuk terakhir kalinya. Tiga hal yang saya pribadi tunggu dari film ini adalah battle Kenshin melawan Soujiro Seta, Shishio yang gigit lehernya Kenshin (aww) daaan AMEKAKERU RYU NO HIRAMEKI! WOOOHOOOOO (otaku alert! otaku alert!).

Untuk film penutup yang menyisakan epic battle terakhir, durasi selama hampir dua jam setengah ini memang terasa membosankan di awal film. Rasanya jika adegan yang kurang penting dihilangkan, kita bisa lebih menikmatinya. Tapi tenang aja, when it comes to sword battle, it is a rainbow and unicorn all over the scenes, so majestic! Jika film Hollywood mendewakan slow motion, aksi yang begitu apik dari swordplay koreografi masing-masing aktornya bikin kalian geekgasm. Satu hal lagi, nggak seperti film live action yang begitu menjual visual effect yang cheesy, kalian nggak akan geuleuh liat api keluar dari tebasan pedang karena porsi visual effect yang disajikan begitu pas lah pokoknya.

Kalau ada beberapa otaku kecewa karena nggak semua battle tersaji di sini (spoiler alert), itu wajar. Tapi menurut saya ini adalah porsi yang paling pas sebagai penutup dari sebuah saga, nggak hambar dan nggak giung. Ditambah lagi scoring film yang pas dan soundtrack dari One Oke Rock memang nggak pernah salah untuk jadi elemen pendukung film ini. So far, secara keseluruhan 3 film live action Rurouni Kenshin ini adalah live action yang paling apik dibuat dan yang paling sukses dari film sejenis yang pernah ada. Rurouni Kenshin: The Legends End worth a solid 8/10.

 

Rurouni Kenshin: The Legends End (2014)
Sutradara : Keishi Otomo
Penulis Naskah : Nobuhiro Watsuki
Durasi : 145 menit
Genre : Action
Pemeran : Takeru Sato. Takei Emi, Tatsuya Fujiwara

Be First to Comment

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *