Press "Enter" to skip to content

Rumah Ini Bernama Bandung

Tepat hari ini Bandung yang kita kenal dan cintai bertambah umurnya dan yang pasti semakin tua. Semakin tuanya umur bukanlah hambatan bagi Bandung untuk terus memberikan kebahagiaan, kegembiraan dan kenyamanan kepada orang yang menetap maupun hanya singgah sejenak di kota ini. Tidak terkecuali saya, seorang pemuda yang memilih dan berusaha untuk dapat berkembang di kota sendiri dibanding di kota lain. Karena kebahagiaan, kegembiraan dan kenyamanan yang Bandung berikan selama 23 tahun saya hidup membuat arti dari sebuah ‘rumah’ lebih dari sekadar tempat berlindung dan istirahat saja. Semua yang ‘rumah’ ini berikan benar-benar membuat rasa bangga dan peduli itu muncul tanpa kita harus bertanya dari mana datangnya perasaan itu.

Waktu berumur empat hingga tujuh tahun, saya benar-benar mengingat bagaimana kegembiraan dan kebahagiaan yang saya rasakan saat diajak orang tua untuk main ke taman lalu lintas, kebun binatang kota atau daerah alun-alun yang dulu masih sangat ramai oleh dua pusat perbelanjaan, yaitu Palaguna dan Kings. Saya pun masih mengingat ramah tamah dan senyum warga Bandung di setiap jalan yang saya lewati saat terpaksa harus pulang sekolah jalan kaki 15 tahun lalu. Tidak lupa juga akan semua makanan dan minuman enak yang bisa saya dapatkan dengan mudah di setiap pojok kota bahkan hingga saat ini. Hal-hal tersebut merupakan pemicu awal terbangunnya konsep ‘rumah’ di kepala ini dan mungkin di banyak kepala lainnya.

Munculnya beberapa masalah vital di Kota Bandung 10 tahun ke belakang seperti macet, sampah, banjir, alih fungsi ruang publik, hingga budaya warganya sendiri, mungkin membuat Bandung yang semakin tua ini sakit. Apalagi jika sampai konsep Bandung sebagai ‘rumah’ di banyak kepala orang-orang perlahan berkurang dan yang paling saya takutkan pada waktu itu adalah berkurangnya kadar kepedulian dan kebanggaan orang-orang yang pernah berpikir arti ‘rumah’ di Kota Bandung ini. Ternyata saya salah, Bandung tetap berkembang ke arah yang lebih baik meskipun banyaknya masalah yang muncul hingga saat ini dan yang paling penting adalah ‘rumah’ ini tetap menyenangkan meskipun sedang ada di situasi yang tidak prima seperti dulu.

Di saat situasi seperti ini, saya masih bisa menikmati nyuruput sekoteng di depan Gedung Sate saat malam hari, mengendarai motor dengan kecepatan 30km/jam pas subuh di Jalan Riau, nongkrong ruang publik yang semakin hari semakin banyak bermunculan, bertemu banyak orang dengan pemikiran dan tindakan positif yang hebat, jalan kaki ke beberapa tempat di kota, hiking ke bukit-bukit kecil yang mengelilingi Kota Bandung dan masih bisa menemukan banyak makanan dan minuman yang enak.

Beberapa hal tadi adalah sedikit contoh bagaimana saya bisa menikmati kota ini yang mungkin bagi beberapa orang hanya dinilai kegiatan yang simpel-simpel saja. Namun jujur saja, saya benar-benar MENIKMATI kegiatan-kegiatan simpel tersebut. Di paragraf akhir ini, saya ingin mengucapkan selamat ulang tahun yang ke-204 pada ‘rumah’ ini. Semoga setiap detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, dan tahun ke depan terus berkembang ke arah yang lebih baik. Di kalimat terakhir ini pun saya hanya meminta satu permintaan, yaitu teruslah menyebarkan virus kegembiraan, kebahagiaan, dan kenyamanan kepada semua orang yang hidup di dalam pondasi ini sehingga kami akan terus bangga dan peduli kepadamu.

oleh: Herman Ngantuk

Foto: Kendru

Be First to Comment

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *