Press "Enter" to skip to content

ROI #9 – Melawan Keterbatasan

Keterbatasan.. Kata Ade Bambang Kurnia, yang biasa dipanggil Adebam, Fotografer ROI-Zine, keterbatasan itu seperti garis putus-putus di tengah kertas polos A4. Saya nggak ngerti maksud analoginya. Setelah dicecar dengan pertanyaan-pertanyaan kritis, maksudnya Adebam ternyata.. Intinya, keterbatasan itu jadi penghalang buat kita untuk melangkah lebih jauh. Apa hubungannya dengan garis putus-putus?? Nggak ada, katanya. Ya, biarin lah, saya maafin analogi suka-sukanya Adebam. KOMPOR GAS!

Saya setuju. Keterbatasan itu penghalang. Keterbatasan ekonomi misalnya, bikin kita nggak bisa beli mobil, motor, atau rumah sendiri. Keterbatasan pengetahuan, bikin kita gampang dibohongin orang. Atau keterbatasan usia, bikin kita nggak bisa masuk ke acara 18+. Satu lagi, deh. Keterbatasan air, bikin kita haus.

Tapi bukan berarti keterbatasan itu nggak bisa dilewati. Jadi inget. Kalau kata Pandu, Managing Editor ROI-Zine, “keterbatasan” itu Ipank. Hah? Kata dia, kalau denger “keterbatasan” jadi inget lagunya Ipank, Sahabat Kecil, yang liriknya gini : “Melawan keterbatasan, walau sedikit kemungkinan, takkan menyerah untuk hadapi, hingga sedih tak mau datang lagi”. Teu~

Tapi okelah, saya juga setuju sama Pandu dan Ipank, kalau keterbatasan itu harus dilawan. Kalau kita punya keterbatasan ekonomi, ya, cari uang. Keterbatasan pengetahuan, ya, banyak baca, belajar yang rajin. Terus keterbatasan usia, pengen masuk ke acara 18+, ya, bikin we KTP palsu, gimana caranya we. Maksud saya, keterbatasan itu bisa dilawan dengan kreativitas. Atau sebaliknya, dari keterbatasan muncul kreativitas.

Gini, deh. Karena hari ini, 1 Desember bertepatan dengan Hari AIDS Sedunia, saya mau cerita dikit soal teman-teman di Rumah Cemara. Mereka bukan orang-orang yang sehat secara jasmani kayak saya, atau kamu. Tapi nyatanya, mereka bisa bikin “sesuatu” yang luar biasa keren. Iya, udah pada tau meureun, mereka beberapa tahun terakhir menorehkan prestasi di Homeless World Cup.

Kalau inget 4-5 tahun lalu ketika Ginan dan teman-teman memperkenalkan konsep melawan stigma dan diskriminasi  (yang jadi “keterbatasan” mereka) lewat sepakbola. Gimana sulitnya mereka mencapai itu, dari mulai susah nyari dana, kurangnya perhatian pemerintah sampai pandangan negatif dari masyarakat. Tapi mereka nggak nyerah, tuh. Ya buktinya bisa kalian liat sekarang. Mereka berhasil!

Itu contoh aja, sih. Buat motivasi kita. Motivasi akhir tahun, hehehe. Saya nggak mau nyebut resolusi. Karena menurut KBBI, resolusi itu “putusan atau kebulatan pendapat berupa permintaan atau tuntutan yang ditetapkan oleh rapat (musyawarah, sidang)”. Iya, saya nggak pernah tuh rapat dulu, musyawarah dulu, apalagi sidang sama warga Bandung untuk jadi pribadi yang lebih baik di tahun depan. Hehe.

Ya… Selamat akhir tahun, selamat menemukan motivasi akhir tahun kamu, selamat melawan keterbatasan. Saya tutup pakai pepatah dari Arnold Schwarzenegger :

The mind is the limit. As long as the mind can envision the fact that you can do something, you can do it, as long as you really believe 100 percent.”

Keterbatasan Otot.
Keterbatasan otot.

 

Regards,

Editor In Chief

 

Boniex Noer

 

__________________________

Foto “Dilarang Parkir” : Ade Bambang Kurnia

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *