Press "Enter" to skip to content

ROI #8 – Ingin Jadi Jagoan?

Halooooo, kembali lagi bersama editorial ROI! Kali ini edisi bulan November ! November. Ada apa di bulan November? Kalau kata Axl Rose dan Guns n Roses, ada hujan di bulan November. Kalau kata Vina Panduwinata, ada keceriaan di bulan November! Eh salah ketang, eta mah September. Muupin eaps.

Oke, jadi, di bulan November itu ada Hari Pahlawan sob! Tepatnya tanggal 10 November. Memperingati keberanian para pahlawan kita ketika mengusir para penjajah. Kenapa mesti 10 November? Bukannya ada tanggal-tanggal lain, yaah, jawabannya adalah mungkin, karena pertempuran 10 November itu salah satu pertempuran paling krusial dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Karena, seperti kata orang bijak (teuing saha tapi) mempertahankan kemerdekaan itu jauh lebih sulit daripada memperjuangkannya. Jadi, waktu itu, pertempuran ini bisa dibilang salah satu pertempuran awal dalam mempertahankan Indonesia.

Ingat, Indonesia itu baru resmi lahir tanggal 17 Agustus 1945. Kalau dirunut, panjang, tapi lahir secara resmi yang tanggal segitu. Punya rakyat, wilayah, dan KEDAULATAN (syarat Negara menurut konvensi Montevideo nih), ya baru tanggal segitu. Baru tanggal segitu Indonesia dapat kedaulatan, dengan menyatakan merdeka dari jajahan Jepang. Tapi ya, seperti yang kebanyakan warga kreatif sudah pelajari di sekolah, Belanda kekeuh balik lagi ke Indonesia. Jadi ya pada akhirnya harus dihajar oleh para pahlawan.

Terus apa hubungannya hari pahlawan dan jagoan? Banyak. Terutama dalam bidang mispersepsi. Ish, kenapa mispersepsi? Gini. Pahlawan itu siapa, sih? Pasti kebanyakan jawab mereka yang ikut BERPERANG membela negaranya. Ini,nih, yang suka jadi salah persepsi. Berperang itu erat sekali dengan sesuatu yang berbau militeristik. Jadi yah, pahlawan teh yang ikut dar der dor tetembakan. Padahal mah ya nggak selamanya harus begitu. Bagi saya, pahlawan itu mereka yang berani menegakkan kebenaran ketika orang di sekitarnya bilang dia salah. Kebenaran itu relatif. Tapi, kalau dalam kenegaraan, sepertinya kita bisa bilang kebenaran itu UUD 1945 beserta turunan-turunannya, berarti, hukum. Hukum yang mengatur dalam Negara.

Balik dulu ke dar der dor tadi. Karena masih banyak yang beranggapan bahwa pahlawan adalah yang bersifat militeristik, jadi mungkin ini berpengaruh sama prilaku kekerasan gitu. Kasarnya mah, kalau kalian ngejago teh berarti kalian kayak pahlawan gitu. Padahal mah nggak ih. Da dulu juga Belanda ngejajah Indonesia pasti sok ngejago gitu atuh. Apalagi yang pas balik lagi, itu pasti arogan pisan, lah. Nah, yang kayak gitu bisa disebut pahlawan? Ya realtif deui, da mereun kata orang Belanda mah mereka ya pahlawan-pahlawan juga. Cuma ya gitulah pasti, kontroversial, apalagi cara-caranya melanggar nilai yang dianggap universal: HAM.

Oke, sekarang kita bergerak ke pertanyaan, “atuh kalau gitu, pahlawan yang dar der dor bisa nggak bisa disebut pahlawan?” Oh ya bisa dong, kan beliau-beliau ini bertempur demi mempertahankan sebuah nilai krusial yang pada waktu itu baru lahir, Indonesia itu sendiri. Kalau gagal, nanti Indonesia dijajah lah, dan semua nilai itu jadi irrelevan, karena negaranya aja nggak ada, gimana mau ada nilai-nilainya ? Nah, kurang lebih begitu lah.

Jadi, kalau sekarang mau jadi pahlawan, gimana caranya? Ya gitu deh, menaati hukum yang ada, demi kemaslahtan *halah* orang banyak. Contohnya? Sederhana aja. Berhenti di lampu setopan ketika lampu sudah kuning –apalagi merah- misalnya. Kamu sadar nggak, kalau kamu nerobos lampu merah yang baru merah, itu kamu sudah melanggar hukum dan mengambil hak orang lain, demi hak kamu. Kamu egois. Iya mungkin kamu nggak akan ditangkap polisi, tapi coba lihat efeknya ke orang lain, orang lain mau lewat kehalangan kamu, dan kamu berpotensi bikin macet. Itu sangat egois dan tidak heroik. Coba kamu berhenti pas lampu kuning. Kamu kehilangan hak kamu, tapi kamu melindungi hak orang banyak. Terdengar sederhana, tapi itu sangat heroik. Sangat berkepahlawanan gitu. Kamu bisa jadi pahlawan lalu lintas dengan begitu. Sederhana kan?

Maka dari itu, nggak usah sok-sokan kayak jagoan kalau mau jadi pahlawan. Ngaca, terus Tanya sama diri kamu sendiri, apa yang sudah kamu perbuat untuk orang banyak ? Kalau belum banyak, tambah! Kan mau jadi pahlawan!

 

Bima Prawira Utama

 

 

foto: Prastya Pandu

 

 

 

 

Be First to Comment

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *