Press "Enter" to skip to content

ROI #7 – Membinatangkan Binatang

Guk, guk guk guk guuuk gukukuk guk. Meong, guk mooo, guk guk guk. Guk meong. Guk. Gukguk. Meong me meong meong ong me me ong. Moo moo mbeek, mbek moo meong. Ong guk me. Meong cit, cuit. Cit cuit.

konyaku

Nah, udah makan itu mah jadi ngerti. Oh, jadi itu maksudnya tadi si Sapi, si Kambing, si Anjing, si Burung bilang, “Oi! Warga kreatif, jangan lupa dong bulan Oktober tea gening!”. Akhirnya saya iya-iyain aja. Memang ada apa,sih, di bulan Oktober ? Bulan Oktober adalah bulan di mana kita merayakan hari binatang sedunia, tepatnya pada tanggal 4. Memang, apa pentingnya,sih, hari binatang sedunia ini ? Oh penting, penting banget. Hari ini adalah hari yang mengingatkan kita sebagai binatang tercerdas di dunia. Tapi, justru karena cerdas, berarti kita bisa memikirkan konsep etika. Mungkin agak bikin bingung, tapi ya intinya, etika itu perlakuan kita terhadap sesuatu yang berpaku pada nilai moral. Jadi, ini menyangkut masalah tanggung jawab juga.

Nah, bagi yang percaya, kita kan diberi pertanggungjawaban untuk ‘mengurus’ dunia ini. Manusia seringnya salah urus. Maka dari itu ada novel berjudul Salah Asuhan. Eh tapi bukan mau bahas itu. Jadi yah, manusia itu semacam punya hak, tapi haknya bukan hak yang berbau natural, melainkan semacam keuntungan yang diberikan oleh Tuhan yang bernama akal pikiran. Dengan akal pikiran, manusia bisa melakukan sesuatu yang melebihi batas kemampuan fisiknya.

Seperti yang kita tahu, manusia kekuatan fisiknya ya ‘segitu-segitu aja’,nggak mungkin manusia bisa sekuat gajah, secepat cheetah, bisa berenang secepat ikan layar, bisa berganti gigi seperti buaya, dan masih banyak lagi kemampuan fisik binatang yang tidak bisa kita lampaui. Namun, kita bisa mendobrak segala kekurangan itu dengan akal pikiran. Dengan akal pikiran, kita mampu berpikir secara logis, yang pada ujungnya, kita bisa menciptakan perkakas. Nah, dengan perkakas inilah kita bisa mendominasi keberadaan binatang dan tumbuhan. Dengan tombak nenek moyang kita menombak Mammoth, seperti sekarang dengan pisau kita bisa menyembelih sapi. Tidak mungkin kan menombak Mammoth dan menyembelih Sapi dengan tangan kosong ? Kecuali kamu Herkules.

Selain diberi akal pikiran untuk membuat perkakas tadi, kita juga diberi akal pikiran agar bisa memikirkan tanggung jawab. Tanggung jawab terhadap akal dan pikiran yang kita punya. Kalau kata Om Ben Parker “with a great power, comes a great responsibility”. Ada tanggung jawab moral yang kita tanggung di sini. Nggak berarti karena kita bisa, maka kita boleh. Kita bisa saja berburu Singa buat dijadikan hiasan unik di ruang tamu rumah. Kita bisa saja membunuh Ikan Paus untuk menguji coba sejauh mana karya kita bisa mengalahkan binatang laut yang seperti monster itu. Kita bisa juga menginjak kucing liar sebagai pelampiasan stress. Bisa saja. Tapi apa boleh ? Sebenarnya boleh saja, tapi ya itu tadi, kalau kamu bilang boleh, berarti kamu tidak punya rasa tanggung jawab. Bukan karena hanya kita lebih kuat, kita bisa seenaknya seperti itu. Tanpa memburu Singa, menembaki Paus, dan menyiksa Kucing Liar, kita masih bisa hidup, kan ?

Lalu, bagaimana dengan sapi, ayam, kambing, ikan yang kita makan ? Bukannya kita semena-mena juga dengan mereka ? Dibesarkan, lalu dibunuh ? Kita juga bisa hidup tanpa makan mereka kan ? Going vegan gitu ? Nah, ini, di sinilah kita bisa mengaitkan dengan judul di atas. Membinatangkan binatang. Memang ada binatang yang ‘bernasib’ untuk dimakan. Ini bukan konstruksi manusia. Ini hukum alam. Nggak percaya ? Coba tanya sama semut yang dimakan oleh Tringgiling, atau Ular yang dimakan oleh Burung Elang. Burung Elang dan Tringgiling tidak bisa berpikir tentang moral, jadi tindakan mereka adalah murni insting. Insting adalah bawaan dari Tuhan, jadi ya bagi saya, Elang makan Ular adalah tindakan yang natural. Begitu juga dengan manusia. Manusia makan daging, adalah hal yang natural.

Etika manusia diuji dalam proses produksi daging itu sendiri. Kita tidak boleh menyakiti binatang ternak, lalu binatang ternak sendiri harus dimatikan secara cepat dan tanpa rasa sakit. Ini dilakukan dengan penggunaan bolt gun (coba googling deh), dan metode penyembelihan yang benar. Ini adalah titik tertinggi etika manusia pemakan daging (berkenaan dengan makanannya). Tentu, ada juga orang-orang yang berpandangan lain. Ada yang berpandangan manusia, binatang, dan tumbuhan adalah sesama earthlings. Atau makhluk bumi. Untuk lebih jauhnya, bisa warga kreatif baca nanti di sesi review film bulan ini.

Masih berkaitan dengan judul di atas, membinatangkan binatang. Itu maksudnya apa ? Iya, jadi kita harus menempatkan binatang pada tempatnya. Sebagai binatang. Bukan sebagai objek yang bisa disiksa tanpa keperluan yang penting seperti makan. Bisa juga diartikan bahwa binatang harus diperlakukan seperti binatang. Pernah dengan Cesar Millan? Pelatih anjing kenamaan ini punya konsep yang seperti itu: perlakukan lah anjing sebagai anjing, bukan sebagai anak. Ini juga contoh membinatangkan binatang, memang seperti itu, kita tidak akan pernah bisa memperlakukan anjing seperti manusia. Karena anjingnya sendiri mungkin tidak suka diperlakukan seperti manusia. Anjing inginnya diperlakukan seperti anjing.

Begitulah editorial untuk bulan Oktober ini. Pertanyaannya, apakah kita siap membinatangkan binatang ? Makhluk hidup yang juga punya hak, seberapa bijak kah kita terhadap mereka ? Silahkan tanyakan pada diri sendiri.

 

Guk, guk guk, meong, Bima Prawira Utama.

Be First to Comment

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *