Press "Enter" to skip to content

ROI #14 – Keseimbangan

Keseimbangan. Tentu kamu langsung yakin bahwa kata dasarnya yaitu imbang. Persikabo Kabupaten Bogor imbang melawan PS Cijambe. Eh, beda lagi ketang itu mah.

Menurut KBBI, keseimbangan berarti keadaan seimbang. Singkat sekali. Tapi begitu adanya. Keadaan yang terjadi apabila semua gaya dan kecenderungan yang ada tepat diimbangi atau dinetralkan oleh gaya dan kecenderungan yang sama, tetapi berlawanan, kalau dalam ilmu fisika. Lalu, kenapa ROI! mengambil tema keseimbangan untuk bulan Oktober tahun ini? Suka-suka kami. Singkat sekali, kan?

Bulan ini ada satu tanggal penting yang, bisa jadi, sering luput dari perhatian kita. Hari Kesehatan Jiwa Sedunia, 10 Oktober nanti. Hari di mana World Health Organization (WHO) sejenak mengingatkan dunia bahwa kesehatan jiwa itu perlu diperhatikan, tentunya agar nggak sampai mengalami gangguan jiwa.

Kata Ayu Jessy, reporter kami yang sedang melanjutkan pendidikan di tingkat magister, jiwa kita harus termasuk pada jiwa-jiwa yang seimbang. Mantap. Tujuannya, ya, agar nggak berat sebelah atau timpang. Yin yang. Kalau kata Adebam, “stop kampanye!”, soalnya karena kampanye politiklah kebanyakan orang-orang mengalami stres. Apalagi buat si kalah. Adebam si cerdas.

Tahun 2015 ini, WHO menetapkan tema Dignity in Mental Health untuk hari kesehatan jiwa, dengan maksud meningkatkan kesadaran, apa yang dapat dilakukan untuk memastikan bahwa orang-orang dengan kondisi kesehatan jiwa teh bisa terus hidup dengan perlakuan yang adil gitudeh. Yaaa, dasarnya Hak Asasi Manusia, lah. Udah harus dinasihatin kalau udah gede gini masih suka bersenandung “nu gelo mawa runtah“. Kalau perlu mah diajarin kunci gitar theme song Dunia Binatang yang di Trans 7 tea, biar isi kepalanya cuma mikirin Dolphino. Naon.

Secara nggak sadar, mereka yang mengalami gangguan mendapat perlakuan diskriminasi, adanya stigma sosial dan terpinggirkan. Contoh kecilnya ketika mereka “dilepas” begitu aja oleh keluarganya ke jalanan. Ditambah pemerintah yang belum mampu sepenuhnya mengatasi permasalahan ini. Kadang juga, tanpa disadari, kita kayak menjauhi mereka. Entah itu karena takut, atau alasan apa pun yang menjadikan kita jauh.

Padahal, kita juga sangat rentan mengalami gangguan jiwa ringan siah. Berdasarkan data riset Kementerian Kesehatan yang dikeluarin tahun 2014, sekitar 19 juta pasien mengalami gangguan jiwa ringan di Indonesia. Faktornya bisa diakibatkan oleh masalah pribadi, stres, beban dan tekanan hidup yang tinggi. Belum lagi lingkungan sekitar, macam digitek motor di jalan, kena tisu bekas yang dilempar dari mobil batur, juru parkir yang asal narik tarif dengan alasan dollar naik, pipis jadi 2 ribu, bab 5 ribu, web kena suspend gara-gara kena virus, atau baru bikin teh manis langsung digembrong sireum. Rentan bikin depresi. Makanya hati-hati, harus banyakin hepi.

Apa yang menjadi fokus kami di bulan ini adalah kiat menyeimbangkan jiwa, dengan sejenak mendinginkan kepala di tengah kondisi kota yang makin hari makin sibuk, makin cepat dan nggak toleran bagi si lengah. Satu hal yang sebenarnya mudah untuk kita lakukan, semudah bercengkerama dengan tetangga di pagi buta membicarakan harga sembako atau toa tukang bakpau yang khas dan menggema. Bandung punya segalanya untuk kita dalam usaha mencapai keseimbangan jiwa.

Dengan penuh senyuman,

Editor in Chief,

Pandu Arjasa

Foto: S. Krishna M. Reza

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *