Press "Enter" to skip to content

ROI #13 – Sauyunan

Halo pembaca ROI! nggak terasa kita sudah menginjak bulan ke-4; April ! Seringkali bulan ini diawali dengan sebuah kebohongan. April Mop. Tapi kalau saya nggak gitu sih, soalnya udah mulai garing-garing gitu April Mop tuh. Bulan April itu ada apa aja,sih? Sebenarnya ada banyak sih, saking banyaknya sampai nggak bisa ketulis di sini. Tapi yang pasti mah, April ini ada yang ulang taun! Iya nggak,sih? Iya kaaann, pasti kaan?

Oke. Mari mencoba lebih spesifik lagi. April 2015. Bandung. Ada apa? Seperti yang sudah dibilang, ada banyak banget event, tapi sepertinya yang bakal paling mencolok, karena memengaruhi tata kota Bandung (wow!) adalah peringatan Konferensi Asia Afrika (KAA) yang ke-60! Wow (lagi)! Spektakuler! Tapi emang, apa sih pentingnya KAA ini sampai-sampai jantung Kota Bandung harus dirombak gitu? Oke, karena saya baik hati dan kebetulan lulusan Jurusan Hubungan Internasional, saya bisa cerita sedikit banyak tentang KAA dan Kota Bandung.

Jadi begini. 60 tahun yang lalu, di Kota Bandung ada sebuah peristiwa besar yang bisa dibilang mengguncang perpolitikan dunia. Di masa itu, sedang terjadi Perang Dingin. Perang Dingin adalah sebuah masa di mana ada tensi politik (dan militer) antara Amerika Serikat (AS) dan Uni Soviet (US). Pada masa itu, sistem perpolitikan dunia terpecah menjadi dua, istilah teoritisnya Bipolar. Jadi ketika terjadi situasi bipolar dalam perpolitikan dunia, negara-negara kecil yang tidak termasuk dalam bipolar ini (dalam kasus ini AS dan US) mau tidak mau harus memilih mengikuti salah satunya. Naaahhhh, si KAA ini menjadi hipster dengan membuat pilihan ke-tiga! Gerakan Non-Blok yang tidak mengikuti Blok Barat (AS) dan Blok Timur (US). Pada masa itu, pilihan seperti GNB ini adalah sesuatu yang sangat hebat, dan bisa dibilang sebagai tonggak bersejarah, karena mereka memilih untuk tidak memilih. Keren kan? Keren dong. Makannya KAA menjadi sesuatu yang penting.

Nah, untuk masa sekarang, apa sih pentingnya KAA? Seperti banner-banner di jalanan yang suka kamu lihat: strenghthening south-south cooperation, to promote peace and prosperity; memperkuat kooperasi Selatan-Selatan untuk mempromosikan perdamaian dan kemakmuran. Terdengar aneh ya, Selatan-Selatan? Okeeee saya jelaskaaannnn. Jadi, dalam teori-teori tentang kemajuan dunia, ada istilah North-South Divide, jurang Utara-Selatan. Ini maksudnya adalah bagaimana ada jurang antara negara-negara maju yang kebanyakan berada di Utara, dan negara-negara berkembang yang kebanyakan berada di Selatan. Jadi, Selatan-Selatan ini ya semacam mempererat kerja sama negara-negara berkembang –yang kebanyakan berada di benua Asia dan Afrika- untuk kemakmuran dan perdamaian bersama. Mantap bukan? Mantap. Mau yang lebih mantap lagi ? Mari kita lihat tempat diadakannya KAA.

Bandung. Sebuah kota yang berada di tatar Parahyangan. Tatar Sunda. Bukan bermaksud rasis, tapi saya sendiri nggak belajar bahasa daerah lain selain Bahasa Sunda. Tetapi, dalam Bahasa Sunda ada satu kata yang nggak ada padanannya di dalam Bahasa Indonesia, namun kata tersebut dapat menaungi semangat dari KAA baik yang 60 tahun yang lalu maupun KAA yang sekarang, dan kata ini jugalah yang menjadi tema kita bulan ini: Sauyunan. Sauyunan apabila didefinisikan ke dalam Bahasa Indonesia artinya kurang lebih: sa artinya satu atau bersama-sama, uyun artinya melangkah, jadi kurang lebih sauyunan berarti melangkah bersama-sama.

Melangkah bersama-sama. Namun, melangkah bersama-sama ini bukan hanya melangkah begitu saja, tetapi juga melakukannya dalam suasana harmonis dan gembira. Benar-benar melangkah bersama berbarengan dari hati yang terdalam. Kiranya begitulah semangat KAA dapat digambarkan oleh kota Bandung ini. Negara-negara Asia dan Afrika bersama melangkah dalam damai dan bahagia untuk menciptakan masa depan mereka masing-masing yang lebih cerah.

Dikaitkan lagi dengan Kota Bandung tadi, kenapa sih penting banget KAA sampai harus rombak sana-sini ? Jujur, saya sendiri melihat jantung Kota Bandung sudah cukup bagus. Nggak perlu rombak habis-habisan. Tapi mungkin, ada satu perhitungan dari para petinggi Kota (dan negara mungkin?) untuk mempermak wajah kota Bandung dengan sebaik-baiknya, sebuah kata yang memiliki citra negatif bagi pembaca dan pendengar berita politik setia Indonesia: Pencitraan. Ya, pencitraan bahwa Kota Bandung adalah kota yang indah dan pantas menjadi tuan rumah KAA.

Buruk kah? Nggak. Asal tau aja, konsep awal pencitraan adalah sesuatu yang positif. Membuat sesuatu menjadi TERLIHAT (LEBIH) MENARIK. Konsep yang sebenarnya sangat lumrah digunakan di dunia komersil seperti dalam iklan. Memakai sampo nggak bikin rambut kamu dikelilingi es batu, kan? Tetapi itu mencitrakan si sampo memiliki efek menyegarkan. Negatif? Nggak,kan? Demi keperluan promosi. Nah, kalau mau melihat dari sisi positifnya, kurang lebih seperti itulah alasan kenapa jantung Kota Bandung harus dipermak. Di sini, tentunya Pemkot nggak bisa sendirian. Harus ada juga usaha dari kita. Ngapain,tuh? Ikut bantu-bantu? Nggak. Nggak usah. Nge-tweet? Nggak gitu ngefek. Terus apa? Gampang: jangan banyak ngeluh.

Bagi saya, jangan banyak ngeluh seperti itu adalah salah satu cara untuk melakukan si sauyunan ini. Senyum aja walaupun kesel. Mungkin, mungkin, hasilnya bakal positif. Mungkin nanti para pemimpin negara lain bakal bilang kalau Bandung itu kota yang luar biasa dan mau investasi di Bandung. Penting? Penting, membuka lapangan kerja. Jadi dikuasai asing? Selamat datang di dunia yang sudah terglobalkan. Kamu nggak bisa lari dari situ. Belajarlah berenang di dalam arus globalisasi. Mungkin begitu kiranya, dan jangan lupa juga semangat sauyunannya: berenang bersama dengan gembira di dalam arus globalisasi!

Kiranya begitulah artikel editorial yang bulan ini datangnya terlambat.

 

 

Salam Tempel,

Bima Prawira

 

_________________________

foto: Ade Bambang

 

 

Be First to Comment

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *