Press "Enter" to skip to content

ROI #12 – Rekam!

Haiiii ! Bulan Februari  pendek banget, ya? Kayaknya baru kemaren saya nulis editorial, eh sekarang udah harus nulis lagi. Masuk Maret setelah Februari yang spektakuler dengan banyaknya berita yang tidak masuk akal di televisi. Menyebalkan sih, nempel di kepala gitu berita-berita yang jelek, tuh. Terutama yang itu , Komodo vs T-Rex. Eh kejauhan nyak ? Okelah. Maret, Maret, Maret. Ada apa aja dengan Maret? Oh, ternyata ada Hari Musik Nasional, Hari Film Nasional, dan Peringatan Bandung Lautan Api. Wah, seru yah kelihatannya agendanya. Seru dong! Makannya, ikutin berita-berita di web kita terus, pasti kamu bakal update banget sekali pisan lah.

Nah, omong-omong tentang hari musik, film, dan Bandung Lautan Api, sebenarnya ada satu benang merah yang bisa ditarik dari 3 event itu: tentang rekaman dan sejarah.  Iya, jadi musik dan film adalah contoh dari sesuatu yang direkam. Musik merekam suara yang dirangkai menjadi melodi indah (kadang jelek juga sih, gimana selera), sedangkan film merekam gerakan-gerakan yang dirangkai menjadi cerita yang indah. Keduanya adalah bagian dari sejarah. Oh iya, kalau mau ditilik ke belakang, yang membedakan sejarah dan prasejarah adalah tulisan. Tulisan adalah bentuk awal dari rekaman. Ia merekam kejadian yang terjadi pada masa itu, dan men-transfer-nya ke masa depan.

Kiranya, begitulah rekaman bekerja. Ia merekam zaman. Memasukkannya ke dalam ingatan yang akan kekal, dan bisa dilihat kembali oleh orang-orang di zaman selanjutnya. Medianya tentunya ada banyak, entah itu tulisan, sebagai bentuk yang paling tradisional, atau suara, atau gambar, dan tentunya yang paling canggih, suara dan gambar. Kesemuanya mampu menjalankan tugas untuk menyampaikan pesan-pesan tersebut. Pesan-pesan pada suatu zaman.

Foto di bawah ini adalah contoh dari rekaman sejarah.

Ini adalah foto ketka tentara wanita Indonesia mengungsikan warga menjauh dari Bandung yang terbakar. Foto ini diambil dari masa Bandung Lautan Api, di mana para warga Bandung membakar kotanya sendiri agar nggak jatuh ke tangan penjajah. Mungkin terkesan gila, seperti membakar pacar sendiri daripada melihat dia jalan dengan orang lain. Tapi bukan begitu, sebenarnya ini adalah tidak membiarkan keuntungan strategis jatuh ke tangan lawan. Bagaimana prosesnya bisa kita lihat melalui rekaman berupa foto dan tulisan. Rekam foto yang ada, ditemani dengan ilustrasi tulisan mengenai foto tersebut. Cociks!

Namun, selain sejarah, ternyata ada satu lagi yang bisa kita rekam. Karya. Yang lagi kamu baca, adalah sebuah rekaman dari saya yang berumur 20-sekian tahun, yang sedang getol-getolnya membaca segala sesuatu yang berkenaan dengan Jepang, yang sedang menjalankan proses studi S2, yang sedang jatuh cinta, dan lain-lain. Inilah karya saya ketika saya merekamnya dalam kondisi seperti itu. Karya ini akan kekal, selama datanya nggak hilang. Apakah ini penting? Mungkin. Seandainya suatu saat saya menjadi penulis besar gitu (amiin) tulisan ini bisa saja menjadi arsip langka yang mampu memperbandingkan saya di masa itu, dan saya di masa sekarang.

Nah, berbicara tentang karya, tentunya akan sangat berkenaan dengan kreatifitas. Kreatifitas apabila disandingkan dengan Kota Bandung, akan menjadi satu kombinasi maut bernama; Skena Indie. Ya, sejak lama Kota Bandung memang dikenal dengan skena musik indie-nya yang luar biasa mewah. Apapun bisa kamu dapat di kota ini. Musik punk yang luar biasa kurang ajar seperti Turtle Jr., musik progresif yang rumit seperti Ballerina, musik keras seperti Burgerkill, musik yang mengalun indah sepeti Mocca, dan masih banyak lagi band-band indie Bandung yang telah menggoreskan namanya di sejarah musik Indonesia. Bagaimana perkembangannya sekarang ini? Makin asik! Sekarang di Bandung sendiri makin banyak band-band indie yang bergeriliya. Kok bisa? Sederhana. Ini ditunjukkan dengan munculnya banyak label musik indie di Bandung (nantinya bakal ada artikel khusus, tentang label rekaman di Bandung, stay tune!). Jadi, band-band ini mampu menyalurkan karyanya tanpa harus bersusah payah mengikuti selera pasar yang begitu-begitu saja, atau mengeluarkan biaya sendiri untuk melakukan rekaman.

Mungkin perkembangan label-label seperti ini adalah sesuatu yang nggak terbayangkan sebelumnya. Sama aja ketika orang-orang nggak bisa membayangkan setumpuk kertas setinggi puluhan meter yang bisa dimasukan ke dalam cakram optik yang hanya sebesar cengkraman tangan manusia. Iya. Media untuk merekam makin lama makin berubah. Ketika dahulu kala media rekaman adalah batu dan pahat, maka pada zaman ini, media rekaman hanyalah sebesar kuku manusia. Bisa dilihat dari media-media penyimpanan data yang makin hari makin kecil saja. Bersamaan dengan perkembangan tersebut, berkembang juga lah apa yang bisa direkam. Oleh karena itu, musik dan film makin berkembang dan makin menggila. Semua berjalan seiringan dengan perkembangan perekam itu sendiri.

Nah, sekarang udah kebayang, kan? Bagaimana pentingnya rekam-merekam? Iya. Rekam-merekam sudah bukan perkara dokumentasi saja. Bisa juga perkara untuk berkarya. Karya yang direkam adalah karya yang niscaya akan kekal. Bahkan ketika orang lain tidak ada yang mengingatnya. Media perekam akan selalu mengingatnya. Selama nggak rusak. Sama seperti Bandung Lautan Api yang akan selalu dikenang oleh orang Bandung, karya-karya yang dihasilkan oleh siapapun, selama ia masuk dalam media rekaman, niscaya ia akan menjadi sebuah jejak api yang kekal abadi.

 

Salam kepanasan,

Bima Prawira.

 

________________________

foto: Trifa News /Dok. ROI

Be First to Comment

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *