Press "Enter" to skip to content

ROI #11- Kita Tidak Hidup di Dunia Monokrom

Waduh, nggak kerasa, nih, udah masuk Februari. Berarti, 11 bulan lagi kita masuk tahun 2016! Nggak kerasa, ya? Tapi edan, selama sebulan aja, negara ini udah gonjang-ganjing sama berbagai macam hal. Dari tragedi kemanusiaan pesawat jatuh, orang nyetir pake LSD, sampai ribut-ribut pejabat yang nggak jelas itu. Ditambah lagi isu penistaan agama dan pembunuhan yang berkaitan sama majalah di Prancis. Tapi ya, itulah hidup. Mungkin di TV kita lihat yang jelek-jelek terus, tapi kalau lihat di kehidupan sehari-hari, tentunya masih banyak lah hal yang bisa bikin kita senyum. Mungkin melihat teman kamu terjatuh di kantin karena kepeleset? Pasti pikaseurieun. Atau mungkin lihat adik kamu yang masih kecil baru belajar ngomong, bikin senyum tentunya. Atau mungkin juga main ke Alun-alun Bandung yang baru? Ah banyak,lah! Berwarna-warni hidup teh. Nggak cuma hitam-putih.

Cerita dikit, nih. Dulu waktu kecil, kalau ibu saya lagi kasih lihat album foto yang ada nenek dan kakek, saya suka rada mikir: “apa enaknya hidup di jaman dulu? Orang-orang cuma bisa ngeliat item-putih doang”. Namanya juga anak kecil, ya. Suka tolol. Nah gitu, saya dulu mikir, kalau di jaman dulu warna itu cuma ada item-putih aja, gara-gara foto. Tapi, kan, ternyata nggak. Ternyata ya sama kayak sekarang.. warna-warni..

Nah, kalau diibaratkan sama kehidupan sekarang, saya, sih, sering menemukan banyak banget orang yang pikirannya masih kayak saya waktu masih kecil , malah mungkin lebih parah lagi, karena ini lahirnya dari pemikiran. Pemikiran hitam-putih. Dikotomi. Definisi KBBI (Kamu Besar Bahasa Indonesia), dikotomi berarti “pembagian atas dua kelompok yang bertentangan”. Nah, saya sering  ngeliat pemikiran kayak gitu belakangan ini. Terutama di media sosial. Emang media sosial bisa jadi ukuran? Oh bisa banget. Media sosial itu bisa dibilang sampel dari populasi orang-orang yang cukup pintar untuk bisa bikin akun media sosial. Minimal terpelajar, lah. Kan, nggak mungkin kalau nggak terpelajar bisa bikin akun media sosial? Ya, nggak?

Sayangnya, di antara orang-orang terpelajar ini banyak banget yang masih berpikir dikotomis. Membagi tadi. Hitam-putih. Misalnya gimana? Misalnya gini: ketika si A nggak setuju dengan isu X, maka dengan otomatis ia setuju dengan Y. Terdengar familiar? Atau biar gampang gini, deh. Ketika saya nggak setuju dengan isi konten majalah Charlie Hebdo, secara otomatis banyak yang menilai saya setuju dengan para manusia biadab yang menembaki mereka. Kalau nggak putih (setuju dengan Charlie Hebdo) ya hitam (setuju dengan penembak). Emang gitu? Nggak! Saya sendiri nggak setuju dengan isi konten majalah Charlie Hebdo, tapi saya juga mengutuk para penembaknya karena bagi saya dua-duanya sama-sama salah. Nah, ini adalah contoh pemikiran yang sangat dikotomis. Karena  di dunia ini, kebenaran nggak cuma ada dua. Ada banyak, semuanya saling berkaitan dan semuanya sangatlah kompleks.

Kalau kamu baca kisah Mahabarata yang asli, yang hasil render dari Rajagopalachari, pasti pemikiran kamu tentang hitam-putih akan berubah total. Dari dulu, di mana-mana selalu dibilang kalau Kurawa itu jahat, Kurawa itu hitam, sedangkan Pandawa itu baik, Pandawa itu putih. Apa demikian? Bukan. Ini masalah peran. Peran mereka di kisah itu, sebagai antagonis dan protagonis. Siapa yang menentukan? Tentunya si pengarang. Tapi, tahukah kamu, kalau Kurawa itu sebenarnya ingin memimpin Kerajaan Hastinapura dan membahagiakan rakyatnya, tapi ya caranya memang salah, sehingga akhirnya mereka berperang dengan saudara mereka sendiri para Pandawa. Tapi, jarang yang tau, kan, kalau pada akhirnya para Kurawa yang tewas di pertempuran Kurusetra pun akhirnya masuk surga? Nah. Ini menunjukkan juga kalau keduanya sama-sama benar, hanya saja cara pandangnya yang berbeda.

Jadi, hitam bisa saja putih, dan putih bisa saja hitam, tentunya bisa juga abu-abu. Namun, selain warna-warna itu, bisa juga hitam itu biru, biru itu putih, dan seterusnya (gonta-ganti aja warnanya). Pada akhirnya, kita nggak hidup di dunia yang hanya ada hitam dan putih saja,kan? Masih ada berbagai macam warna lain dengan berbagai gradasinya. Jadi, yang salah bisa saja benar, yang benar bisa saja salah, yang benar bisa saja baik, yang benar bisa saja jahat, yang salah bisa saja baik, yang salah bisa saja jahat, tapi ada juga yang hampir salah, dan hampir benar, ada juga yang hampir baik dan hampir jahat. Pramoedya Ananta Toer pernah bilang:

Seorang terpelajar itu harus adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan.

Adil di sini dalam sekali artinya. Tapi, kalau mau disingkat (karena ini hanyalah sebuah editorial, bukan kritik sastra), kurang lebih ya, jangan menghakimi apa yang kiranya tidak kamu pahami sepenuhnya. Yak. Pemikiran hitam dan putih ada karena kita nggak mau menyelami ke-hitam-an dan ke-putih-an suatu isu. Nggak adil kan, menilai suatu isu hanya dari satu sisi saja? Terpelajar, maka kamu harus adil. Begitulah kiranya.

 

Salam tempel,


Bima Prawira

 

 

________________________

Foto : dok. ROI

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *