Press "Enter" to skip to content

ROI #10 – SELEBRASI

Satu tahun kemaren, kamu udah pesta apa aja? Ulang taun? Syukuran rumah baru? Keterima kerja? Nikah? Jadian? Taun baruan? Persib juara? Ulang taun kota? Ulang taun provinsi? Ulang taun tanggal jadian? Naik kelas? Wisudaan? Beres sidang? Reunian? IPK di atas 3? Dan segelentor pesta-pesta lainnya. Yakinlah saya mah di antara kalian pasti banyak da yang jawab iya dari pertanyaan-pertanyaan di atas. Apa tandanya? Tandanya kita suka pesta, kita suka merayakan segala sesuatunya! Selebrasi! Eits, tapi apa perlu gitu selebrasi? Yuk kita coba papar pelan-pelan.

Apa sih selebrasi itu? Kalau kata wikitionary:

  • The formal performance of a solemn rite,
  • The observance of a holiday or feast day, as by solemnities
  • The act, process of showing appreciation, gratitude and/or remembrance, notably as a social event.
  • A social gathering for entertainment and fun; a party.

Dilihat dari berbagai definisi di atas, definisi pertama dan kedua itu mengacu kepada perayaan keagamaan, sedangkan ketiga dan keempat, mengacu kepada perayaan yang bersifat sosial. Nah, untuk definisi nomor satu dan dua saya nggak berani ngomong banyak, atuh da serem baru beres mendalami satu agama saja, nanti takut ada yang tersinggung, jadi langsung aja nomer tiga dan empat. Intinya sih, selebrasi itu aksi, proses menunjukkan apresiasi, rasa terima kasih, atau pengingat yang diangap sebagai sebuah event sosial. Bisa juga sebuah perkumpulan sosial untuk hiburan dan senang-senang: berpesta.

Nah, berangkat dari definisi tadi, sebenarnya untuk berterima kasih atau mengingat sesuatu itu harus berpesta nggak sih? Bagi saya sebenarnya nggak. Kalau mau pesta, ya pesta aja, jangan terlalu membawa-bawa kejadian lainnya sebagai titik selebrasi. Maksudnya gimana tuh? Yah, kita coba liat yang udah-udah, misalnya peringatan ulang taun Kota Bandung. Jelas bikin macet nggak puguh, emang ada yang enjoy, tapi ada juga yang nggak enjoy karena kena macet. Nggak semua bisa senang, tapi nantinya teh yah, yang kena malah kota Bandungnya sendiri. “ih macet teu puguh, macet enya, jalanan bolong enya”.

Nah, kalau mau ngeliat secara kritis, ya kayak gitu, kenapa harus dipestain kalau memang belum sempurna? Kalau gitu, ulang taun juga nggak usah dipestain dong? Beda. Ulang taun pribadi itu ranahnya privat, jadi ya kamu-kamu doang yang kepengaruh, orang lain yang nggak kenal-kenal amat ya nggak kena. Kecuali kamu ulang taun nya nutup jalan. Tah.

Contoh lain nih, selebrasi Persib kemaren. Jujur, saya sendiri termasuk orang yang (secara nggak sengaja) turun ke jalan, dan ikut rame-rame nutup jalan. Di Dago. Pas malem juaranya pisan. Tapi jujur, itu saya terlena sama euforia sih, saya juga nggak mau bikin pembelaan atau gimana. Tapi ya itu, karena euforia itu juga kita lupa kalau Persib juara itu hanya satu titik dari sejarah panjang Persib. Titik besar sih. Tapi saya jadi keingetan kata Otong Koil “setelah Persib juara, akan ada skandal besar di kubu Persib”. Eh bener, kejadian kan pas Perdinan pindah ke SFC? Nggak enak banget kan? Pasti, itu karena kita terlena sama juara. Kasarnya mah abis diangkat tinggi-tinggi, lalu dilempar ke bawah. Terus, kalau gitu, nggak usah selebrasi ? Eish, tunggu dulu. Nanti dijelasin setelah contoh terakhir.

Contoh terakhir yang kadang nyebelin tentang selebrasi itu pas ulang taun. Karena kita –orang Bandung kebanyakan- dibiasain sama yang namanya selebrasi dari kecil, selebrasi kayaknya jadi sesuatu yang wajib. Padahal mah di UUD nggak ada kewajiban selebrasi. Karena udah keliatan kayak sesuatu yang wajib, kalau kata anak-anak studi budaya mah, kebiasaan yang menjadi bagian dari kebudayaan, kita sering kena todong. “ih ulang taun, traktir Hanamasa seangkatan dong!” Sering kan ditodong kayak gitu? Enak nggak? Saya mah nggak. Kenapa? Karena ya itu, konyol aja, apa urusannya nambah usia, yang bagi saya nggak natural, sama nraktir orang lain makan? di Hanamasa, seangkatan pula? Kan bodor.

Tunggu, tambah usia nggak natural? Iya. Makin tua itu natural, jelas. Tapi tambah usia, ulang taun, itu nggak natural. Karena penanggalan sendiri adalah buatan manusia. Manusia yang membatasi waktu sendiri, padahal waktu sendiri tidak berbatas. Penanggalan penting sih, terutama untuk masyarakat yang bertani, tapi pada hakekatnya, ulang taun itu nggak natural. Ulang taun kamu di kalender masehi, kalender islam, dan kalender Tiongkok pasti beda-beda. Karena itu ulang taun itu sebenarnya nggak natural, dan prosesi selebrasinya sendiri nggak harus gede-gedean dengan ngajak makan-makan.

Terus mestinya gimana atuh? Masa hidup nggak harus disyukuri? Nah, ini menjawab pertanyaan besar tentang selebrasi tadi: berarti selebrasi nggak butuh atuh? Butuh. Mau gimana juga manusia itu makhluk sosial, dan selebrasi ini proses sosial yang tentunya dibutuhkan oleh banyak manusia. Tapi, ada tapinya nih. Jangan maksa, jangan dibiasakan, rayakanlah ketika kamu mampu, rayakanlah ketika itu tidak membuat kamu terlena, rayakanlah ketika itu tidak membuat mubazir, rayakanlah ketika itu tidak mengganggu orang lain.

Terus jangan juga selebrasinya malah membunuh makna utama dari acara yang dirayakan. Bersyukur jadi foya-foya itu beda tipis. Harus jadi objektif gitu. Misal, ya kalau ulang taun kota, nggak usah besar-besaran banget lah, sayang biayanya. Mau dialesanin apapun, misal itu biaya CSR, coba lah pake buat yang lain. Menaikkan Index of Happiness? Iya, memang, tapi apa semua happy? Nggak tahu juga. Yang malah bikin menohok abis acara gitu teh biasanya sampah-sampah berserakan tea. Kenapa CSR nya nggak dipake buat meningkatkan index of happiness via penyuluhan tentang kebersihan? Ya pokoknya gitu, lah. Aksi lebih penting daripada selebrasi. Kitu mereun nya.

Tah gimana? Setelah baca ini, mau mulai kurang-kurangin selebrasi nggak? Ada gitu fungsinya ngurang-ngurangin selebrasi? Ada. Kalau mau belajar dari negara tetangga, di Jepang dulu banyak banget selebrasi yang diada-adain, kayak upacara pemakaman dan pernikahan yang makan biaya banyak (baik yang mengadakan upacara, atau yang datang bawa panyecep/angpau). Tapi setelah kalah perang, selebrasi seperti itu diminimalisir, diperkecil, jadi uangnya bisa dipakai buat yang lain. Dan itu adalah program pemerintah. Nah, liat sendiri kan sekarang Jepang kayak apa? Kurang lebih garis besarnya seperti itu, lah.

 

Salam peluk dan cium,

 

Demigod,

Bima Prawira

 

 

 

_______________

Foto: dok. ROI

Be First to Comment

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *