Press "Enter" to skip to content

“Rape the Traitor”, Upaya The Broto Menyikapi Skena Musik Saat Ini

Peredaran musik keras di tanah air cukup beragam. Jika menilik lebih jauh, tiap daerah menawarkan sesuatu yang menarik dengan kekhasannya sendiri. Perbendaharaan musik-musik yang memacu adrenalin ini tentu penting untuk dieksplor, karena berkeringat adalah kebutuhan tubuh kita, dan musik genre ini mampu memacunya.

Menuju Jakarta, di mana segala arah lampu menyorot ke sana, ada satu nama yang layak diperhitungkan. Kartoadisoebroto, atau dengan nama lain sebagai The Broto, adalah salah satu kelompok yang menjanjikan. Terdengar seperti nama keluarga, meskipun bila melihat dari formasi personil, mungkin benar begitu. Unit rock-heavy metal yang digawangi Syabika Muhammad Kartosoebroto (vokal), Bramantyo Yurismono (gitar), Erdino Mahardian Kartosoebroto (gitar), Rianto Bagus Dwimakara Adibroto (bass), dan Fathur Ichwan Satya Wirabrata (drum) ini baru banget merilis single bertajuk Rape the Traitor, penghujung Januari 2020 kemarin, dirilis melalui Lifemocker Records. Trengginas!

Kehadiran Rape the Traitor melanjutkan tren positif dari band yang kali pertama dibentuk tahun 2015 ini, setelah tahun lalu cukup produktif dengan menelurkan dua buah lagu, Doom Rock’n Roll dan Vereenigde Oostindische Chaos. Lebih jauhnya, ketiga nomor ini bakalan mereka ikat ke dalam sebuah album debut yang direncanakan siap meluncur di akhir tahun ini. Selain karya tersebut, sejauh ini The Broto sudah memiliki sebuah mini album selftitled (2018).

Menafsir isi lagu, dilansir dari siaran pers, Rape the Traitor bertutur tentang keluh kesah pelaku seni, terutama seni musik, dalam pergulatannya dengan komunitasnya sendiri. Maraknya nepotisme dalam acara kolektif, label rekaman yang hanya mengorbitkan musisi-musisi “temen gue” tanpa mengkurasi kualitasnya dan nggak terbuka dengan orang baru, lingkar pertemanan skena musik yang eksklusif dan cenderung “dia-dia lagi”, menjadi sorotan utama. Berat, meskipun beberapa fakta tersebut benar adanya. Bukan tanpa alasan mereka berkata begitu, karena itu yang selama ini mereka lihat dan alami sendiri.

Pengerjaan musik dilakukan di dua studio; Sams Studio BSD, serta Studio Peggy 88 (Amsterdam, Belanda) untuk take vokal yang dikerjakan terpisah. Proses mixing dan mastering digarap oleh Nadif Firza Rahman. Sementara materi artwork single merupakan hasil seni visual dari Difraksi Phrenia, yang disempurnakan oleh Doomystoner pada komposisi pewarnaan digital.

Tanpa berlama-lama lagi, mari dengarkan Rape the Traitor!

Instagram: instagram.com/kartoadisoebroto