Press "Enter" to skip to content

Ramdan Hadi Kesuma, Figur Pendisiplin Yang Haus Perhatian

Bandung terlampau macet untuk sore itu. Sabtu yang hangat di jalan Riau. Pemerintah kota sudah sejak lama mengubah nama jalan ini menjadi Jalan R.R.E. Martadinata, tapi apa daya kebiasaan dan budaya warga ternyata berpengaruh juga ke urusan nama jalan. Susah berubah. Susah diubah.

Saya sedang asyik diam sambil terantuk menunggu lampu merah di persimpangan yang jika ke kiri kita menemukan sate anggrek, dan di seberangnya ditemukan Suis Butcher.

Ck aaah.. jelas-jelas ini teh buat kendaraan roda dua.”

Sayup-sayup saya mendengar suara yang datangnaya entah dari mana.

“Mas, iya Mas nya, Mas yang itu yang mobil abu yang ujung platnya FC, tetep disitu, Mas, jangan maju, disitu aja.”

Saya terkesiap (ciye) dengan suara itu. Jelas kalimat tersebut mengarah ke saya. Hari itu saya baru pulang undangan pernikahan teman, mengemudikan mobil warna abu, dan plat nomer ujung nya adalah huruf FC. Fanta charlie. Suara itu, ternyata datang dari,

“Saya Ramdan, Mas, Ramdan Hadi Kesuma, saya yang warna merah ini, Mas, di jalan.”

Ooh kamu! RHK teh bukannya singkatan dari Ruang Henti Khusus?

“Eh iya sih, Mas, gelar RHK emang dikasih untuk saya setelah lulus verifikasi dari yang cuma jalan biasa jadi Ruang Henti Khusus. Tapi emang dari dulu nama saya Ramdan, Mas, Ramdan Hadi Kesuma.”

Ih aneh, siapa yang ngasih nama ke kamu?

“Duh panas ya mas, berat lagi nih ada mobil sedang nimpa atas saya”

Si anjis, dia mengalihkan pembicaraan. Tapi ketika itu memang sedang ada sebuah mobil yang dengan cuek berhenti diatas Ramdan. Padahal semestinya Ramdan hanya dijadikan perhentian bagi motor atau sepeda ketika lampu merah menyala.

Iya sabar ya, Ramdan, menurut kamu sendiri si RHK ini fungsinya jelas ngaruh nggak sih?

“Wah jelas ngaruh, Mas, ini teh kan biar motor pada berhenti rapih didepan kendaraan yang lebih besar. Biar kalau lampu hijau juga pas maju nggak bakal ada selip-selipan rusuh gitu dari motor. Kalau orang pada disiplin mah ini efektif banget. Pinter yang bikin ide ini, serius.”

Hmm iya ya, pinter euy kamu. Eh emang siapa sih yang punya ide bikin RHK tuh?

“Kalau nggak salah sih, Mas, RHK ini kan udah ada sejak beberapa bulan belakangan ya.. Hmmmm.. Orang yang punya idenya tuh.. Hmm… Mas dari mana kok pake batik?”

(Lagi-lagi dia mengalihkan pembicaraan.)

Saya dari undangan nikahan temen, eh iya kamu punya temen ngga?

“Ada mas banyak, si abah Riau yang udah tua banget dan panjang banget itunya, jalannya. Ada teteh Anggrek yang jerawatan, bolong-bolong muka jalannya. Sama ada siapa lagi ya? Abah Riau, Teteh Anggrek, udah segitu.”

Yeeeeh, katanya banyak, itu mah cuma dua atuh. Kesepian atuh?

“Sepi mah kalo dirasain baru muncul, Mas, kalo kita ngga terlalu pikirin nanti juga hilang sendiri. Lagian kan banyak hiburan juga disini.”

Hiburan? Emang ada? Apa gitu?

“Ini, Mas, kalo yang naik motor teteh-teteh pulang kantor, atau cewek SMA, atau cabe-cabean, kan si paha nya suka keliatan tuh dari bawah sini.. Hihihi. Asik, Mas!”

Hahaha, mesum. Nah kalo yang lagi diatas kamu mobil kaya gini gimana?

Bete lah mas. Beratnya mah nggak seberapa. Cuma ya sedih aja, saya kira pengguna jalan teh udah pada pinter. Udah pada ngerti. Kalau jalan yang jenisnya kaya saya ini yang warna merah dibelakang zebra cross tuh jelas khusus untuk kendaraan roda dua. Kadang motor juga suka ngelewatin malah diem di zebra cross. Orang-orang tuh pada kenapa, sih? Buru-buru amat. RHK kan cuma 3 meteran paling juga panjangnya. Apa susahnya sih nurut sama peraturan.”

Iya ya. Saya juga kadang masih suka nerobos lampu merah sih, malu juga sama diri sendiri. Sama kamu juga jadi malu, nih.

“Nah, Mas, kalau yang satu itu mah mendingan nurut aja deh. Daripada celaka. Si Topan mah lebih kasian dari saya. Udah pasrah aja kalo dicuekin.”

Topan? Siapa?

“Ini si Se Topan. Lampu yang merah kuning hijau diatas mas.”

Oooh..

Dan seketika bunyi klakson dari belakang sudah ramai muncul, angka di yang tertera di penghitung digital milik si Topan sudah menunjukkan angka 32 berwarna hijau. Tandanya saya harus maju.

Ramdan, saya jalan lagi ya. Makasih pisan udah mau diajak ngobrol. Ujar saya sambil setengah teriak.

“Iya, Mas, sama-sama! Hati-hati, Mas. Tetap disiplin, yooow”

Percakapan imajiner singkat saya dengan RHK bernama Ramdan Hadi Kesuma membuka lagi pikiran saya tentang perilaku manusia. Manusia yang terlalu tenang dan senang terbiasa membudayakan hal yang salah. Ketika budaya itu jadi warisan, dan sudah tidak bisa kita kendalikan, semuanya diserahkan kepada alat disiplin seperti Ramdan. Yang kadang masih sangat diacuhkan.

Sabar, ya, Ramdan.

 

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *