Press "Enter" to skip to content

“Polylogue: an Interpractice Presentation”, Pameran Karya di Luar Kebiasaan

Waktu tau bakalan ada acara pameran seni Polylogue, saya udah seneng-seneng sendiri, ngebayangin nanti pasti liat surga visual ala anak-anak desain yang bisaan wae. Kamera digital juga udah saya siapin jauh hari. Lho, kok harus pakai kamera? Buat apa? Buat motret ya? Motor ngabret. Nggak terlalu penting, pentingan pamerannya.

Oke! Polylogue, yang artinya adalah sebuah percakapan yang melibatkan sejumlah orang didalamnya, adalah sebuah pameran yang merupakan penggabungan dari ilmu Seni Rupa, Desain dan Kriya, digagas oleh anak-anak Persekongkolan. Mereka itu siapa? Yang pasti mereka bukan sebuah  klub bola hanya karena “perse-“ bisa diartikan “persatuan sepakbola”. Apasih becandaan anak Paud banget.

Pameran “Polylogue: an Interpractice Presentation” berlangsung di Galeri Yuliansyah Akbar, URBANE Indonesia, Jalan Cigadung Raya Barat no. 5, dan bakalan nyenengin mata kamu-kamu dari Kamis (16/10) sampai tanggal 30 Oktober 2014 nanti. Di hari pembukaannya kemarin, Polylogue menghadirkan anak-anak Pemuda Setempat buat jadi opening. Mereka kayak ngasih exhibition introduction gitu lah, pakai mic dari gagang telfon. Udah gitu mereka bikin kuis berhadiah kaos merchandise Polylogue yang cuma dibikin satu biji. Terus yang menang tuh yang cuma ngacung doang. Keenakan duniawi banget itu orang yang menang.

Menikmati karya yang menyegarkan mata.
Menikmati karya yang menyegarkan mata.

Setelah opening, saya bergegas menuju ke dalem Galeri. Tiba-tiba saya merasa si Persekongkolan pada nyanyiin lagu Bastian Steel, kayak kalau dateng ke KFC. “Selamat datang di duniaku”. Ya, mereka seperti menyambut dengan hangat lewat karya-karya yang dipamerkan. Disana saya ngeliat ada karya berupa video, mainan, lukisan, keramik, sampai ada karya mainan pemutar gambar pas jaman kecil dulu itu, lho. Apa namanya teh lupa.

“Pada intinya Persekongkolan bertujuan berkarya keluar dari batasan-batasan akademis yang dipelajari selama ini. Jadi, Persekongkolan “bersekongkol” untuk mencipta sesuatu yang berada di luar kebiasaan berkarya masing-masing,” kata salah satu penyumbang karya, Sayid Basyarah, yang katanya calon tukang keramik.

Terus kamera itu gunanya buat apa? Buat motret karya atau minta fotoin dengan background karya gitu. Soalnya kemarin banyak banget yang kayak gitu. Palingan buat dijadiin foto profil Line. Saya juga ikutan. Banyak juga yang nggak sengaja ketemu temennya disana, terus ujung-ujungnya foto bareng. Udah jadi kebiasaan, sih, popotoan teh.

Mainan lawas tapi seru.
Mainan lawas tapi seru, karya Ida Latifa.

Oh iya, ada juga karya berupa tumpukan kayu yang tergantung, tapi ditengahnya bolong, jadi kepala kamu bisa masuk ke dalem kayu. Didalemnya ada dua sisi gitu, sisi kanan isinya filosofi pacaran versi cewek, sisi kirinya versi cowok. Beberapa pengunjung yang abis dari situ langsung berubah mimik mukanya. Ada yang keliatan galau sambil nangis, ada juga yang emosi. Untung emosi, bukan latah eayam ayam ayam~

Buat kamu yang foto Line-nya masih jelek, buruan dateng kesana. Selain siapin kamera, siapin juga waktu luang tentunya, karena kamu harus nikmatin semua karya yang ada dengan pikiran yang tenang tanpa mikirin tugas. Katanya, di tanggal 25 Oktober 2014 bakal diadain Artist Talk, dateng yah! Harus ini mah, sayanya maksa. Yaudah, selamat datang aja di dunia Polylogue, sobat Bastian!

Be First to Comment

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *