Press "Enter" to skip to content

“Picnic Cinema #2”, Nonton Film di Museum yang Bikin Nagih

Malam minggu pasti menjadi waktu yang tepat untuk melepaskan diri sejenak dari kewajiban-kewajiban sebelum menggarapnya kembali di hari Senin, meskipun buruh tani menggarap sawah tiap hari. Mungkin beberapa dari kita ada yang mencari bahan tontonan terbaru di bioskop biar up to date, namun itu tuh, Picnic Cinema #2, dari Collaborative Creative Organizer yang digelar di hari Sabtu (29/10) kemarin berhasil menarik perhatianku!!!

Rencananya memang mau datang di sore hari, berekspektasi menikmati kesyahduan suasana peralihan sore ke malam sambil piknik-piknik cantik, tapi, mau apa dikata, perencanaannya terhambat akibat hujan~ Huhu. Sedihnya… Meskipun begitu, pengorbananku nggak sia-sia. Sungguh worth it kalau kata orang-orang mah, karena konsepnya menarik banget!

Jadi begini, Cinema Picnic #2 menayangkan film-film open air-nya di halaman depan Museum Geologi Bandung, tepatnya di Jalan Diponegoro. Iya betul, kalau kamu langsung membayangkan bangunan yang di dalamnya terdapat fosil T-rex, karena memang museum yang biasanya tutup sore ini jadi terbuka untuk umum sampai jam 10 malam! Di sana juga ada banyak banget anak-anak berumur 3-7 tahun yang menggunakan senter sebagai alat bermain petak umpet di sekitar fosil dinosaurus, karena, temanya berkaitan dengan museum, dan memang ini the real Night at The Museum, cuyy. Tapi, kalau kamu bertanya “Terus, dinonya pada joget-joget bareng gitu nggak kayak di film?” Ya, nggak, sih… Maaf, tapi ekpektasi yang diciptakan imajinasimu terlalu berlebihan buat ini.

Acara ini menjadi wadah bagi film-film indie yang lokal untuk ditayangkan dan diapresiasi oleh masyarakat Bandung. Sesi nonton film dibagi jadi 2 sesi, dan setelah sesi film pertama yang menayangkan 4 film, ada talkshow dari Slate ID. Talkshow ini memperkenalkan Slate ID itu siapa, dari mana, dengan tujuan apa. Ternyata mereka tuh organisasi yang supportive terhadap inovasi-inovasi perfilman generasi muda. Waw. Ini kesempatan buat warga kreatif yang memiliki cerita atau mimpi buat memproduksi film namun kurang peralatan ataupun keterbatasan dana.

Kalau menurut mereka kisahnya unik dan menarik, siapa tau kalian adalah orang yang mereka dukung. Di sini pun sutradara film indie The Choosen Generation, Ariel Victor diminta untuk ngejelasin sedikit tentang karyanya, berupa film illustrasi yang lucu banget, yang juga merupakan favoritku. Selain talkshow, ada penampilan band dari Samsara, The Banjolin dan Mesopotemia, mungkin untuk menghilangkan kemonotonan menonton (Eh, berima geuning) dan mewarnai acara dengan nuansa lagu yang bikin ingin joget tapi malu ah, jadi goyangin jari ke kanan dan ke kiri aja.

1

Sesi kedua penayangan pun akhirnya dimulai dan film indie yang berjudul Sendeng Sang, sangat moving buat aku, entah karena mengangkat kisah keadaan salah satu keluarga buruh di Kalimantan, atau karena memang aku selalu gampang tersentuh dengan kisah-kisah yang berhubungan dengan keluarga. Kamu pasti mengerti maksudku kalau nonton film indie yang satu ini. Aku salut sama yang buat filmnya karena udah berhasil menggambarkan kekayaan sumber daya alam Kalimantan yang kepentingannya berada di atas kesejahteraan beberapa warga Indonesia di Kalimantan.

Selain itu ada juga salah satu film yang menarik perhatianku, judulnya Jeni Lova. Nah, kalau pada ngikutin dunia perfilman internasional, pasti tau lah, ya, sama Wes Anderson. Film indie ini sepertinya terpengaruh dengan gaya penyutradaraan beliau, mulai dari pengambilan frame, tone, tokoh-tokoh yang berkepribadian unik, dan gaya penyampaian script-nya yang serupa. Sok ngerti banget, ya, aku teh. Maaf, emang udah kebiasaannya begitu. Ya pokoknya menarik banget deh, dan jadi favoritku yang ke-2. Boleh kan punya 2 favorit?

Lalu, ada film Montage of Edelweiss. Aku hampir nangis waktu nonton yang satu ini, scene-nya yang mempertontonkan timeline nggak beraturan, membuat kita sebagai penonton terpaksa mengurutkannya sendiri sesuai kemampuan ingatan dan asumsi kita. Film ini banyak yang menggunakan teknik voice over puitis, jadi kata-katanya terkesan sangat indah. Kerennya lagi, soundtrack-nya bikin sendiri pakai orchestra! Wow, semoga fakta ini benar.

2

Akhirnya, saat hanya tersisa seperempat dari jumlah massa awal, Jurig pun ditayangkan. Dari judulnya juga udah kebaca ini film tentang apa. Serem deh, mending jangan ditonton sendiri. Aku sampai nggak mau nyeritain ulang. Di akhir-akhir waktu penayangan, rasanya perasaan dan pikiranku makin dipermainkan, dari memikirkan kritisnya kondisi bangsa kita, pemikiran untuk mewajarkan melihat sesuatu hal yang aneh, lalu perasaan kangen mantan, sampai ke perasaan nggak nyaman kalau nanti pulang sendiri lewat gang kosan ada yang ngikutin. Acara malem itu menurutku sukses! Walaupun ngaret karena hujan, tetap saja nggak menghilangkan serunya menonton film dan menginterpretasikan pemaknaan setiap individu tentang film-filmnya yang beragam, dan benar betulnya kesotoyan aku dan kita yang nonton hanya berada di tangan sang sutradara. Misterius sekali.

Foto: Haruka Fauzia

Comments are closed.