Press "Enter" to skip to content

ROI #6 – Perdamaian, Dicari atau Dibuat?

Sekarang udah masuk bulan September tahun 2014, yang berarti ROI! harus udah mencari tema baru. Setelah semua orang melakukan gambreng, ditetapkan tema tentang perdamaian untuk bulan ini. Mengapa? Karena 21 September adalah hari perdamaian sedunia. Cek wiki coba, biar lebih yakin.

Oke, berbicara tentang perdamaian sepertinya, apabila dilihat dalam konteks tahun 2014 aja, masih banyak darah tertumpah karena perselisihan yang terjadi antar manusia. Israel vs Palestina, konflik di Suriah yang pada akhirnya ‘dimeriahkan’ oleh ISIS, kasus MH-17 yang konon ditembak jatuh namun hingga kini belum jelas juntrungannya, konflik dalam Pilpres di Indonesia, Kera Tungpei yang mengganggu perjalanan kitab suci Biksu Tong, serta ratusan, atau mungkin ribuan, atau ratus ribu, atau jutaan konflik lainnya di dunia yang nggak ternaungi oleh media-media yang ada.

Menyeramkan. Itu adalah sebuah kata yang dapat mendefinisikan lawan dari perdamaian, konflik. Dalam sebuah konflik, yang dipertaruhkan bukanlah hanya nilai-nilai belaka yang diperjuangkan, lebih dari itu, ada nyawa manusia yang dipertaruhkan disini. Ironis, ketika manusia tewas oleh hal yang ia buat sendiri, nilai-nilai. Mengutip kata-kata Joseph Stalin, “kematian satu orang adalah tragedi, kematian jutaan orang adalah statistik”. Ini adalah sebuah kalimat yang sangat membuat bulu kuduk merinding.

Kematian bukanlah hal yang dapat diterima dengan mudah, karena itu kematian disebut sebagai tragedi. Sedangkan, kadang, ketika baca di koran atau televisi, “ratusan orang dikabarkan meninggal dunia dalam baku tembak di kota Assad, Suriah,” kita rasanya hanya berpikir “oh, ratusan orang korbannya, banyak juga, ya?” nggak sampai “ada ratusan tragedi disana, ratusan masa depan hilang, ratusan senyum, ratusan harapan, ratusan canda tawa, ratusan hal yang bisa kita nikmati dengan mudah dalam kehidupan sehari-hari”.

Di sini, manusia dituntut untuk berpikir lagi. Manusia itu punya sesuatu yang bernama otak. Sesuatu yang dapat digunakan untuk berpikir. Dipertanyakan lagi: Perdamaian itu dicari, atau dibuat? Perdamaian ada ketika konflik nggak ada. Konflik, seharusnya bisa ditiadakan, seandainya semua pihak yang berkonflik mau mengerti. Oke, mungkin ini sesuatu yang terdengar sangat klise, tapi karena belum pernah terjadi, maka bagi kami ini nggak klise, karena ini adalah sebuah hipotesa yang belum dibuktikan. Katakanlah hipotesa ini benar, maka solusi nyatanya adalah bertoleransi. Bagi kami, toleransi adalah titik awal dari saling mengerti. Dalam bertoleransi, kamu nggak perlu merasa bahwa ketika orang lain itu salah dan kamu itu benar, maka kamu harus meluruskan orang yang salah. Bertoleransi itu, kamu bisa menerima ada orang yang berpikiran berbeda, yang tentunya kamu anggap ‘salah’, hidup di sekitar kamu.

Contoh sederhana aja, ketika kamu berada di dalam bus Damri yang pengap dan panas, ada anak kecil menangis, tetapi kamu tentu diam aja, karena anak kecil itu bersama ibunya. Ketika kamu merasa terganggu, dan kamu memutuskan untuk diam aja, itu berarti kamu sedang bertoleransi. Kamu tetap terganggu, tetapi kamu diam, nggak menyuruh anak itu untuk turun dari Damri. Ini adalah toleransi, kamu mau nggak mau harus mengerti bahwa, ya, memang kondisinya sangat nggak memungkinkan untuk membuat anak itu nggak menangis. Ketika kamu memaksakan diri kamu untuk nggak terganggu, itu berarti kamu ‘menerima’, bukan bertoleransi. Dua hal yang berbeda.

Bagi kami, perdamaian bisa dibuat. Bukan dicari. Karena apabila dicari, apakah perdamaian memang sudah ada, namun menghilang, sehingga harus dicari? Nggak. Ketika nggak ada, ya, dibuat aja. Dibuat dengan mulai bertoleransi. Itulah fokus utama di bulan ini. Contoh perdamaian yang paling spesial salah satunya adalah edisi #OMBEH bareng Yas Budaya, vokalis dari Alone at Last. Yas adalah salah satu musisi asal Bandung yang gencar menggemakan perdamaian. Mau tau apa makna perdamaian baginya? Saksikan aja di #OMBEH episode bulan ini, yang tentunya senantiasa “IUUWWWHHHH..”.

 

Salam damai selalu baik di hati maupun di pikiran,
Bima Prawira Utama

Be First to Comment

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *