Press "Enter" to skip to content

Pembelajaran Mahal dari “The I Way Festival”

Nonton konser yang isinya idola semua dan tiketnya murah pasti jadi dambaan seluruh umat skena musik “pinggir” dong. Iya, nggak? Tapi gimana pun juga suatu acara teh nggak bakal selancar yang diekspektasikan kalau ada kendala yang bersangkutan sama sesuatu yang sifatnya force majeur. Ngerti nggak? Belajar geura ih. Hari Minggu (24/4) kemarin rasanya jadi suatu pengalaman yang lumayan bisa bikin senyum kecil sekaligus merenung. Merenung sama Tuhan kalau apa pun bisa terjadi kalau udah dikehendaki. Serius kieu nya, sebel. Acara ciamik, The I Way Festival, di Lanud Husein Sastranegara.

Acara hari itu dimulai kira-kira jam 1 siang. Band-band “imut” seperti Parahyena, Godmother, Alzheimer Grind pun harus saya lewatin, karena saya mah dari jam segitu mandinya niat doang, jadi saya baru dateng sekitar jam setengah 4 sore. Waktu saya dateng tuh sempet kebagian Peonies di lagu terakhirnya. Duduk manis di aspal landasan pesawat pun dilakoni oleh saya. Geuleuh bahasana. Bae.

Lalu, salah satu penampil favorit saya naik ke atas panggung. Kaveh Kanes sukses membawakan tembang-tembang aduhay andalannya, kayak Norwegian Crush, Rose Garden, dan sekawanannya. “Ada yang mau nanya? Misalnya, kita arab atau india, gitu?” kata si vokalis yang kata saya mah dia teh Shahrukh Khan, kayaknya. Nggak lama sebelum mereka beres, saya sukatsikut buat ambil posisi ke depan barikade. Tah, buat yang kemaren dateng waktu Kaveh Kanes, terus ada yang susuruduk buat ke depan, itu teh saya, ih. Entar kalau ketemu lagi, nyapa yah. Wawuh~

Kenapa coba saya susuruduk? Soalnya sekitar jam 4 itu menurut rundown, sih, ada band kesayangan para jadulers. Siapa lagi atuh kalau bukan White Shoes and The Couples Company! Seperti as always, mereka tampil memukau di depan para penumpang pesawat yang take off. Nggak ketang, di depan penonton yang syahdu itu maksudnya. Lagu-lagu andalannya pun dibawain dengan sangat enerjik oleh Sari dan kawan-kawan, kayak Aksi Kucing, Selangkah Kesebrang, Vakansi, Matahari, dan yang lainnya. Tam-tam Buku pun jadi penutup penampilan White Shoes di sore itu. Lalu dengan kekagetan yang tidak diduga (masa, sih?), Sari teriak dan… Duar! Hujan badai pun datang.

Sekitar 2 jam setengah acara harus berhenti karena faktor cuaca yang sangat nggak mendukung buat lanjut acara. Ada yang neduh, ada yang huhujanan, ada yang nyari sinyal buat nyari temennya buat nanyain lagi di mana, dan nanyain udah makan apa belum. Saya pun ikut neduh di salah satu stand brand yang terpaksa harus tutup.

Sekitar jam 7 malam, panitia dan temen-temen crew yang lain udah mulai ngembaliin alat ke panggung yang tadinya harus diaman-amanin. Akhirnya, ada perwakilan panitia yang menjelaskan bahwa acara bakal tetep lanjut, tapi bakal ada band-band yang nggak bisa tampil.

Bedchamber pun jadi pembuka setelah break yang cukup memakan waktu. Untungnya mereka bisa mengembalikan suasana dan menghangatkan raga kita untuk kembali bersenang-senang. Edan. Lagu-lagu dari EP Perennial pun dikumandangkan. Penonton juga cukup antusias buat nyambut mereka yang bawain andalan-andalannya, kayak Youth, Petals dan Perennial yang jadi penutup penampilan mereka. Bayangin sok ini mah, si Bedchamber sampai 4 kali bilang makasih sama minta maaf. Nggak tau kenapa. Hm.

Lalu dilanjut penampil paling ciamik di malem itu. Yes, Heals! Stand up comedy pun dimulai. Dari mulai persiapan mereka yang bikin teh Via agak bete sampai nyuruh penonton ngikutin do’i yang nggak tau ngapain. Band anti-gagal ini pun menghajar dengan single andalan mereka, Wave, Void, dan lain-lain. “Eh, ada yang nantangin kita buat ngebuktiin kalau Bandung teh kota musisi siah. Hayu kabeh ngeband lah”. Kira-kira itu inspirasi yang bisa diambil dari Aldead, dan mereka pun berterima kasih ke Riotic Records yang ngasih kaos buat dilemparin ke penonton. Saya teh pingin padahal buat kuliah. Heu.

Lalu ada penampilan The Schuberts bawain single-single dari  EP Kircland yang nggak kalah keren. Lalu acara pun harus berhenti karena satu dan lain hal yang mengharuskan Kelompok Penerbang Roket, Danilla x Mondo, dan The Sigit gagal tampil. Kalau menurut saya pribadi, sih, lumayan setuju sama putusan panitia ini. Daripada nyetrum, lur.

Walaupun memang seharusnya panitia menyiapkan plan-plan yang bisa mem-backup keadaan yang nggak diduga, tapi gimana pun masalah teknis pasti selalu ada. Memang nggak mudah mengahadapi masalah kayak gini, apalagi masalah teknis cuaca ekstrim yang tiba-tiba datangnya. Di sisi lain, kita juga harus memikirkan keselamatan para pengisi acara yang sangat mungkin terjadi sesuatu yang nggak diinginkan. Salut dengan semangat panitia yang mengusahakan acara untuk tetap berlanjut sedemikian rupa. Semoga bisa terwujud kembali di lain hari dengan konsep yang lebih luar biasa. Respect!

Comments are closed.