Press "Enter" to skip to content

Orasi Budaya I: “Instrumen Kesendirian dalam Keseharian” dari Pasar Seni 2014

Sore hari itu, terlihat orang-orang sedang berkumpul di Taman Cibeunying. Awalnya saya kira mereka sedang makan cuanki bareng sambil berbagi pengalaman seru saat makan cuanki. Taunya bukan! Mereka sedang menikmati, atau lebih tepatnya menyaksikan orasi budaya yang digelar oleh kawan-kawan dari Pasar Seni ITB 2014.

Pada sore yang cerah itu, Pasar Seni menggelar Orasi Budaya I: Instrumen Kesendirian dalam Keseharian, menghadirkan tiga pembicara, yaitu Ahda Imran, Syarif Maulana dan Dianto. Seperti kata mereka, orasi budaya ini memberikan ruang kepada kamu-kamu yang hadir untuk memberikan sebuah materi dengan media sebebas-bebasnya, dengan harapan semakin banyak persepsi dan interpretasi terhadap materi tersebut.

Orasi dari Dianto.
Orasi dari Dianto.

Yang menarik adalah ketika Dianto berorasi dengan membacakan tulisan dari kertas sembari melekatkannya pada batang pohon. Hingga semua kertas sudah dilekatkan, terakhir dia melekatkan batang pohon tadi dengan tubuhnya. Sebuah orasi dengan sedikit pertunjukan yang seru, diiringi alunan syahdu dari bebunyian gitar, ukulele dan biola.

Akan ada 3 penyelenggaraan orasi budaya dari Pasar Seni. Orasi Budaya ke-2 akan digelar pada tanggal 12 Oktober 2014, dan yang terakhir pada tanggal 21 November 2014, atau dua hari sebelum gelaran Pasar Seni 2014. Orasi Budaya pertama ini ditutup dengan penampilan dari Mukti Mukti yang mampu menghadirkan suasana syahdu.

Mukti Mukti menutup orasi budaya dengan syahdu.
Mukti Mukti menutup orasi budaya dengan syahdu.

Sebuah sore yang menyenangkan, diisi dengan orasi yang menarik. Orang-orang yang hadir menjadi senang sambil membawa pulang ilmu yang didapat. Buat saya, orasi budaya sore itu lebih mengenyangkan daripada semangkuk cuanki plus mie rebus. Dan nggak sabar untuk hadir di dua orasi budaya selanjutnya.

Be First to Comment

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *