Press "Enter" to skip to content

Nosferatu (1922): Kisah Klasik Untuk Masa Depan

Siapa, sih, yang nggak kenal dengan sosok bangsawan keren, karismatik, bisa berubah jadi kelelawar dan punya hobi aneh (bukan hobi, sih, tapi kebutuhan) yaitu menghisap darah? Yak, Count Dracula! Count Dracula ini bisa dibilang salah satu sosok makhluk supranatural yang paling tersohor di dunia. Bahkan, musisi orkes legendaris Indonesia, Pancaran Sinar Petromaks, pernah membuat lagu khusus untuk makhluk yang satu ini. Tau, kan? “Oh Drakula jangan bunuh aku” yang itu lah.

Sekarang, udah bisa kita liat berbagai macam adaptasi dari kisah Count Dracula ini. Ada yang kocak, ada yang keren, sampai ada yang luar biasa menggelikan saking garingnya. Namun, tahukah kamu, kalau ternyata film adaptasi tentang Count Dracula yang paling pertama dibuat di dunia adalah versi yang nggak resmi? Alias nggak memperhatikan hak ciptanya? Yak, Nosferatu adalah film tentang Count Dracula pertama di dunia, namun adaptasi ini bukanlah bentuk adaptasi resmi. Dengan kata lain, dibentuk tanpa seizin Bram Stoker atau pengurus loyaltinya. Oleh karena itu, di film ini, nama Count Dracula diganti menjadi Count Orlok.

Meski demikian, Count Orlok tetap diyakini sebagai visualisasi pertama dari Count Dracula. Konon, ketika film ini disinyalir menjiplak kisah Dracula secara blak-blakan, film ini diminta untuk dihancurkan, namun ternyata, ada 1 salinan film yang selamat. Satu salinan inilah yang akhirnya diperbanyak dan menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan. Penasaran sama ceritanya? Yuk disimak!

Ceritanya dimulai di Kota Wisbourg (kota boongan, aslinya mungkin Wolfsburg), di mana seorang agen real estate, meyuruh anak buahnya Hutter (Gustav von Wangenheim) untuk mendatangi kastil Count Orlok (Max Schreck) di Transylvania. Konon Count Orlok ingin membeli rumah di daerah Wisbourg. Mereka berencana menjual rumah di dekat rumah Hutter untuk Count Orlok. Hutter pergi ke Transylvania meninggalkan istrinya, Ellen (Greta Schroeder).

Count Orlok yang mantap sekali.
Count Orlok yang mantap sekali.

Sesampainya di Transylvania, banyak keanehan terjadi. Orang-orang menjauhi Hutter ketika ia berkata bahwa ia ingin menemui Count Orlok. Ketika sampai di kastil, Hutter dengan mudah berhasil menjual rumah yang dimaksud kepada Count Orlok. Namun ternyata, itu harus dibayar mahal oleh Hutter. Ia menemukan banyak keanehan di kastil itu. Puncaknya, ia melihat sang bangsawan tidur di kamar bawah tanah di dalam peti mati. Mirip dengan deskripsi Nosferatu (vampir dalam Bahasa Rumania) yang ia baca dari sebuah buku. Hutter terjebak di kastil itu, sedangkan Count Orlok pergi menuju Wisbourg dengan menumpang kapal di dalam sebuah peti mati. Di sepanjang jalan, Count Orlok banyak membunuh banyak orang dengan aura kegelapannya.

Sementara itu, Hutter berusaha keras untuk meninggalkan kastil demi menolong Ellen, yang tentunya akan terpengaruh oleh aura jahat Count Orlok, karena rumah yang akan Count Orlok beli berada di dekat rumahnya. Sedangkan Ellen, ia merasa bahwa ada kejahatan yang mendekat. Ellen tahu, bahwa seorang perempuan suci seperti dirinya mampu mengorbankan dirinya sendiri untuk membunuh sang Nosferatu. Berhasilkah Hutter menolong kekasihnya? Atau kekasihnya akan dihabisi oleh sang Nosferatu?

Cerita tadi disajikan dengan sangat apik dalam tayangan hitam-putih sepanjang 94 menit, dengan orkestra megah sebagai pengiringnya. Oh iya, ini juga film bisu, lho, nggak ada itu dialog-dialog. Yang ada hanya screen shot yang berisi tulisan yang menjelaskan tentang kejadian apa yang terjadi di film itu. Walaupun demikian, bagi saya, ini adalah salah satu film horror terbaik yang pernah saya tonton. Sama sekali nggak mengandalkan unsur-unsur kejutan seperti film horror modern, tetapi lebih ke penjiwaan karakter yang menggambarkan cerita dengan sangat baik. Misalnya, ketika kru kapal yang membawa Count Orlok melihat Count Orlok keluar dari peti matinya. Tanpa perlu kata-kata atau penjelasan, dari ekspresi kru kapal itu bisa dilihat bahwa ia sangat ketakutan dengan sang Nosferatu.

Selain itu, akting Max Schreck dalam film ini patut dipuji setinggi-tingginya. Ia mampu memerankan Count Orlok dengan archetype vampir tradisional –agak berbeda dengan gambaran Count Dracula yang lebih mendekati archetype vampir modern yang lebih manusiawi dan berkarisma. Ia berhasil membawa kesan creepy ke dalam film legendaris ini. Jujur, pertama kali saya menonton ini, saya nggak bisa tidur malam harinya, karena siangnya tidur kelamaan.

Atas dasar itu semua, saya memberi nilai 9 dari 10 untuk film ini. Solid!

Based on Bram Stoker’s Dracula

Sutradara : F. W. Murnau

Produser : Enrico Dieckmann, Albin Grau

Starring : Max Schreck, Gustav von Wangenheim, Greta Schroeder

Music : Hans Edermann

Rilis : 1922 (Jerman)

Negara Asal : Republik Weimar (Jerman)

Be First to Comment

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *