Press "Enter" to skip to content

Ngulik Seni Digital Lebih Jauh di “BIDAF 2016”

Seminggu setelah lebaran, acara-acara enak mulai bermunculan. Mulai dari acara musik, pameran, karokean, dan yang lainnya. Bebas sok itu mah tinggal milih aja mana yang mau didatengin. Salah satu di antaranya adalah BIDAF 2016. Apaan tuh? BIDAF itu adalah singkatan dari Bandung International Digital Arts Festival. Bisa ditebak, dong, ini acaranya soal apaan? Iya, soal hal-hal artsy berbentuk digital gitu deh~

Acara ini diselenggarakan pada tanggal 15-17 Juli 2016 dan bertempat di Bandung Convention Centre. Namanya juga festival, di acara ini bukan cuma ada pameran, tapi ada juga seminar, workshop/demo, dan juga performance dari seniman digital baik dalam dan luar negeri.

BIDAF ini merupakan acara tahunan yang diinisiasi oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam rangka berusaha menggerakkan naluri kreativitas generasi muda Jawa Barat dalam bidang seni digital. Mantap sekali. Pada gelaran yang ketiga ini, diikuti juga oleh berbagai lembaga pendidikan tinggi di dalam maupun luar negeri. Tuh, kurang baik apa coba pemerintah kita?

Diskusi yang penuh ilmu.
Diskusi yang penuh ilmu.

Ada sekitar 75 seniman digital yang terlibat di BIDAF 2016 ini. Mulai dari sound designer, developer game, dan juga para seniman digital muda. Setelah pada hari pertama dibuka oleh Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat, pada hari keduanya barulah diadakan semacam diskusi dan presentasi dari para pengisinya. Mereka yang diberi kesempatan untuk mengisi panel diskusi adalah Labtek Indie, Kuassa, Tinker Games, Cimahi Creative Association, dan para seniman yang terlibat lainnya.

Pas saya datang berkunjung, entah saya yang datangnya kesorean atau gimana, si acaranya tuh bisa dibilang sepi. Nggak terlalu banyak orang lalu-lalang, dan terpusat di acara diskusinya. Sedangkan panel pamerannya terbilang sepi, paling ada beberapa doang yang masih dijaga sama empunya. Tapi walau begitu, saya masih bisa nikmatin pamerannya, kok. Di sana saya liat instalasi video mapping, nyobain demo game dari developer lokal, dan juga ngutak-ngatik beberapa panel yang emang didesain buat interaksi gitu. Seru~

Karya Etza yang bertajuk, "Geometry-Liquid Composition No.1"
Karya Etza yang bertajuk, “Geometry-Liquid Composition No.1”

Yang spesial di BIDAF tahun ini adalah pertunjukan intermedia bertajuk, Ghost Komungo, yang dipersembahkan oleh Jin Hi Kim dan Benton Bainbridge. Pada pertunjukan tersebut, Jin Hi Kim memainkan sebuah instrumen tradisional Korea Selatan yang bernama Komungo, dan Benton meresponnya dengan menampilkan visual. Nggak kebayang gimana kerennya, tapi sayang banget saya nggak bisa nonton kemarin. Karena masih dibilang anak kecil. Hheu. Sedih. Eh, itu mah si Fadli Acil.

Walaupun sebenernya nggak ngerti-ngerti amat, tapi saya senang bisa berkesempatan ke acara BIDAF 2016 kemarin. Yaa, setidaknya saya dapat pengalaman dan pengetahuan baru, lah, soal seni digital. Semoga tahun depan acara ini kembali digelar dan lebih meriah lagi!

Foto: Chiko Caesar

Comments are closed.