Press "Enter" to skip to content

Ngalor-Ngidul Bersama Orkes Bagong Februari

Di akhir taun 2015 acara-acara musik punya jagoan baru untuk menghibur acara mereka sendiri. Mau yang enak didenger, atau yang enak dipandang, yang penting mah menghibur. Nama Orkes Bagong Februari (OBF) sering banget nongkrong di banyak flyer acara kampus maupun non-kampus. Akhirnya saya punya kesempatan mewawancarai OBF setelah beberapa kali batal, dikarenakan jadwal mereka padat merayap siga antrian keluar gerbang tol Pasteur.

Banyak hal menarik yang saya dapet dari hasil wawancara tersebut, dari mulai sejarah mereka, tanggapan mereka tentang Polisi Skena, tips merawat rambut sampai masalah curhat dalam lirik lagu mereka. Berikut hasil wawancara saya dengan Orkes Bagong Februari band orkes asal Jatinangor ini.

 

Kenapa milih nama Orkes Bagong Februari sebagai nama band?

Gogon: Jadi Orkes itu sesuai dengan aliran kita, yaitu musik orkes. Kalau kata Om Joni Iskandar si orkes itu musik yang alatnya dimainin langsung colok nggak pake apa-apa. Nah kalau pengertian Bagong sama Februari bisa dijelaskan sama yang lain.

Akew: Kalo Bagong diambil dari dari nama sang vokalis (Gogon) dan sang guitalele (Bentang). Jadi kalau disatuin namanya Begon. Tapi kan nggak enak ya, jadi aja di-Bagong-in biar enak dan ada esensinya gitu.

Gogon: Bagong itu sendiri karena dulu kita sering nonton adu bagong di Youtube terus keren aja liat babi lawan anjing bisa menang. Jadi biar nggak kalah lah sama band-band yang sangar.

Cos: Kalau Februari diambil gara-gara menurut salah satu personil bulan yang spesial ceunah.

Akew: Februari mah karena bulan yang sangat spesial di antara 12 bulan yang lainnya. Karena di dalamnya selain bulan kabisat, juga mempunyai hari kasih sayang. Karena kita menciptakan karya untuk menebar kasih sayang ke para penikmat musik.

Cos: Karena kita juga kurang kasih sayang.

Ibnu: Hari kasih sayang tapi ngenes semua, miris.

 

Kenapa kalian memilih membuat grup orkes yang kurang populer di kalangan anak muda? Apa karena faktor skill? Hehe.

Cos: F*ck skill, yang penting goyang amer.

Akew: Ih kata siapa karena faktor skill, Sigit “Tigapagi” pun kagum dengan pengolahan lagu yang kita aransemen. Hahahaha.

Cos: Nah, justru karena kata kamu kurang populer di kalangan anak muda, maka dari itu kita bikin grup orkes biar semakin nggak populer.

Zulmy: Skill kita mah di atas rata-rata. Cuma nggak mau sombong weh..

Akew: Kenapa saya nyaman ada di OBF, itu karena salah satu faktornya. Saya nggak mau sok-sokan jago main gitar ataupun bikin lagu. Yang penting di saat suara gitar, mandolin, guitalele, ukulele, jimbe dan bass dimainkan bersama, penonton pun menikmati bersama.

Gogon: Intinya fuck skill, let’s jogged and drink calpico.

Sejauh ini kalau saya lihat ketika kalian manggung, penonton paling hapal lagu kalian yang berjudul Monalisa dan Supir Pesawat. Siapa yang bikinnya dan tentang apa?

Cos: Euleug siah, jelaskeun tah Gogon.

Gogon: Hahahaha. Lagu itu kebetulan urang yang bikin waktu itu dibantu Bentang di atas motor malem-malem.

Cos: Sambil kane.

Gogon: Intinya, sih, tentang kisah naksir cewek yang cakep yang keliatannya alim. Eh nggak taunya dia udah punya pacar si supir pesawat maderfaker itu. Haha. Nah, bener sambil kane dikit. Intinya kalau si supir pesawat bisa ngasih kembang, aku yang cuma musisi, cuma bisa ngasih tembang. Aelaaah…

Kisah pribadi?

Septry: Keliatannya..

Gogon: Ah itu cuma gosip. Kalau ada yang merasa, itu si ceweknya kepedean kali. Hahaha.

Masih tentang lagu Monalisa dan Supir Pesawat. Sejauh ini ada pihak Primajasa yang menghubungi kalian nggak buat nawarin kemungkinan kerja sama OBF sebagai ambassador?

Akew: Ambassador Primjas. Ngakak! Hahaha. Paling kalau balik ke Jakarta diskon 50%.

Gogon: Kita, sih, berharap begitu yah, kebetulan kan beberapa tinggal di Jakarta dan Bekasi. Nah, siapa tau dapet tiket gratis.

Mengingat kalian berasal dari daerah berbeda, apakah OBF bakal dijalanin secara serius dengan bikin album atau cuma proyek mengisi waktu kosong pas kuliah?

Gogon: Ini mah agak serius ya haha.

Cos: Iya agak serius jiga jawab UAS haha.

Bentang: Iseng-iseng berhadiah weh siga White Shoes & The Couples Company baheula. Tapi gue sadar nggak akan mungkin sebesar mereka. Soalnya beda listener-nya.

Gogon: Mungkin awalnya cuma band iseng. Kalau urang pribadi mah seneng aja ngeliat orang-orang pada joged pas kita manggung, kadang di bawah kesadaran. Tapi ngeliat banyak respon positif, sih, kita mau jadi lebih dari ini. Apalagi sekarang udah ada manajer gimbal kita (Tito) yang seksi itu kan. Semoga ke depannya OBF lebih jelas aja.

Cos: Siapa tau bisa melejit melebihi Sambalado-nya Ayu Tingting.

Sejauh ini gigs mana yang paling berkesan?

Cos: Fisip Folk Fest anjir, penontonnya jiga zombie.

Gogon: Fisip Folk Fest, Urbrain Vol. 1, sama Makrab Fikom kemaren paling berkesan, sih. Eh, di Sastra Rusia juga seru, sih, acaranya formal tapi kita sukses menggoyang ditambah disawer 57ribu rupiah.

Zulmy: Fisip Folk Fest atuh secara dapet… Huehehehe.

Bentang: Fisip Folk Fest, Urbrain Vol. 1, Gogosori Collabs.

Gogon: Oh iya, kita juga pernah kolaborasi sama Alvin & I dan Musibah di Gogosori.

DSC_0305

Punya cita-cita satu panggung sama siapa?

Gogon: PSP! Sama Warkop tapi nunggu kita udah meninggal. Pengen sama Aura Kasih juga, sukur-sukur digoyang.

Cos: Fix pengen featuring sama Aura Kasir!

Bentang: Sabi tuh Aura Kasih. Urang mah hayangna sepanggung jeung PMR. Hehe.

Ngomong-ngomong soal goyang, kemarin di dunia skena lagi heboh tentang Polisi Skena. Tanggapan kalian gimana? Mengingat OBF selalu sukses menggoyang semua penonton.

Ibnu: Aku belum belajar semalem, Gon. Takut salah jawab haha.

Gogon: Sebenernya nggak juga, sih, pernah beberapa kali penontonnya diem doang kayak nonton wayang. Tapi masalah Polisi Skena, sih, menurut urang ada dua sebab. Pertama orang yang dateng cuma mau dibilang keren. Padahal mah teu ngarti lagu naon eta. Kedua, band-nya emang nggak memungkinkan melakukan gerakan aduhay.

Bentang: F*ck polisi skena! Kalau OBF naik panggung, mau joged nggak joged bebas. Siapa tau yang nggak joged lagi kena wasir atau ada yang joged karena mabok tapi nggak tau lagunya. Sok weh mangga.

Cos: Hahaha. Mungkin polisi skena kurang seloooow, sebenernya mau joged atau nggak joged yang penting jangan lupa beli rilisan band-nya.

Misalnya kalian disuruh milih sama Tuhan di antara dua hal berikut: Attitude dan Musikalitas. Kalian pilih mana?

Bentang: Attitude.

Zulmy: Attitude.

Gogon: Attitude dalam hal apa dulu? Kalau masalah sopan-sopanan ke panitia dan pendengar kita milih attitude, karena banyak band keren tapi personilnya polontong. Tapi kalau attitude-nya mengenai hal-hal gila di atas panggung, sih, kita bodo amat, karena itu salah satu yang dijual sama OBF.

Ibnu: Attitude.

Cos: Attitude weh kata mamah.

Akew: Attitude. Pokoknya mah kita kalau diundang nggak mau LO kita pusing dan sedih. Sweet.

Cos: Naon ai maneh, Kaisar…

Kalian percaya nggak kalau musik bisa sebagai alat perubahan?

Gogon: Bisa banget. Kalem, alesannya kudu nu alus haha. Contoh aja musik punk sendiri itu kan muncul pertama kali waktu revolusi di Inggris di mana anak-anak punk mayoritas kelas pekerja yang menentang atasannya, kaum borjuis.

Akew: Bisa banget, banyak musisi yang manggung sambil dakwah dan musisi tersebut menulis lirik untuk menyadarkan atau mewakili suara rakyat. Contohnya seperti dosen saya sendiri, Sigit “Tigapagi”, dalam lagu dia yang berjudul Menari, ada lirik “Manusia sekarang terlalu terlena oleh kenyamanan di dunia dan lupa akhiratnya”. Contoh lainnya Iwan Fals. Ya, intinya itu dia kata Gogon, musik bisa mendoktrin audiens ketika dia mendengarkan dan menafsirkannya secara positif maupun negatif.

Selanjutnya ada niat bikin lagu dengan lirik semangat perubahan dan kritik sosial nggak? Atau tetap di lingkaran aman dengan lirik jenaka.

Akew: Mungkin vokalis kami tuh kalau tentang politik. Secara dia jurusan jurnalistik. Kalau saya mah mending jenaka tapi nyoco.

Gogon: Kalau bisa bikin lirik kritis tapi tetep jenaka kenapa nggak hehe. Lagu kedua kita, Balada Si Botak, sebenernya secara nggak langsung mengkritik sistem ospek yang banyak dialami maba-maba sekarang ini. Tapi ya liriknya tetep dibodor-bodorin. Padahal kita semua panitia ospek dulunya haha. Dari yang kecil kayak kampus mungkin ke depannya bisa mengkritik negara.

Menurut kalian lagu apa yang asik didengerin di dalem Primajasa jurusan Cileunyi-Jakarta?

Gogon: Sebentar liat hape dulu.

Ibnu: Elliot Smith, Rhye dan Katchafire.

Gogon: Setelah liat playlist mudik, sih, Doel Sumbang atau Milisi Kecoa. Agak banyak, sih, di hape hahaha. Kojo, sih, Tunggula Tunggu – Monkey Boots. Lagunya buat dia yang menungguku di Jakarta. Tsaaaaah… Etapi Monalisa dan Supir Pesawat sangat-sangat direkomendasikan.

Akew: Edane – Kaulah Segalanya, Dewa – Kangen, jeung Darso – Kabogoh Jauh.

Karena mayoritas personil berambut panjang, ada tips buat pembaca untuk merawat rambut?

Akew: Tipsnya adalah harus punya pacar agar ada yang ngerawat dan ngeramasin. Nuhun.

Gogon: Tipsnya adalah jangan punya rambut gondrong soalnya rambut aing jelek. Nuhun.

Cos: Perawatan rambut biar terus mengkilat laminating weh ke tukang photocopy.

Pesan-pesan buat siapa pun yang baca interview ini?

Cos: Buat lo lo semua yang baca interview ini, asal lo tau aja ye Mona itu gue (ala-ala Bowie latah).

Gogon: Buat kalian yang baca interview ini sampai abis, jangan lupa minum vitamin C.

Akew: Buat lo lo semua yang nggak suka dangdut, niscayalah dangdut musik yang dapet menghilangkan galau.

Cos: Buat kalian yang baca ini, kalau mau keramas ke salon aja ya jangan ke ROI! Radio. Kecuali kalau ROI! Radio mau alih jadi usaha salon plus-plus.

 

Be First to Comment

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *