Press "Enter" to skip to content

“Musca”, Langkah Awal yang (Sangat) Menyenangkan untuk Ruang Publik Kita

Hari Minggu (25/10) warga kota Bandung terbagi jadi dua kubu, antara kubu konvoy Persib dan kubu yang dateng ke Musca. Kebetulan, punten pisan ini mah bukannya nggak ngedukung klub sepak bola kebanggaan Bandung ini, tapi gimana atuh ya, ke Tegalega jauh yaudah aku ke Musca aja yang deket. Acara yang diselenggarakan oleh House The House (HTH) di Hutan Kota Babakan Siliwangi kemarin membuat hutan nggak pernah serame ini sebelumnya.

Dari pintu masuk kita diarahkan untuk menyusuri pepohonan, berasa lagi trekking di mana gitu. Hebat, ini memberikan suatu konsep yang denger-denger, sih, ya world first urban jungle gig. Sok buka google translate weh sorangan. Setelah melewati banyak instalasi yang sangat instagram-able, akhirnya sampai juga di panggung acara utama. Widih keren banget panggungnya!

Acara yang dimulai jam 3 sore ini dibuka dengan penampilan band asal Bandung, Lizzie. Membawakan semua lagu mereka termasuk lagu terfavorit macam Dead River dan Lust Slaver. Cukup terpanaskan dengan semangat dari Lizzie, aku keluar dulu dari arena stage buat cari makan sore. Di area luar ada banyak banget stand makanan dan minuman yang cukup buat ngisi tenaga biar kuat sampai artis puncak. Selain itu ternyata acara Musca ini bukan cuma tentang musik doang, ada juga Forest Cinema yang nyuguhin sensasi nonton film di alam. Hiliwir-hiliwir kena angin.

MUSCA (3)

Selagi masih di luar aku sempetin buat liatin tenda tenant satu-satu, kali aja nemu yang menarik. Di deket tempat nukerin invitation ternyata ada booth pop-up store, tempat kita bisa beli banyak cinderamata dari band yang tampil di Musca ini, mulai dari CD, kaos, totebag, dan poster. Widih, mantap jiwa! Langsung dong aku borong, mumpung ini mah mumpung masih sore jadi stoknya masih banyak. Beres cuci mata, aku balik ke dalem arena, kembali lewatin beberapa booth seperti Niion, Bro.Do, sama Matoa dan instalasi. Ternyata instalasi tersebut bukan cuma buat nilai estetis belaka, namun merupakan hasil kolaborasi dengan Adi Dharma atau yang biasa dikenal dengan nama Stereoflow. Kurang keren apa? Pantes dari tadi banyak yang foto di situ, duh pengen tapi ngantri. Yasudah lah lanjut jalan saja.

Matahari sore makin silau, mungkin karena yang lagi ada di panggung adalah Under The Big Bright Yellow Sun. Membawakan 7 lagu instrumental yang membuat Baksil semakin panas dan penuh. Ada satu hal yang menarik dari penampilan terakhir UTBBYS, mereka menyuarakan gerakan melawan asap sambil memakai masker dengan video “Pak Presiden: Saya Marah!” buatan aktivis lingkungan Chanee Kalaweit sebagai latar belakang.

Jam 5 lebih, sepertinya terjebak nonton di depan panggung karena orang makin banyak maju ke depan untuk ngeliat band yang sudah cukup senior, Float. Hampir mirip dengan UTBBYS, Float juga ikut kampanye gerakan melawan asap dengan bernyanyi sambil menggunakan masker. Memang di acara Musca ini banyak propaganda tentang lingkungan, karena memang tujuan dari HTH sendiri untuk meningkatkan awareness dari anak muda mengenai pengunaan transportasi umum dan pengelolaan lingkungan. HTH sendiri menganggap hal ini dapat tercapai dengan community-based approach.

MUSCA (1)

Setelah jiwa dan raga adem dengan lagu-lagu dari Float, ceileh, Baksil kembali dipanaskan dengan penampilan The Fox and The Thieves. Karena cangkeul jadi aku duduk aja di tribun sambil melihat lautan manusia head-banging ngikutin irama yang bikin suasana hutan Baksil jadi riot. Dengan sindiran-sindiran politik di antara jeda lagu, mereka mampu membawa sarkasme politik menjadi musik yang sangat unik.

Elephant Kind mendapat giliran berikutnya untuk merasakan crowd Musca. Band yang baru pertama kali manggung di Bandung ini sepertinya sudah punya cukup massa karena banyak yang juga ikut nyanyi, termasuk aku hehe. Elephant Kind membawakan beberapa hits dari dua EP album mereka, dan mendapatkan antusias baik dari kubu Bandung.

Dilanjutin sama Barasuara. Kurang edan kumaha. Nggak berlebihan rasanya kalau dibilang banyak dari pengunjung ingin menikmati Barasuara versi live, terlebih bagi mereka yang ketinggalan konser Taifun kemarin. Bener aja, pas para personil naik panggung, pengunjung langsung bertepuk tangan menyambut mereka.

MUSCA (2)

Semakin malam bukan berarti makin sepi, justru malah tambah banyak. Denger-denger ada lebih dari 3000 orang memadati Musca ini. Karena abis ajreg-ajregan pas nonton Barasuara, akhirnya aku memutuskan buat duduk di tribun buat nonton Payung Teduh. Dari tribun beneran keliatan seberapa banyak umat manusia yang dateng, apalah aku hanya butiran debu di depan para performers. Sia-sia aja tadi jojorowokan manggilin personil band, sugan teh all eyes on me taunya di belakang masih ada banyak warga. Hmm ah. Payung Teduh bikin suasana malam yang udah cukup dingin jadi makin dingin. Karena menghindari pakepuk pas baliknya, jadi aku nontonnya nggak sampai selesai.

Sangat menyenangkan dan memuaskan sekali acara Musca kali ini. Bukan cuma lokasinya aja yang unik dan performer-nya yang keren-keren, tapi juga konsep dan pesan yang disampaikan oleh HTH perihal menjaga lingkungan dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan itu ngena banget. Pokoknya kalian yang nggak dateng ke acara Musca kemaren bener-bener rugi deh!

 

Foto: Haruka Fauzia

Comments are closed.