Press "Enter" to skip to content

Muchos Libre Bangkit dari Kubur!

Bangkit dari kubur bukan hanya milik perfilman tanah air. Band lokal juga boleh kayak gitu. Dan itu dicontoh sama band dengan nuanza surf rock slengean, Muchos Libre. Masih ingat ketika jutaan tangisan dari para penggemar duo vokalis dengan topeng menyerupai Rey Mysterio, mengantarkan kepergian Muchos Libre di gigs terakhir mereka, Weekend Show, Maret tahun lalu.

Pentas gembira Saritilawah, Minggu (22/2) kemarin, menjadi tempat penggrebekan kembalinya lagi Muchos Libre menghibur kaum pria dengan keringat lengket yang berbau seukeut. Oh iya, band dengan formasi Bagongtempur (vokal), Korongmentah (vokal), Nos (gitar), Iky Kunjay (gitar), Adie Emo (bass) dan Hilman Hakimimasa (drum) ini udah punya rilisan EP Viva La Libre (2013) dan kaset Todos Los Hombres (2013). Dikenang dengan gimmick-gimmick yang khas dan satanik.

Selepas penampilan mereka, saya penasaran buat nyari tau kenapa mereka muncul lagi. Sayangnya, comeback mereka nggak dihadiri Adie Emo dan Hilman yang posisinya digantikan personel Gorilla Trampoline. Pas di-interview juga cuma bertiga, karena Iky Kunjay keburu cabut menyegerakan sholat isya dan mencari mesjid terdekat. Nih, simak aja.

Apa yang bikin kalian akhirnya berpikir untuk reunian?

Bagongtempur: Pertama, sih, kita ngeliat udah 6 bulan lebih nggak ngumpul. Terus ngeliat skena Bandung, sama dinamika media sosial asa pareum. Sedangkan kita pengen sesuatu yang lebih nge-kick. Kita menunggu selama 6 bulan lebih ini yang lebih anjing dari kita. Tapi ternyata nggak ada.

Korongmentah: Hihihi geuleuh.

Bagongtempur: Bahkan yang mengkritik dan lain-lain nggak ada. Gigs-gigs kecil terkesan mati. Lalu kita juga punya kejenuhan yang emang nggak bisa ditinggalin. Masing-masing sibuk. Bassist kita udah ilang, drummer kita udah mulai sibuk juga. Akhirnya kita merencanakan untuk bergabung kembali dengan personel yang sisa empat.

Korongmentah: Saaya-aya, lah.

Muchos Libre emang dikondisikan main di Saritilawah?

Korongmentah: Sebenernya mah nggak. Si anak-anak teh pengen “reuni lah, hayu balik deui, ngeband, urang geus jenuh”. Tapi kalem, can sataun ieu teh. Dan kebeneran kemarin si Reka (Lekka Footwear, RED) ngajak bikin gigs. Performance-na saha kitu. “Udah weh Muchos lah, Muchos kembali”. Yaudahlah nggak ada pilihan lain. Da mau ngundang yang lain ge kumaha meureun lieur. Jadi sebenernya terpaksa si Muchos maen teh. Da sabenerna mah masih mau bubar. Geuleuh padahal mah hayang maen.

Bagongtempur, Nos: Hahaha.

Bagongtempur: Dua bulan ditinggalkeun ge anjir nge-BBM.

Korongmentah: “Ih kangen aing kangen hayang maen”.

Tapi buat ke depannya bakal terusin main atau ilang lagi gitu?

Korongmentah: Nggak tau tah, ke depannya mah mungkin bakal jarang, karena sibuk. Tapi rencana untuk bikin single baru, album atau blablabla mah ada kepikiran. Sebenernya dari pas bubar juga udah direncanain.

Bagongtempur: Haha direncanain untuk reuni.

Korongmentah: Dan si download code itu teh sebenernya lagu yang dibikin setelah bubar.

Nos: Sebelum, eh?

Korongmentah: Eh sebelum bubar, terus di-record-nya sesudah bubar. Jadi sebenernya mah teuing ieu teh wadul.

Bagongtempur: Ya biar mirip Mocca, lah.

Korongmentah: Ya biar kayak Mocca, sosoan datang teh datang single baru gitu.

Kembalinya garis-garis singkayo.
Kembalinya garis-garis singkayo.

Seneng nggak gigs reuniannya rame?

Korongmentah: Kumaha nya, teuing, sih.

Bagongtempur: Tah si Nos.

Nos: Naon naon?

Bagongtempur: Kalau saya, sih, bergabung bersama yang lain biasa aja gitu. Tapi kalau ngeliat temen-temen masih mengapresiasi mah anjir urang seneng pisan. Sampai istilahnya udah makin gendut kitu nya urang teh. Terus mereka masih punya energi, kita udah nggak punya.

Korongmentah: Kita udah males.

Bagongtempur: Heueuh udah males. Anjir cape kieu aing hoream. Tapi seneng, lah, pokoknya temen-temen masih ada yang nunggu.

Korongmentah: Nya kitu, Nos?

Nos: Teuing, urang cape ngalamun.

Korongmentah: Naon deui?

Naon nya. Tadi kan sempet dibahas tentang gigs kolektif. Seberapa suka kalian sama gigs kolektif?

Korongmentah: Teuing si ieu capruk weh. Urang mah dek kolektif dek rokok, hayu.

Bagongtempur: Iya, sih. Itu mah saya weh hayang ngomong. Maksud saya, selama kita vakum, kita ngeliat bahwa gigs itu harus sama rokok berdampingannya. Sedikit-sedikit harus ada sponsornya.

Nos: Engke mah jeung softex heueuh.

Bagongtempur, Korongmentah: Hahaha!

Nos: Engke maneh ngadahar softex heueuh.

Bagongtempur, Korongmentah: Hahaha!

Bagongtempur: Bukan kita anti. Tapi jangan sampai si kekolektifan teh mati di skena kita. Karena mungkin kita juga ketilep nya dengan, apa lah, jaman sekarang stand up comedy, penulis-penulis gitu kan lagi naek. Dan jaman sekarang tergantung pada sosial media nanaon teh. Nya jadi, apa boleh buat saya berkata begitu. Padahal aing teu mikir nanaon eta haha. Kita pun pernah maen di produk rokok, hanya sekadar ingin main.

Korongmentah: Mencaci.

Bagongtempur: Ingin mencaci dan liat paha SPG.

Bagongtempur bersiap makan rokok yang idup.
Bagongtempur bersiap makan rokok yang idup.

Sampai sekarang merchandise Muchos Libre masih banyak dicari. Ada rencana mau bikin lagi?

Korongmentah: Merchandise rencana teh mau ngerilis lagi yang baru, dengan logo Muchos Libre yang baru. Insya Allah bakal bagus. Dirilisnya cuma 25, di-bundle sama kaset Keram Otot Telinga, demo-demo pas awal Muchos Libre. Jaman-jaman si gitarna fals, naon gitu, si gitarisna ge masih manager kita nu awewe.

Nos: Si Iky karek diajar gitar. Diajar nyetem.

Korongmentah: Naon deui?

Sigana sakitu we lah.

Korongmentah: Oh nggeus. Dek ditanya moal?

Moal ah. Mending nungguin kasetnya rilis aja, lumayan buat koleksi. Yaudah, sampai ketemu di gigs berkeringat selanjutnya, Muchos Libre.

Twitter : @muchos_libre

Soundcloud : soundcloud.com/muchoslibre

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *