Press "Enter" to skip to content

Minat Baca Kita dan Niat Mengubahnya yang Sama-sama Rendah

Berapa banyak dari kita yang kalau baru beli hape itu baca buku manual-nya? Pasti dari 1000 orang cuma 1 orang yang baca, sisanya bilang “lah, paling sama kayak sebelum-sebelumnya, ngapain dibaca lagi”. Eh taunya hapenya meledak. Hehehe. Hmm, atau nggak usah jauh-jauh deh, buku pegangan waktu kalian SMA aja. Mana ada disentuh atau dibaca kalau besoknya nggak ulangan. Menariknya, ketika kuliah, kebiasaan sok paham tersebut masih nggak hilang juga. Diktat kuliah dibeli doang, dibaca nggak. Fotokopi catetan temen tapi tetep aja nggak dibaca. Kita beli itu tuh cuma buat menghadirkan ilusi rasa aman, bahwa seenggaknya kita punya bahan pegangan. Huh!

Di saat yang sama, kalian para senior meneriakkan dengan toa di depan maba-maba sewaktu masa orientasi. “Kalian ini sudah mahasiswa! Bukan lagi siswa! Kalian mengemban tanggung jawab baru! Menjadi agen perubahan! Menjadi manusia unggul yang dapat membanggakan Tuhan, bangsa, dan almamater!” sembari setelahnya menatap IPK yang hanya satu koma.

Sedih memang, tapi ya mau gimana lagi. Itulah potret anak muda yang terbebani petuah orang tua untuk memajukan bangsa. Dari serentetan masalah pendidikan yang ada di Indonesia, membaca merupakan hal yang cukup hangat dibicarakan. Pasalnya, selepas rilisnya ungkapan dari UNESCO perihal peringkat minat baca Indonesia, sontak beberapa media langsung menjadikannya headline, “Minat Baca Masyarakat Indonesia 0,01 Persen”. Kalau udah gini langsung deh patuduh-tuduh.

1

Mengutip dari Harian Kompas, Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 61 dalam urusan minat baca. Gimana nggak, dari 250 juta jiwa, di mana 93% melek huruf namun hanya 1 dari 1000 orang yang membaca buku. Buku yang dilahap oleh pembaca buku juga 28,2%-nya hanya membaca 2 sampai 5 buku PERTAHUN. Lah, jangankan buku, artikel jurnal online aja malas sekali bacanya. Eh, jangankan artikel jurnal deh, kadang artikel di ROI kalau panjang-panjang juga dikomentarin “aduh, orang males bacanya, Al, kalau panjang mah!” Hmm.

Kalau menurut aku, ini sebenarnya masalah kesadaran dari masyarakatnya juga kurang. Mereka punya stigma tersendiri terhadap bacaan yang panjang-panjang. Makanya kalau diperhatikan, orang lebih tertarik untuk baca berita pendek dengan headline menarik seperti yang ada di Timeline Line kalian itu, lho. Nggak salah, sih, sebenarnya, cuman kalau hanya membaca berita pendek macam digest seperti itu, ya, nggak secara komprehensif dong memahami permasalahannya.

Beberapa golongan di masyarakat paham akan rendahnya minat baca yang nggak pula didukung oleh pemerintah setempat. Jangan liat skala nasional dulu deh, kegedean, mending liat Bandung dulu, our beloved city, euy. Di Bandung sendiri jumlah perpustakaan umum juga bisa dihitung pakai jari tangan dan rata-rata hanya diketahui oleh golongan yang aktif berkomunitas di Kota Bandung. Sejauh yang aku tau, selain perpustakaan di universitas, Bandung cuman punya s14, Kineruku, IFI, Goethe, Perpustakaan Gedung Merdeka, dan Reading Lights yang sekarang juga udah tutup. Itu juga jarang banget masyarakat umum yang dateng. Kalau kalian jadi member, pasti keliatan yang muncul dia lagi dia lagi.

Di Bandung sendiri banyak banget komunitas yang bergerak di bidang peningkatan minat baca, namun sering kali tubir dengan “preman berseragam” setempat seperti kejadian di Taman Cikapayang, Agustus silam. Walaupun keinginan masyarakat tinggi untuk meningkatkan kembali kesadaran akan pentingnya membaca, namun sering kali komunitas dan gerakan mikro ini dianggap hama oleh pemerintah dan aparat (yang ngakunya) berwenang. Perpustakaan yang sedikit, harga buku mahal, kewajiban untuk beli buku paket sekolah yang nggak pernah dibaca, dan banyaknya distraksi visual murahan di televisi menjadi salah satu penyokong rendahnya minat baca, dan ini bukan hanya salah masyarakatnya. It’s everyone to blame, it’s a chain problem.

Usaha dari pemerintah juga belum cukup maksimal dalam penyediaan akses ke buku. Desember silam, Ridwan Kamil telah meresmikan sebuah microlibrary di sekitaran Jalan Bima, Bandung. Perpustakaan mini itu tadinya diharapkan bisa menumbuhkan niat baca warga sekitaran yang padat penduduk itu. Gedung perpustakaan yang unik dan tempatnya yang terbuka dan nyaman membuat warga Jalan Bima cukup enjoy dengan kehadiran ruang publik. Sayangnya, kalau aku perhatiin, nih, lebih banyak orang yang main bola di lapangan depan perpustakaan ketimbang berkunjung ke dalam gedungnya. Pertama kali aku ke sini juga aku pikir ini mushala… Pembaca di dalamnya juga nggak begitu banyak, bahkan kalau diperhatiin microlibrary ini agak beralih fungsi dari yang seharusnya menjadi taman bacaan malah menjadi ruang komunal.

2

Orang-orang yang nongkrong seputaran Taman Bima juga cuman sekadar main congklak atau numpang wifi, hmm padahal buku-buku terpampang di depan mereka. Sedih. Selain itu, kondisi perpustakaan yang kurang diperhatikan membuat tempat tersebut hanya menjadi sebuah “spot kumpul-kumpul”. Bahkan fotografer ROI yang maen ke sana beberapa minggu lalu bilang tempatnya pabalatak pisan, nggak rapi, bahkan sampai ada yang ngeliwet di sana… Aduh euy, asa di mana kitu nya, bu? Kurangnya gerakan sosialisasi dari pemerintah maupun LSM setempat juga membuat orang enggan untuk buka buku. Nggak pernah sepanjang delapan tahun tinggal di Bandung kedengeran promosi di megatron atau di radio swasta yang mengiklankan “Ayo kita ke perpustakaan dan membaca buku! Satu minggu satu buku!” atau promosi serupa.

Menariknya, ketika Hari Buku Nasional 17 Mei kemarin, salah satu toko buku besar di Indonesia mengadakan diskon besar-besaran sampai 70% selama 2 hari dengan slogan “Ayo baca buku! Diskon semua buku sampai 70%!”. Wow, kurang menarik apa tuh promonya? Promosi ini juga seolah menjadi jawaban untuk masyarakat menengah ke bawah yang masih menjadikan buku sebagai komoditi tersier. Ekspektasi tinggi ketika mau datang ke toko tersebut, alih-alih melihat antrean panjang di kasir, toko buku tersebut malah lengang seperti biasa. Orang-orang malah sibuk mengantre di toko donat yang kebetulan sama-sama lagi promosi 2 lusin 100k. Antrean untuk perut lebih panjang ketimbang antrean untuk otak. Buku seolah-olah adalah barang mahal yang nggak perlu-perlu amat. Ugh, kesal deh.

Di sisi lain, keabsenan para orang tua dalam mendidik anaknya sewaktu kecil juga berkontribusi pada rendahnya minat baca. Menurut aku, orang tua terlalu sibuk dan terlalu mengandalkan sekolah untuk mendidik anaknya. Mereka juga acuh dengan tontonan yang disuguhkan televisi. Anak-anak terlalu dituntun untuk mengikuti strict rules yang menghambat kreativitas mereka dalam menulis dan membaca. Dilansir dari Huffington Post Canada, membaca dapat mengurangi stres, meningkatkan hubungan orang tua anak lewat bedtime stories, memperkaya kosakata, meningkatkan daya ingat, membuka wawasan, dan meningkatkan kepercayaan diri serta kemampuan komunikasi.

Nah, harus aku ucapin selamat untuk orang yang berhasil baca artikel ini sampai paragraf ini. Yuhuw. Kamu seenggaknya nggak males baca 924 kata sejauh ini. Yuk ah, tingkatin minat baca. Buat target untuk membaca seenggaknya 1 buku selama satu bulan. Buku bisa dari novel roman picisan doyanan remaja atau langsung mamam tuh buku Pengantar Hukum Ekonomi Internasional, mangga… Yang penting, minat baca itu harus dimulai dari diri kita sendiri. Semakin kita baca dan berdiskursus semakin kaya juga informasi kita. Jangan sia-siain deh tinggal di Bandung tapi nggak pernah ikut komunitas atau forum diskusi. Hmm ah, pindah weh sana ke Pluto. Sori garing.

 

Foto: Haruka

Comments are closed.