Press "Enter" to skip to content

Menjadi Artsy di Hari Terakhir “POLYLOGUE”

Dimana ada awal, pasti ada akhir. Sebuah akhir nggak selalu harus memberi kesan sedih akan perpisahan, malahan yang diberikan dari POLYLOGUE: an Interpractice Presentation pada Kamis (30/10) kemarin adalah sisa-sisa imajinasi liar yang bisa kalian representasikan dalam kehidupan sehari-hari. Mendadak sok bijak gini, euy.

Walau nggak terlalu ramai seperti hari-hari sebelumnya, pameran ini masih dapat mengeluarkan magisnya, karena kalian hanya butuh diam, melihat, dan meresapi saja apa yang ada di otak kalian. Contohnya karya dengan judul unreachable, sebuah karya dalam bentuk foto dan video, di dalam videonya sendiri menampilkan koreografi yang selaras dengan lagu dan lirik yang disajikan. Kebayang susahnya bikin kayak gitu, keren banget, kak!

Unreachable.
Unreachable.

Beres muter-muter di lantai dasar, saya langsung naik ke lantai atas, dimana perpaduan antara karya seni dan cahaya yang ditampilkan membuat suatu kompisisi yang menarik dan nggak capek untuk dilihat. Ya, memang karena warna-warna yang dipakai dalam karya-karya di sini nggak mencrang gitu. Biar terkesan artsy dan indie. Eh, lupa, di lantai dasar ada poster Warkop DKI juga yang dipajang, tentu dengan sentuhan masa kini.

Oh, iya, di lantai atas ini, saya punya karya favorit. Biar adil aja gitu sama si lantai bawah, takut lantai atasnya cemburu. Jadi karya yang saya sangat sukai ini, menurut saya bentuknya kayak jadi sebuah bilik dari foto-foto, tampak luarnya kumpulan foto mulut-mulut manusia dan di dalamnya mata-mata manusia. Tapi saya bingung, kok ada headphone ngegantung gitu, pas saya denger cuma ada suara ala-ala band noise yang membuat perasaan saya merinding. Kayak diliatin sama mata-mata di sekitar. Asli, horror coy!

Warkop DKI dengan judul "Kimochi dulu, Kimochi sekarang".
Warkop DKI dengan judul “Kimochi dulu, Kimochi sekarang”.

Intinya, sih, saya senang datang ke pameran POLYLOGUE: an Interpractice Presentation yang dipersembahkan oleh anak-anak Persekongkolan. Walaupun sepi tapi berhasil membuat emosi saya bergulat ketika saya harus meninggalkan ruangan pameran dengan tangan hampa, alias nggak ada yang digandeng. Tapi nggak apa-apa kok, saya bangga bisa merasa artsy dan indie karena pameran ini. Yang ngelewatin pameran ini mah culun! Udah ah, semoga nanti ada lagi pameran yang sejenis. Ciaobella!

Be First to Comment

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *