Press "Enter" to skip to content

Menikmati Kolaborasi Berbagai Kesenian di “Satura 2016”

Cik, warga kreatif, di sini kalian kalau mesen mekdi sukanya paket hemat atau ala carte? Pasti paket hemat kan, soalnya udah sama minum jeung kentangnya. Sama aja atuh, kalau kalian ditawarin ke acara yang serba ada, kenapa harus ke acara yang beda-beda. Lebar ongkos, bensin cuma turun gope. Buat yang demen paket komplit, nih, kasih daaah, ada acara Satura 2016 yang bertempat di Taman Hutan Raya Ir. Juanda (Tahura), hari Sabtu (16/4) kemaren. Acara komplit yang diinisiasi sama barudak Lembaga Kepresidenan Mahasiswa UNPAR.

Sekomplit apa, sih, Satura ini? Nih, ada short movie screening dari peserta open submission dan contributors, talkshow tentang penciptaan karya bersama sineas Paul Augusta dan Anggun Priambodo serta musisi Ade Paloh dan Bemby Gusty dari band SORE, band performance dari Trou dan SORE, photography and poetry exhibition, dan penampilan kolaborasi dari film pendek Trapped karya Farah Shafia dikombinasikan dengan penampilan teaterikal karya Kennya Rinonce dengan judul Lakuna dan kolaborasi audio visual dari HMGNC dan UVisual. UEDAN, baru disebutin aja udah kerasa keren aja. Apalagi kalau kalian ngerasain langsung, beuh.

SATURA (1)

Pemilihan venue yang bisa dibilang rada mahiwal, memberikan pengalaman yang berbeda dari acara-acara sejenis gitu deh. Kapan lagi coba nonton film screening di tengah hutan sambil pakai jas hujan? Tapi untungnya hujan cuma di awal-awal aja. Dengan fokus utama mereka di film, walaupun pemahaman aku tentang film pendek nggak ‘wah’, tapi bisa dibilang film-film yang terpilih serta film-film kontributor sudah sangat mewakili tema Paradox yang mereka angkat. Favorit aku, sih, film Muka’ku karya Niel Castielroy, padahal aku nggak suka film hantu, lho. Nah kalau buat film kontributor, aku suka Missing: A Food Thriller karya Robin Moran. Kenapa? Karena apa-apa yang berbau dahareun mah pasti kena instan-like dari si aku. Si rewog.

Karena judulnya aja udah A film & art event in collaboration with theatre“, nggak asik juga kalau ngomongin kesenian lain yang ada di sini. Salah satu motivasi aku berangkat ke sini adalah penampilan dari Trou dan SORE. Sayang euy, aku nggak keburu nonton Trou mah. Nah, pas bagian SORE main, area amphitheater Tahura udah penuh banget, keliatan pada nungguin doi. Selama sekitar 30 menit, penonton dimanjain oleh lagu-lagu seperti Musim Hujan, R14 dan Sssst…, tapi lagu kojo Setengah Lima nggak dibawain. Sad. Padahal udah ngarep dibawain gitu pas encore. Selain penampilan band di panggung utama, ada juga beberapa performance art lainnya yang tampil di dekat area exhibition, seperti pantomime dari kang Wanggi Hoed, penampilan musik noise-noise-artsy gitu, sama musikalisasi puisi yang pakai backsound musik post-rock gitu. Ens lah bosqu.

SATURA (4)

Setelah semua film beres diputar, di akhir acara menampilkan sebuah suguhan kolaborasi yang menurut aku menjadi highlight dari acara Satura 2016. Bener-bener indah di mata dan di telinga gitu lah, dengan set yang simpel dan cuma berkostum berwarna putih, penampilan teatrikal dan koregrafinya bener-bener stunning. Lebih stunning lagi ternyata teh Amandia HMGNC berbakat juga ikutan dalam performance art-nya! Setlist yang dibawain juga ens banget dan menyenangkan juga bisa ngedengerin lagu-lagu dari album terdahulu, kayak Faithful Dreams, Mindless dan Serenada (Silent). Pokoknya penampilan kolaborasi ini, layak banget dikasih standing applause.

Kudos, barudak LKM UNPAR! Jangan kendor, semoga tahun depan acara Satura ini semakin mahiwal, in a good way tapinya.

 

Foto: Haruka F.

Comments are closed.